This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, October 05, 2009

"PARADE SASTRA ANAK NEGERI"



-->
Dalam Rangka Menyambut Milad FLP Bekasi dan Peringatan Hari Sumpah Pemuda
Lomba membaca dan menulis puisi bagi pelajar SMU/Sederajat,
mahasiswa & umum se-Bekasi dan Karawang, Talkshow HAKI
( Hak Atas Kekayaan Intelektual ) & Bakti Sosial.

Hari : Minggu, 11 Oktober 2009
Pukul : 07.00 Sd. Selesai
Tempat : UNISMA Bekasi Sanggar Anak Negeri
KRITERIA LOMBA PUISI :
-Tema : Pemuda Merah Putih
-Untuk lomba menulis puisi
karya harus asli ciptaan sendiri
-Kirimkan naskah ke :
lombapuisiflpbks@yahoo.com
-Batas pengiriman naskah 8 Oktober’09
Biaya Pendaftaran : Rp 15.000,00
HADIAH :
Trophy dari Walikota Bekasi &
Uang Tunai

Talkshow HAKI (Untuk Umum)
Bersama Narasumber :
1.Santun Maspari Siregar SH, MH.
Ahli HAKI
2.Izzatul Jannah
Penulis Buku “ Padang Seribu
Malaikat ”
3.Afifah Afra
CEO Afra Publishing

HTM : Rp 20.000,00
(Gratis bagi peserta lomba puisi)
Fasilitas : Sertifikat, Snack &
Doorprize Menarik dari sponsor.

INFORMASI PENDAFTARAN
- Vira ( 021-94413110 )
- Nur ( 085221431311 )

Monday, March 02, 2009

TALK SHOW MENERBITKAN BUKU ITU GAMPANG!


Assalamualaikum wr.wb.

Bagi temen-temen yang ingin nambah wawasan tentang cara menerbitkan buku, FLP Bekasi menggelar acara TALK SHOW KEPENULISAN, Ahad 8 Maret di Unisma Bekasi

Pembicara : 1. Ninik Hardini Divisi Penerbitan Gema Insani Press

2. Jonru penulis Buku Menerbitkan Buku Itu Gampang dan Pengelola Milis
Penulis Lepas

Ticket masuk: Pelajar (10.000)
Mahasiswa & Umum (20.000)
(Fasilitas: Sertifikat, snack dan Doorprize menarik)

Daftar sekarang juga, kesempatan terbatas hanya
untuk 200 orang loh!.
Ket: Pendaftaran dapat menghubungi : Vira (081385958780)
Nuraeni (085221431311)

Acara ini di dukung Oleh :
UNISMA Bekasi, Radio Dakta, Gema Insani PRess dan Kimia Farma

Thursday, November 06, 2008

Bekasi Berpuisi 24 Agustus 2008


Salah satu usaha untuk memajukan sastra di Bekasi, FLP Bekasi sebagai organisasi kepenulisan mengelar kegiatan Bekasi Berpuisi. Diikuti 22 peserta dari 10 sekolah lanjutan atas se-kota dan kabupaten Bekasi, acara ini menggandeng beberapa sponsor, seperti majalah MATABACA, Majalah BEKASI KINI, majalah ANNIDA, UKHUWAH CENTER, TELKOMSEL dll.
Ketiga Dewan Juri yaitu Epri Tsaqib (ketua KOMPUS FLP) Budhi Setyawan (Penyair) dan Bang Ane (Penyair) memutuskan:
Juara 1 : Hane Kartika dari SMUN 12 Bekasi
Juara 2 : Tunggal Veronica dari SMAUN 6 Bekasi
Juara 3 : Triana Komala Sari

Saturday, June 23, 2007

Asyik, FLP Bekasi Udah punya Rumcay !!!



Ada yang berbeda dengan suasana dalam mesjid Muhajirin pagi itu. Sebanyak 30 anak asyik mewarnai dan menyimak dongeng. Apa apa gerangan ? Selidik punya selidik ternyata FLP Bekasi menggelar sebuah acara. Yup, dengan segala keterbatasannya, alhamdulillah Ahad 10 Juni 2007 lalu FLP Bekasi mengadakan soft launching Rumah Cahaya Bekasi. Meski bertempat di dalam mesjid Muhajirin dan koleksi buku yang sangat kurang (baru 30 buku), tapi tidak mengurangi antusiasme anak-anak untuk datang dan berpartisipasi dalam acara itu. Berikut reportasenya :Pukul delapan anak-anak mulai berdatangan ke masjid Al Muhajirin. Dari FLP Bekasi : Hayyu, Fanni, Herti menyiapkan alat-alat yang akan dipakai untuk lomba. Dari taman belajar ada Rini dan Teguh yang mengkoordinir anak-anak untuk bersiap mengikuti lomba. Acara dibuka oleh Hayyu dengan mengajak anak-anak membaca majalah dan buku-buku yang sudah dibawa. Lalu, acara dilanjutkan dengan lomba mewarnai. Peserta di bagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkatan kelas. Kelompok pertama terdiri dari pra TK-TK, kelompok kedua; kelas 1 dan 2, kelompok ketiga; 3 dan 4, kelompok empat; kelas 5 dan 6. Ada kurang lebih tiga puluh anak yang mengikuti lomba ini. Selama satu jam, anak-anak asyik mewarnai. Untung saja FLP Bekasi punya fotografer yang siap membantu acara ini. Kita tunggu saja foto-foto hasil jepretan Anif. Setelah selesai mewarnai, anak-anak mendapat snack "Momogi".
Mereka juga diarahkan untuk membaca. Ternyata minat anak-anak itu untuk mebaca cukup besar lho. Jadi nggak salah juga kalau FLP Bekasi membuat Rumcay di masjid Al Muhajirin karena tanggapan dari anak-anaknya antusias. Sambil menunggu hasil lomba, Mbak Ima Penanggung Jawab Rumcay Bekasi membawakan dongeng. Sementara dibalik sana Hayyu, Fanni dan Rini sibuk menilai hasil lomba. Wah…anak-anak serius banget lho dengerin mba Ima dongeng. Mau tau nggak dongeng apa? Serigala dan Tujuh Anak Kambing. Di akhir dongeng, Mbak Ima memberi pertanyaan, yang bisa jawab dapet Momogi lagi. Akhirnya pengumuman lomba tiba. Ada lima juara yang berhak mendapatkan hadiah. Dari kelompok TK, Salsa menjadi pemenangnya. Dari kelompok kelas 1 dan 2, Ira menjadi juara. Kalau dari kelompok kelas 3 dan 4 ada dua pemenang yaitu T.M Riza dan Gisda Andriana. Untuk kelompok 5 dan 6, Windi yang menjadi pemenangnya. Hadiahnya apa sih? Ada buku mewarnai, alat mewarnai sama buku cerita yang sudah dibungkus cantik. Selain itu ada delapan pemenang hiburan ; ada Mumut, Arsyita, Rifana, Shallsa, Tiafitri, Salwa, Annisa dan Sasi. Hadiahnya apa? Ya…Momogi lagi dong…..
Acara ditutup dengan foto bersama di depan masjid Al Muhajirin. Kelihatannya anak-anak sangat gembira. Tentu saja acara ini tidak akan berjalan lancar tanpa bantuan semua pihak. Dari FLP ada Hayyu, Fanni, Mba IMa dan Anif yang sudah sibuk-sibuk. Ada juga Aria dan Yoyong yang datang memberi semangat. Dari Taman Belajar ada Rini dan Teguh. Tentu saja dengan dukungan Bapak Abdullah, pengurus DKM masjid Al Muhajirin yang mengizinkan kami memakai masjid ini. Dan tidak lupa buat Ali Reza yang menjembatani FLP Bekasi dengan pihak Masjid Al Muhajirin. Ada perasaan puas jika melihat wajah-wajah kecil itu ceria. Mereka adalah investasi kita di masa depan. Sebisa mungkin kita isi kehidupan mereka dengan kegembiraan dan ilmu yang bermanfaat yang akan menjadi pedoman mereka di masa depan. Oleh karena itu, jangan lupa untuk berpartisipasi menjadi donator atau menyumbang buku bacaan untuk Rumcay Bekasi. Insya Allah menjadi akan investasi teman-teman di akhirat nanti. Karena buku tersebut adalah ilmu yang sangat berguna bagi mereka. Kalaubukan kita siapa lagi? (herti)

Foto Dok. : Anif J.

Saturday, April 21, 2007

Seminar Penulisan Skenario Bersama Salman Aristo


Ditunggu Kedatangannya yah! Tanggal 6 Mei 2007 di kampus UNISMA Bekasi. Sampai ketemu disana!!! See yaa ...

Monday, March 26, 2007

Inagurasi II FLP Bekasi: Menggali Ilmu di Rumah Dunia


Berbeda dengan Inagurasi pertama yang berlokasi di Bekasi, kali ini FLP Bekasi berkunjung ke Rumah Dunia, Serang. Berangkat pukul 8.30 WIB, ngaret satu setengah jam dari rencana semula, sempat membuat beberapa anggota BT. Tapi rasa BT itu sirna, setelah dua jam kemudian sebuah bangunan bertuliskan Rumah Dunia terpampang di depan mata. Beberapa relawan menyambut di pintu gerbang. Rupanya mereka sudah menanti kedatangan kami. Terbukti beberapa kursi sudah diatur rapi di bawah pohon.

Cuaca cukup panas siang itu, namun tiupan angin sepoi-sepoi mampu membuat suasana menjadi sejuk. Herlan, ketua panitia, membuka acara. Diawali dengan sambutan dari Ketua FLP Bekasi, acara berlanjut dengan bincang-bincang santai mengenai Rumah Dunia. Komunitas nirlaba yang peduli terhadap dunia pendidikan dan budaya ini didirikan sejak 2002 oleh Gola Gong dan istrinya Tias Tatanka. Beberapa relawan yang hadir menceritakan awal keikutsertaanya dalam kegiatan Rumah Dunia. Roni, salah satu relawan menceritakan pengalamannya. Awalnya ia merasa tertipu karena bukan diajari menulis. Alih-alih ia dijadikan petugas kebersihan yang menyapu Rumah Dunia. Tapi justru di situ letak keunikannya. Gola Gong berharap semua orang yang belajar di Rumah Dunia juga memiliki sense of belonging terhadap tempat itu. Beberapa komentar lucu terlempar dalam diskusi ringan itu, membuat suasana menjadi santai.

Setelah sholat dan makan siang, diskusi bersama Gola Gong yang menjadi agenda utama inagurasi dimulai. Dengan tema “Asyiknya Jadi Penulis”, Gola Gong menceritakan pengalaman-pengalamannya sebagai penulis dan tak lupa memberikan beberapa tips. “Untuk menjadi penulis yang baik, kita jangan malas melakukan riset. Baik riset lapangan maupun riset literature,” petuah Gola Gong.

“Seperti layaknya seorang pendekar, riset lapangan dan kegiatan membaca merupakan proses pengisian tenaga dalam bagi seorang penulis. Sehingga ketika kita menggoreskan pena, ide-ide itu akan keluar secara otomatis,” lanjutnya.

Diskusi berjalan satu jam dan diakhiri dengan pemberian plakat dari FLP Bekasi kepada Rumah Dunia.

Acara selanjutnya adalah games. Anggota dibagi menjadi tiga kelompok. Tiap kelompok diberi tugas untuk membuat yel-yel dan kemudian memperagakannya di depan. Tugas kedua adalah menghayal. Masing-masing kelompok diberi pertanyaan: apa yang akan mereka lakukan jika menjadi Harry Potter, Cinderella dan Dora. Beberapa jawaban lucu terdengar, membuat suasana menjadi seru. Ada yang mengatakan jika ia menjadi Cinderella maka ia akan mengganti sepata kacanya menjadi sepatu kets warna ijo.

Sementara yang menjadi Dora ingin menghilangkan poni rambutnya karena Dora culun kalo pake poni. Ada yang ingin Dora memakai baju muslimah

Tidak kalah serunya dengan kelompok yang menjadi Harry Potter. Seorang anggota menjawab ia akan mengganti pesawat terbang dengan sapu terbang, sehingga peristiwa hilangnya Adam air tidak akan terjadi lagi. Ada juga yang ingin menghentikan luberan lumpur Lapindo.

Puas bergelak tawa, acara selanjutnya adalah pemberian sertifikat. Sertifikat pertama diberikan kepada Via Madini sebagai anggota tanpa absent. Yup, selama 8 kali pelatihan, Via selalu datang, padahal rumahnya di Kalideres loch.

Two thumbs up for Via!

Waktu telah menunjukan pukul 15.30, saatnya kami harus pulang.Foto bersama merupakan hal yang wajib. Maka masing-masing anggota berebut tempat agar bisa berpose di sebelah Gola Gong. Beberapa anggota yang kurang puas malah meminta foto berdua dengan Mas Gola Gong.

Seandainya ketua FLP Bekasi tidak menghentikannya, mungkin acara foto-foto itu bisa berlangsung sampai malam.

Ada sedikit guratan lelah di wajah beberapa anggota, namun dalam hati mereka mungkin bertanya, kapan ada jalan-jalan lagi ya?

Saturday, May 27, 2006

Tampilan Baru???

Tampilan baru blog FLP Bekasi ini mudah-mudahan bisa mengobati kerinduan temen-temen yang pengen 'nengok' ke mari tapi enggan karena tampilan lama yang membosankan dan mungkin agak berantakan. Mohon maaf nih, saya sebagai tukang utak-atik blog sudah lama sekali tak berdaya mempercantik blog ini. Asisten dadakan pun ditunjuk, anif. Tapi rasanya agak 'gatel' juga kalau ngebiarin blog ini terlantar. Jadilah saya pilih satu template gratisan yang cukup enak dipandang, utak-atik sebentar, jadi deh.

Kami berharap pengunjung bisa memberikan komentar berupa saran or kritik. Yang mau gabung di FLP bekasi juga silakan aja. Yang mau gabung di milis, silakan kirim email ke alamat yang tercantum di blog, nanti akan di-add.

Segitu dulu basa-basinya. Met lihat-lihat 'rumah kami' yang baru. Enjoy! [DH]

Wednesday, March 22, 2006

Pertemuan Rutin FLP Bekasi, Ahad 12 Maret 2006

Selasar Perpus Darul Ulum.
Vita, Yani, Ruzi,Ayi dan Dian sudah berada di sana , ketika saya datang.

“Gimana sih Wiek katanya mo datang jam setengah satu” ucap Vita.
“He…he… iya sorry, macet sih” jawab saya dengan wajah bersalah.

Ngobrol-ngobrol sambil menunggu peserta yang lain, tiba-tiba muncul Mba Ima dari Bogor. Beliau adalah pengurus Taman Baca Mutiara Ilmu. Pukul 13.30, diskusi di mulai walau hanya ada 8 peserta. Vita, pengisi materi itu memulai diskusinya. Materi yang dibahas siang itu adalah Konflik dan penokohan. Vita menayakan arti konflik. Ada yang menjawab konflik adalah pertentangan, pokok permasalahan, isi suatu cerita. Jawaban tersebut benar dan pastinya tanpa konflik sebuah suatu tulisan tidak dianggap sebagai cerpen. Pada cerpen sebaiknya konflik hnaya satu sedang pada novel konflik boleh lebih dari satu. Pembahasan konflik di cerpen juga ga perlu bertele-tele, singkat saja yang penting jelas.

Vita mengambil 3 buah cerpen sebagai contoh. Yang pertama cerpen berjdul “Ketika Kabut memeprtemukan kita’ yang ditulis oleh Wiwiek Sulistyowati. Cerpen ini di nilai konfliknya kurang dalam (hiks..hiks... pantesan cerpen ini selalu ditolak ama majalah ternyata konfliknya masih kurang) Cerpen kedua berjudul Senja menangis oleh Hadi. Cerpen ini mempunyai konflik yang tertalu banyak dan bertumpuk. Cerpn ini bercerita tentang seorang anak bernama Ali yang ingin mengetahui identitas orang tuanya. Ternyata, wah, masalahnya kompleks banget. Cerpen ketiga judulnya "Angin" oleh Rina Rosdiana. Cerpen ini bercerita tentang seorang cowok yang belum menikah sampai umur 40 th. Usut punya usust ternyata cowok ini punya hobi unik yaitu buang angin alias kentut. Bagi dia kentut itu sebuah prinsip yang musti dipegang, jadi seandainya ada cewek yang ga suka, ya udh putus aja.

Vita juga menjelaskan tentang penokohan dan akshirnya masing-masing peserta disuruh membuat contoh paragrap yang menekankan pada karakter sebuah tokoh. Sebelum diskusi selesai, Nadiah memberikan PR berupa menulis karangan dengan tema teman tapi mesra atau konflik yang terjadi ketika seseorang hamil di luar nikah. Selain itu ada juga tuas menulis artikel tentang RUU anti Pornografi dan pornoaksi. Tinggal pilih aja kok, gampang kan...... Jangan lupa dikerjain yak !!!! [wiek]

Monday, March 13, 2006

Inaugurasi FLP Bekasi: Siap-siap!!!

Calon anggota Muda FLP Bekasi yang mengikuti Training Kepenulisan FLP Bekasi sejak Januari lalu sebentar lagi akan mengakhiri rutinitas mengikuti pertemuan rutin dua pekanan. Setelah 4 bulan mengikuti training, mereka akan diseleksi untuk diketahui siapa saja yang berhak di-inaugurasi dan kemudian menyandang jenjang “Muda” di FLP Bekasi. “Diseleksi” kesannya memang agak seram, ya? Tapi sebenarnya mudah, dan hanya membutuhkan komitmen dan partisipasi calon anggota untuk mematuhi aturan yang telah ditetapkan pengurus.

Selama 4 bulan, mereka semua tak boleh absen lebih dari 2 kali. Bila absensi melebihi yang ditolerir, maka hak calon anggota untuk mendapat predikat jenjang “Muda” telah hilang, walaupun tetap diperbolehkan untuk hadir pada tiap pertemuan. Menyerahkan sebuah tulisan utuh (baik berupa cerpen maupun artikel), merupakan syarat berikutnya. Dua hal tersebut sepertinya memang tak terlalu sulit untuk dipenuhi, namun pada kenyataannya tidak begitu. Mungkin ada yang berpikir bahwa peraturan yang diterapkan terlalu ketat dan sebagainya. Namun begitulah kedisiplinan yang dicoba untuk dibangun oleh pengurus FLP Bekasi. Bahwa menjadi bagian dari Forum Lingkar Pena berarti berpartisipasi dalam bidang kepenulisan, keorganisasian, dan pengkaderan. Tiga hal tersebut pastinya akan mengembangkan potensi para anggota sendiri, dan menjadi penguat Forum Lingkar Pena sebagai organisasi pengkaderan penulis.

Tidak hanya calon anggota Muda yang mengikuti inaugurasi nanti. Sejak berdiri pada tahun 2004 lalu, FLP Bekasi memang belum pernah melaksanakan inaugurasi, walaupun training kepenulisan sudah berjalan rutin. Maka, pada waktunya nanti, seluruh anggota lama dan pengurus akan ikut di-inaugurasi bersama dengan calon anggota baru. Hal ini dilakukan untuk merapikan proses kaderisasi sekaligus sebagai upaya bersikap adil kepada seluruh anggota. Jangan salah, setiap pertemuan rutin, sebagian besar anggota lama dan pengurus juga mengikuti acara bersama-sama dengan mereka. Yah, karena kami semua sadar bahwa ilmu yang sudah ‘dikantongi’ baru sedikit sekali, dan jalan untuk menjadi seorang penulis masih sangat panjang.

Beberapa orang calon anggota sudah mulai bertanya-tanya: inaugurasi itu ngapain aja sih? Tenang …! Jangan membayangkan bakal disiram air comberan atau disuruh lari-lari keliling hutan. Inaugurasi I FLP Bekasi saat ini sedang dipersiapkan oleh pengurus, dan pastinya akan menjadi acara kejutan bagi anggota. Hingga hari H nanti, sepertinya kami tidak berkenan untuk membagi bocoran sedikit pun. Yang jelas, mungkin tidak akan ada acara mewah dan super heboh. Sederhana saja. Silaturahmi, itu sudah pasti. Yang lainnya? Wah … lihat saja nanti!

Sudah bulan Maret, berarti 6 bulan lagi FLP Bekasi akan menapaki tahun kedua. Para pengurus ternyata sudah hampir 2 tahun menjabat dan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan cinta dan jerih payah mengembangkan forum tercinta ini. Tapi, tanpa adanya sebuah regenerasi, organisasi tidak akan melangkah maju dan mungkin akan mengalami kondisi stagnan. FLP Bekasi sangat membutuhkan ide-ide cemerlang dan semangat baru untuk memandu kiprahnya dalam dunia kepenulisan. Khususnya dalam hal kepengurusan. Lalu, pengurus lama akan meninggalkan FLP Bekasi begitu saja? Tentu tidak! Isi kepala kami saat ini sedang berputar-putar merencanakan sesuatu yang baru lagi. Mau tahu? Tungggu saja! [DH]

World Book Day 2006-on Thursday

Kamis, 2 Maret 2006

Saya tergopoh-gopoh memasuki gerbang Depdiknas sambil menenteng sebuah kantong plastik besar dan dua buah styrofoam yang sudah disulap menjadi mading foto dan buletin. Jam menunjukkan pukul 10.30 (kira-kira), dan sepertinya FLP’ers lain yang sudah datang sejak pukul 9 pagi menunggu saya. Ada satu buah missed call dari Koko Nata. Semua barang-barang display dari FLP Bekasi memang saya yang pegang. Feeling guilty juga. Hanya karena sudah lama nggak berangkat dari Bekasi (saya kan sekarang tinggal di Bintaro), dan lupa bahwa tol selalu saja MACET, akhirnya jadi telat satu setengah jam.

Saya teringat tadi malam, tiba-tiba HP saya berdering dan muncul nomor tak dikenal.
“Halo, Vita, ini Dala, Vita.” Mbak Dala menelpon untuk menanyakan apa saya bisa membawa karpet atau tikar. Kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan detail stan dan barang-barang apa yang bisa dipajang. Mbak Dala menyambut antusias ketika saya bilang bahwa saya akan bawa dua styrofoam berisi foto dan buletin. Beliau juga menanyakan soal brosur berisi profil FLP pusat, dan akhirnya menyambut antusias lagi ketika saya bilang saya sudah memfotokopi brosur FLP Bekasi (karena hanya itu yang ada) dan buletin MOZAIK. Hmm … tampaknya persiapan menghadapi World Book Day sangat kurang. Saya bersyukur bahwa tahun ini sie dokumentasi dan buletin FLP Bekasi menjalankan tugasnya dengan baik (thanks to Nadiah n all MOZAIK Crew!). Setidaknya tahun ini kami berhasil menyumbangkan sesuatu, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ruangan Hall A Depdiknas dari kejauhan sudah tampak ramai. Spanduk-spanduk dibentangkan sejak di luar pagar sampai pintu masuk. Lokasi yang sangat strategis. Menginjakkan kaki di ruangan besar itu, saya terpana. Waaah … sudah ramai juga! Malah kursi-kursi di depan panggung utama (yang tepat berada di tengah-tengah ruangan) sudah terisi hampir penuh. Stan-stan pameran tersusun membentuk huruf U mengelilingi panggung, dan sepertinya nyaris tak ada yang masih kosong. Saya kebingungan, duh … stan FLP sebelah mana ya? Bukannya berjalan ke meja informasi, saya malah berjalan ke arah kiri, mengitari hampir semua stan sambil celingukan mencari-cari. Para penjaga stan tersenyum-senyum melihat saya. Wah, ada penjaga stan yang datang telat nih, mungkin begitu pikir mereka. Dulu, jaman saya masih suka jaim, saya pasti sudah panik dan berjalan mengendap-endap. Tapi karena sekarang sepertinya saya sudah lebih plegmatis, maka saya dengan cuek berjalan pelan-pelan sambil membaca satu per satu nama stan tersebut. Akhirnya saya kembali ke depan, dan bertanya ke bagian informasi. Yap. Ternyata stan FLP tercinta itu letaknya di sebelah kanan, di samping panggung, hampir di pojok pas di sebelah stan Rumah Dunia (yang penataannya cukup keren, disamping mereka dapat stan yang agak lebih luas). Sampai di sana, saya nyengir lebar pada Echa dan Elshi (dua orang rajin dari FLP Jakarta) dan berkata, “Hihihi … aku hampir nyasar, nih!”

Dua buah styrofoam yang saya bawa (dengan cemas, karena takut nggak boleh dipajang) ternyata disambut gembira oleh mereka. Stand mungil itu ternyata masih bisa dihias lebih heboh lagi. Sebuah kursi panjang, dua buah kursi standar dan sebuah meja tak terlalu besar yang semuanya terbuat dari bambu. Semua benda itu telah diisi oleh buku-buku pameran pinjaman dari Rumah Cahaya. Tak ada tempat duduk, dan akhirnya Koko Nata (FLP Depok) membeli alas duduk yang terbuat dari busa warna-warni yang bisa dilepas-pasang. Saya menempelkan mading foto dan buletin FLP Bekasi di sebuah pembatas stan (yang juga terbuat dari bambu). Pas sekali memang, dan rasanya panitia cukup mengerti bahwa semua peserta pasti membutuhkan tempat untuk memasang mading atau entah apa. Tadinya saya pikir kedua styrofoam itu akan diletakkan begitu saja di lantai bersandarkan kursi atau meja. Dan karena stan tersebut pas berada di bawah perpustakaan, tembok yang menjadi pemisah antara lantai satu dan perpustakaan dapat digunakan untuk menempelkan sesuatu (dan kedua orang rajin itu pasti sudah susah payah menempelkan buku-buku dari RumCay dengan double tape hingga terpajang dengan manis). Jadi lokasi dan bentuk stan sebenarnya sangat nyaman dan cukup fasilitas. Tadinya saya mendapat informasi bahwa stan tidak dapat dihias banyak sebab sangat sempit, dan tidak ada tempat untuk memajang sesuatu. Wah, lain kali tim survey musti lebih jeli lagi memberi informasi.

Dengan penuh kesederhanaan dan sedikit kreativitas (lagi-lagi dari Echa, Elshi, dan akhirnya kami semua turut membantu), stan itu telah siap. Tapi sepertinya kami semua tidak bisa bersempit-sempit di dalamnya, sebab akan menghalangi orang-orang yang akan masuk.

Orang-orang berdatangan, walau belum terlalu banyak. Kami membagikan profil FLP Bekasi, MOZAIK, dan pembatas buku dari LPPH. Ketika ada yang bertanya tentang FLP, saya, Koko, atau Evin (bener nggak tulisannya?) dari FLP Jakarta, menjawab sebisa kami, dan memberikan nomor kontak FLP Pusat dengan menuliskannya pada brosur, kertas yang mereka bawa, atau di balik pembatas buku. Sebab yang tertera di brosur FLP Bekasi yang nomor kontak kami saja. Sebuah teguran lagi untuk persiapan yang lebih matang. Tapi saya sendiri, terus terang saja, sangat senang menghampiri-menjawab-dan berpromosi ini itu pada pengunjung stan.

Seorang bapak berumur sekitar 50-an tahun menghampiri stan, dan bertanya pada Fitta atau Nonon (dari FLP Bekasi) yang langsung memanggil saya. Beliau mengaku berasal dari Komunitas Radio (sebuah komunitas independen yang entah resmi entah tidak). Setua itu beliau masih siaran dan katanya akan melaporkan kegiatan di WBD ini termasuk beberapa stan yang menarik.

“Oh, iya, saya akan membacakan profil stan pameran termasuk Lingkar Pena ini.”

Aha! Saya mendapat peluang menjalin relasi lagi. Dengan bersemangat saya menceritakan kegiatan FLP secara umum, cabang-cabangnya, dan lain-lain. Beliau tertarik sepertinya. Dan berkata,

“Dari dulu saya sudah menulis. Sejak kelas 4 SD. Tapi sekarang sudah tidak menulis lagi. Yang jelas saya sangat mendukung kegiatan membaca dan menulis seperti ini. Forum Lingkar Pena ya … bagus. Bagus sekali.”

“Sekarang nggak nulis lagi? Dimulai lagi dong, Pak …” ujar saya.

“Ya … ya … saya akan menulis lagi.” begitu katanya. Dan ia pun berpamitan, setelah sebelumnya mengatakan akan menghubungi kami suatu saat nanti.

Beberapa orang yang bertanya untuk diri sendiri, mewakili instansi atau untuk kepentingan lain, mereka yang meminta ijin untuk mengambil gambar untuk koleksi atau membuat liputan, semuanya adalah peluang untuk menjalin dan melebarkan jaringan kepada komunitas lain. Sebuah peluang bagus sekali untuk lebih ‘memasyarakatkan FLP’, begitu pikir saya. Tetapi kemudian saya memperhatikan kondisi stan itu (yang sampai sore belum terpasang sebuah logo pun), lalu beberapa orang penjaga stan. Teringat Fitta dan Nonon yang beberapa kali memanggil saya untuk meladeni pengunjung (wajar sih, mereka memang anggota baru), atau Echa yang berkata, “Harusnya yang jaga stan itu orang-orang yang te-pe (=tebar pesona). Nggak kayak kita yang nggak bisa te-pe.” Betul juga, pikir saya. Sehingga pengunjung akan tertarik (atau nggak enak buat nolak dan akhirnya masuk), mendapatkan brosur, dan melihat bahwa FLP sudah membuahkan banyak sekali buku-buku. Saya ingat seorang perempuan muda yang berkomentar,”Jadi itu semua buku-buku dari penulis FLP?” sambil menunjuk kursi-kursi dan tembok yang dipenuhi buku. Itu belum semua, batin saya.

Selepas istirahat dan salat, saya berjalan-jalan berdua Nonon mengitari ruangan besar yang semakin panas karena mulai dipenuhi pengunjung. Walau tidak sepenuh ketika datang ke Bookfair, tapi saya benar-benar bersemangat. Rasanya seperti ada di surga … hehehe. Saya sangat suka berada di antara buku-buku dan orang-orang yang menyukai buku. Dan beberapa stan memang ditata dengan sangat menarik. Stan dengan penataan terunik menurut saya adalah stan klub penggemar Lord of The Rings (entah apa nama perkumpulannya) dan stan klub penggemar Karl May. Si penjaga stan LoTR bahkan mengenakan jubah abu-abu dengan tudung kepala yang dibuka, menghias pintu masuk dengan gerbang daun, memajang beberapa souvenir khas LoTR, buku-bukunya, dengan standing banner yang cukup besar. Demikian juga dengan klub Karl May, yang menebarkan buku-buku edisi lama dan baru, versi komik dan novel, terbitan dalam dan luar negeri, serta sebuah lantai kosong berwarna kotak-kotak hitam-putih (seperti lantai kamar mandi) dengan sebuah kakus mainan di atasnya dengan sebuah benda berwarna aneh menyerupai otak manusia. Tulisan di bawahnya kira-kira berbunyi “kalau tidak membaca maka otak anda seperti ini”. Saya cengengesan memandangi kakus itu. Hebat sekali idenya.

Begitulah. Kadang sebuah peluang akan pergi ketika kita tak cekatan menangkapnya. Tapi sekali lagi saya menyayangkan tidak adanya koordinasi FLP Wilayah DKI Jakarta dan sekitar untuk WBD ini (maksud saya secara resmi atau diprogram). Walau mungkin, menurut Koko, ini adalah tugas FLP Pusat, tapi saya sendiri menganggap wilayah DKI-lah yang seharusnya dengan otomatis merasa bertanggung jawab akan pengalihan tugas tersebut. Apalagi event seperti ini akan berulang tiap tahun. Bukan hanya itu, saya juga menyayangkan sedikitnya (atau bahkan tidak ada?) inisiatif pengurus FLP Wilayah DKI Jakarta dan sekitar (yang baru melakukan satu kali koordinasi atau pertemuan pembentukan atau apalah namanya, selama beberapa bulan sejak terpilihnya ketua) untuk berkoordinasi (mengenai hal ini dan lainnya) ketika sang ketua sedang berhalangan. Sayang sekali, ya. Tulisan ini sekaligus menegur diri saya sendiri. Bagaimanapun, ini kan amanah …. Semoga kita semua bisa berbuat lebih baik lagi.

Sama sekali nggak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.35 ketika saya melirik jam, dan saya langsung berlari kecil kembali ke stan FLP. Segera berpamitan ke seluruh penjaga stan FLP (yang sedang asyik duduk membaca buku, atau bengong), sebab jadwal bus Trans Bintaro yang akan lewat adalah pukul 14.50. Terlambat beberapa detik saja, maka saya harus menunggu lagi sampai sore. Kata Echa, “Tumben banget ada bus tepat waktu kayak gitu.” Saya pun memamerkan jadwal bus Trans Bintaro yang selalu saya bawa ke mana-mana. Lalu saya pun meninggalkan empat orang cewek manis itu. Echa dan Elshi harus menunggu Koko kembali dari Depok (katanya mau cetak standing banner), sebab penjaga shift kedua belum jelas. Sabar ya Cha, Shi, … kalian mustinya dapat penghargaan anggota FLP ter-rajin. Hehehe….[DH]

Tuesday, March 07, 2006

World Book Day 2006-on Sunday (last day)

Minggu, 5 Maret 2006, Pkl. 12.30 WIb
Gedung utama Diknas tampak meriah dengan kehadiran beragam buku dan tentu saja pecinta buku. Di depan panggung, beberapa adik kecil tampak duduk santai menikmati dongeng yang disampaikan seseorang di atas panggung. Beberapa kali terdengar suara riuh mereka menirukan apa yang diucapkan kakak pendongeng. Saya dan Wiwiek langsung menuju stand FLP yang berada di sisi kanan panggung. Sudah ada Jonru, Koko dan Deny Prabowo. Stand memang terkesan kosong, karena ternyata hampir semua property sudah berpindah ke sebuah tiang yang ada di depan stand. Memang sih, lebih strategis. Beragam buku diletakkan di kursi dan meja yang disandarkan di tiang itu. Tak ketinggalan sejumlah foto yang bercerita tentang kegiatan FLP secara keseluruhan.
Tapi... eit, di mana ya property FLP Bekasi? Tidak ada tempelan sterofoam di tiang, kursi atau meja. Kenapa saya cari sterofoam? Karena kata yang bikin - Vita -, property FLP Bekasi dibikin dari sterofoam. O..ow.... dan akhirnya saya menemukannya, diletakkan di bagian bawah tiang, di samping kursi. Hm... jadi sedikit tidak terlihat dibanding saudara-saudaranya yang lain...
Ada 2 sterefoam. Yang 1 tentang mozaik, 1 lagi foto yang bercerita banyak tentang bagaimana semangat dan happy-nya para FLP'ers Bekasi. Duh, sayang ya... g bisa mejeng di tempat yang lebih strategis.
Sesaat kemudian, kita sempat ketemu dengan Nadia dan sempat berfoto ria...! Hi hi hi... saya bilang ke Wiwiek saat itu, anak Bekasi, kalau g jadi penulis, ya bakal jadi model.. :-p
Bosan hanya berdiri di depan stand, saya dan Wiwiek berkeliling mengunjungi stand-stand lainnya. Dan ini dia yang ingin saya dan Wiwiek jadikan oleh-oleh utama!
Kami berkunjung ke stand Yayasan Mitra Netra. Saat ini mereka punya kegiatan : "SERIBU BUKU UNTUK TUNANETRA". Intinya nih... kita2 diminta sukarela 'mengetik ulang' 1 buku koleksi pribadi, lalu dikirim ke Yayasan Mitra Netra. Nah... nanti oleh mereka, hasil ketikan kita ditransfer ke bahasa braile. Jadi, saudara kita yang tunanetra itu... bisa ikutan baca buku-buku kita. Tahu kan... tidak semua buku juga diciptakan untuk para tunanetra ?
Saya yakin, FLP'ers Bekasi mau berbagi kebahagiaan dengan mereka. Caranya mudah kok. Kita informasikan ke mereka buku apa yang mau kita ketik. Kalau buku kita belum ada yang kirim, berarti bisa kita lanjutkan . Tapi kalau sudah ada yang kirim, berarti cari buku yang lainnya. Nah, setelah dapat konfirmasi, kita bisa isi formulir dan langsung ketik ulang deh bukunya. N segera kirim sesuai dengan janji kita.
Untuk jelasnya, kontak aja ke :
Yayasan Mitra Netra,
Cp :Indah Intantila / Firdaus
Pendaftaran online : www.mitranetra.or.id/ebook
Hm... coba deh banyangin senyum manis mereka ketika membaca buku hasil ketikan kita ... [rh]

Dear all,

Banyak sekali yang harusnya diposting di sini. Salah satunya adalah event World Book Day 2006 di Depdiknas yang baru saja berlalu. Yang sudah saya tulis laporannya, namun apa daya, warnet Rp5000/jam yang koneksinya lumayan cepet ini ternyata nggak ada satu pun kompu yang ada floopy disknya.

Ya sudahlah ... next time saya kembali ke warnet yang Rp5000/jam tapi lumayan lemot dan musti sabar-sabar...demi posting laporan-laporan pertemuan yang sudah tertunda sekian lama. Maaf ya...

Monday, October 03, 2005

Ahad 2 Oktober 2005: Sebuah Catatan

Ahad, 2 Oktober 2005

Pukul 08.00 WIB, saya dan teman-teman dari FLP Bekasi dan juga SMU Muhammadiyah sudah bersiap-siap di tempat acara: SMU Muhammadiyah 9 Bekasi. Halaman sekolah tampak lengang. Gedung SMU pun terlihat sepi, kecuali di satu ruang besar yang terletak di lantai 2. Ruang aula yang akan menjadi tempat acara berlangsung pun masih sepi. Ketika saya menjenguk ke dalam, hanya terlihat Irshad (ketua pelaksana acara dari FLP Bekasi), Ikhwan (ketua tim teknis dari SMU Muhammadiyah), dan sekitar dua orang lainnya. Pandangan saya pertama kali tertuju pada backdrop ruangan, yang dibuat keroyokan oleh teman-teman dari SMU Muhammadiyah, yang tampaknya hampir-hampir tidak bisa dipasang. Backdrop sederhana itu dibuat dari gabus putih berbentuk segiempat yang ditempeli huruf-huruf yang dilapisi karton warna-warni. Saya kemudian ingat perkataan Ninies dan Ikhwan ketika rapat terakhir, bahwa backdrop itu mereka buat sendiri dari sisa bahan-bahan yang ada di sekolah, sehingga tidak perlu membeli lagi. Klise memang, kami kekurangan dana. Saya lantas menggigit bibir, backdrop itu … jantung saya berdetak keras, membayangkan kekecewaan dari beberapa orang yang akan hadir. Tapi saya segera lupa akan pikiran itu.

Ruang aula yang sebenarnya terdiri dari 3 kelas dijadikan satu itu terlihat cukup luas. Saya tidak memikirkan apakah nantinya ruangan itu akan terisi penuh atau tidak. Saya, dan juga mbak Rahma yang baru saja datang, langsung turun lagi ke bawah, tempat pendaftaran peserta, untuk memeriksa apakah ada hal-hal yang kurang.

Kardus-kardus konsumsi menumpuk di pojok tangga dekat pintu masuk. Tempat pendaftaran yang terletak mepet ke tangga, sempit, dan sedikit terganggu dengan letak tempat itu yang berdekatan dengan tempat sampah. Tumpukan majalah ANNIDA untuk souvenir peserta … saya sedikit membayangkan para peserta yang harus berdesak-desakan masuk ke dalam, membeli tiket, dan entah kepanikan apa yang mungkin akan terjadi. Saya kemudian bergegas memeriksa lokasi bazaar. Enam buah meja yang disusun menjadi tiga stand bazaar. Hari masih pagi, mungkin siang nanti teman-teman yang bertugas menjaga stand bazaar tidak akan seceria sekarang. Tempat terbuka, panas pastinya.

Saya berkeliling ke depan sekolah, memerhatikan sekali sebuah spanduk hijau yang tergantung di sisi depan gedung itu. Saya kembali teringat pada backdrop di ruang aula, dan terngiang percakapan dengan beberapa orang panitia teknis saat rapat dan malam sebelum acara melalui telepon.

“Mbak, spanduknya terlanjur dicetak nih … dan nggak ada logonya,”
“Aduh! Tempel aja kalo gitu, ya. Nanti diprint, trus langsung ditempel aja, nggak apa-apa kok, yang penting ada.”
“Mbak, emang penting banget ya nyantumin logo? Tulisannya emang musti ada?”:
“Uang konsumsi yang kemarin harus diganti segera, Mbak? Kayaknya kita kekurangan dana nih, Mbak!”
“Mbak, majalah beres, bazaar beres, sound system beres, pokoknya udah semua.”

Pukul 9 kurang sekian menit, mbak Rahma masih terlihat bolak-balik di ruang aula, dan kemudian turun lagi ke tempat pendaftaran. Ninies dan Ilham, yang akan menjadi MC acara, terlihat sedikit gugup, malah kertas contekan mereka sempat hilang! Pembaca tilawah dan sari tilawah tidak hadir, dan akhirnya digantikan (dengan sedikit paksaan) oleh Maulana (anggota FLP Bekasi, yang ditelpon mendadak dan dipaksa datang). Peserta yang berseliweran di lokasi bazaar dan di ruang aula, matahari yang mulai terik, panitia teknis yang berkali-kali menghampiri mbak Rahma untuk bertanya ini-itu, sepertinya semua mulai gugup.

Pukul 10 kurang sekian menit, semua pembicara hadir. Mas Boim yang sampai lebih dulu, dan rombongan dari LPPH langsung naik ke ruang aula.

Kedua MC acara terlihat makin gugup, mbak Rahma sibuk meyakinkan mereka bahwa semua akan beres. Irshad, yang tampak sedikit lebih tenang, juga ikut mundar-mandir. Saya mencari-cari mbak Nanik, yang ternyata sedang berbicara dengan sie dokumentasi (yang terbengong mendengarkan mbak Nanik). Jantung saya berdetak kencang,

"Mbak Nanik ..." saya menyapanya.
"Vita! Seharusnya saya temuin kamu dari tadi! Vit ..."

Yap. Setiap pekerjaan yang telah direncanakan, ternyata pasti menyimpan sebuah kekurangan. Tapi kali ini rupanya cukup fatal dan mengecewakan. Bagi saya, dan juga panitia lainnya, bukan lagi kecewa. Rasa tak enak, bersalah, bingung, dan resah yang tersimpan sampai akhir acara. Satu hal yang benar-benar luput dari perhatian kami semua sampai di persiapan akhir acara: mencantumkan logo sponsor pada spanduk. Hiks ....

Hingga pukul 11, acara berlangsung cukup meriah. Mas Boim dan mbak Asma sepertinya menjadi favorit peserta, dengan semangat dan keterampilan mereka membawakan acara. Acara yang dibuka dengan pembacaan cerpen oleh Birulaut cukup memikat peserta. Selanjutnya, acara talk show yang dipandu oleh mbak Asma sangat memberikan inspirasi dan masukan berharga untuk semua peserta dan juga anggota FLP Bekasi sendiri. Terutama ketika mendengar pengalaman dari Deny Prabowo dan Leyla Imtichanah, yang diperkenalkan mbak Asma sebagai penulis-penulis muda yang cukup produktif.

Di penghujung acara, LPPH membagikan doorprize berupa buku-buku terbitan LPPH bagi beberapa peserta yang terpilih atas tulisan terbaik mereka pada tugas yang telah diberikan saat acara. Panitia yang juga telah menyiapkan hadiah bagi peserta akhirnya memberikan beberapa pertanyaan ringan, yang dijawab dengan berebutan. Pameran buku-buku terbaru dari LPPH pun menarik peserta dan panitia, bazaar diserbu!

Pukul tiga sore, panitia teknis masih sibuk membereskan ruang aula dan lokasi bazaar. Semua tampak lelah. Bagaimanapun, kami semua sangat bersyukur. Terima kasih untuk semua yang telah mendukung acara.



FLP Bekasi thanks to ...

Assalamu’alaikum wr wb.

Alhamdulillah …
Pada Ahad, 2 Oktober 2005 kemarin, telah dilaksanakan FLP Bekasi Goes to School di SMU Muhammadiyah 9 Bekasi.

FLP Bekasi khususnya, dan juga seluruh panitia acara, mengucapkan TERIMA KASIH kepada seluruh sponsor dan pendukung acara. Acara yang telah direncanakan cukup lama ini akhirnya bisa terlaksana juga, walau dengan banyak sekali kekurangan di sana-sini. FLP Bekasi dan juga teman-teman panitia teknis dari SMU Muhammadiyah 9 Bekasi berharap acara ini dapat memberikan manfaat bagi para peserta, dan terutama hikmah yang besar sekali bagi kami semua untuk dapat menyelenggarakan acara berikutnya dengan lebih baik lagi.

THANKS TO:

LINGKAR PENA PUBLISHING HOUSE – sebagai sponsor utama acara
Untuk mbak Nanik, mbak Nita, mbak Asma, mbak Leyla, mas Birulaut, mas Boim, dan seluruh rekan-rekan dari LPPH, terima kasih atas semua bantuan untuk acara ini. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekurangan yang ada, mohon maaf bila telah mengecewakan, semoga LPPH berkenan memaafkan kekurangan kami tersebut dan kami sangat berharap di lain kesempatan kita dapat menjalin kerja sama lagi.

SMU MUHAMMADIYAH 9 BEKASI
Kepada IRM Muhammadiyah 9 Bekasi, kepada Pimpinan Cabang dan Daerah Muhammadiyah Bekasi, kepada Kepala Sekolah beserta seluruh staf guru dan karyawan, kepada seluruh teman-teman;adik-adik murid SMU Muhammadiyah 9 Bekasi; terima kasih atas kontribusinya, pengorbanan serta semangat kalian dalam menyelenggarakan acara ini.

SMU 1 Bekasi
Khususnya teman-teman dari KANSAS SMU 1 Bekasi, dan staf guru yang mendukung acara ini, terima kasih atas dukungannya. Semoga di lain kesempatan kami dapat menyelenggarakn acara serupa di SMU 1 Bekasi.

DAKTA FM
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk menyiarkan Talk Show sebagai sarana promosi acara, dan setiap bantuan yang telah diberikan untuk acara ini.

Majalah ANNIDA
Terima kasih atas bantuan pemberian majalah ANNIDA sebagai souvenir bagi peserta acara.

Syaheed dan Percetakannya (namanya apa ya?)
Terima kasih untuk bantuan pembuatan spanduk acara.

Para donatur
Mohon maaf bila tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih atas bantuannya.

Teman-teman FLP Bekasi, yang turut hadir untuk meramaikan acara.

Dan pihak-pihak lain yang mungkin belum disebutkan
Terima kasih yang sebesar-besarnya.


Semoga di acara FLP Bekasi Goes to School berikutnya kami dapat memperbaiki segala kekurangan dan menyelenggarakan acara ini dengan lebih baik lagi.

Wassalamu'alaikum wr wb
Panitia Acara FLP Bekasi Goes to School

Monday, August 15, 2005

"Miss Chatting"

“Kamu mau chatting lagi, Ra?”

Eh…dia malah senyum-senyum sendirian. Tangannya masih sibuk membereskan buku-buku dan memasukkannya semua ke dalam tas.

“Memangnya kamu ada janji chatting jam berapa sih? Sekarang? Emangnya penting banget ya, Ra?”

Rara menoleh padaku sebentar, lalu mengedipkan matanya, dan kembali sibuk dengan tasnya.

“Huuh..! Dasar centil!” Kataku kesal. Memangnya enak dicuekin ?!


Ketagihan chatting?? Owh, No!!! Begitulah Lindi, seorang cewek manis yang masih duduk di bangku SMA. Awalnya, ia bisa dibilang gaptek dan tidak mengenal internet sama sekali. Ternyata hobi chatting itu 'ditularkan' secara tidak sengaja dari sahabatnya, Rara, dan segera menjadi kegiatan favorit Lindi hampir setiap pulang sekolah. Sampai ketika Lindi 'terjebak' pada rayuan gombal para teman chatting yang sebenarnya tidak ia kenal. Gimana perjuangan Lindi belajar chatting? Apa yang akhirnya dapat 'menyembuhkan' Lindi dari 'demam chatting'?

Baca aja sendiri!!! Jangan sampe ketinggalan, ya!!!

"Miss Chatting"

(karya DH Devita)

dalam buku

"I Love U SoMad"

Antologi Milad LPPH 2005

Penerbit: Lingkar Pena Publishing House



Image hosted by Photobucket.com


ps. segera satronin toko buku terdekat!



Tuesday, August 02, 2005

Hampir Sebulan Lagi...

Ahad, 31 Juli 2005,

Untuk yang ke sekian kalinya, pertemuan rutin berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Sekitar pukul satu siang, saya telah duduk bersila di selasar perpustakaan Darul Ulum Islamic Center Bekasi. Siang bolong, langit tak tampak cerah, pertanda akan hujan. Dalam hati, saya bertanya-tanya, siapakah saja yang akan hadir nanti. Jadwal Ahad itu cukup padat: bedah cerpen dan akan disambung dengan rapat panitia FLP Bekasi Goes to School.

Sekitar sepuluh menit kemudian, saya sudah ditemani oleh mbak Rahma. Dan kami sedikit banyak membahas konsep acara yang memang jadi tanggung jawab berdua. Lalu beberapa orang mbak-mbak yang manis muncul, ragu-ragu bertanya, "Lingkar Pena, ya?" Wah, ternyata 'pendatang baru' lagi. Dan hari itu kami ditemani oleh enam orang peserta baru. Selamat bergabung, semuanya! Jelas-jelas semakin besar harapan pengurus akan regenerasi di bulan September nanti.

Cerpen berjudul "Ada Puyang di Kampung Silam", karya Hadi Hariyanto. Menarik. Berani. Unik. Dan diskusi berjalan cukup padat akan masukan positif buat Hadi. Entah apa yang ada di benaknya, saya jadi teringat Gavin dan Lina Nurfalah. Dua orang yang sudah sempat 'dibantai' pada forum ini, bedah cerpen. Memang tak sering dilakukan, sebab jadwal pemberian materi untuk kelompok Muda dan Madya saja sudah cukup sedikit porsinya. Catatan tambahan bagi saya pribadi: perbaiki sistem kaderisasi.

Wiwiek, si pemberi komentar pertama. Ha. Rupanya cewek yang 'gila buku' ini sudah berkembang pesat sekali. Terus terang, saya agak terpana mendengarkan komentar-komentarnya yang disampaikan dengan tajam dan tegas. Saya tersenyum kemudian, sambil sedikit berbisik-bisik dengan mbak Rahma, "Udah makin jago dia," dan berbisik sendiri dalam hati, "Wah, bisa nih jadi pengganti gue," Haha...sorry, Wiek! Tercetus begitu aja, sih.

Nia, termasuk newcomer juga, tapi sejak awal minat dan komitmennya yang besar pada dunia tulis-menulis dan FLP sangat terlihat. Terbukti juga dari kesudahan acara tersebut, sekali lagi Nia menyerahkan naskahnya.
You go, girl!

Chris, juga pendatang baru, yang kalem dan adem-ayem, tapi saya yakin komentar sederhananya dibuahkan dari pikiran yang mendalam. Chris kelihatan begitu serius dan menikmati diskusi hari itu. Low profile sekali, walau saya tahu, Chris bukanlah seorang pemula. Benar saja. Satu buah judul cerpen yang diserahkannya telah memikat saya seketika. Nyala semangat itu tertuang di sana. Saya sudah mencatatnya baik-baik, satu lagi nama seorang 'calon penulis' yang pasti akan saya beli buku-bukunya kelak (yang satu lagi juga FLP'ers Bekasi, seorang yang selalu bisa merangkai judul tulisan yang begitu menarik hati).

Yang sedikit membuat kaget adalah antusiasme dari enam orang newcomers itu dan dua orang adik-adik dari SMU 1 Bekasi. Komentar dan tanggapan mereka tak kalah berbobotnya (fresh, habis ikut pelatihan sih ya?!). Saya kembali tersenyum-senyum, berdoa dalam hati, mudah-mudahan regenerasi ini berjalan lancar. Otak ini bermain-main, berbagai rencana dan email teman-teman di milis FLP berputar-putar. Kepengurusan mendatang harus lebih baik!

Hadi menerima banyak sekali kritikan. Tapi tampaknya tak pudar cahaya itu di matanya. Ia makin sering menelpon dan mengirim sms kepada saya. Pernah suatu malam, nama seorang Djenar tersebut dalam diskusi kami. Lelah, tapi saya yakin itu berharga.

Rapat kami, deru itu makin bergemuruh dalam dada saya. Ah, teringat hampir setahun lalu. Tak ada Wiwiek, mbak Rahma, Naila, Hadi, Chris, dan seorang Irshad. Panitia tak bisa dihitung. Cuma ada saya, dan bang Komar. Rupanya kekuatan yang tak seberapa itu menghasilkan sekian teman-teman yang begitu saya cintai kini. September, hampir sebulan lagi....


-Vita -

Wednesday, June 01, 2005

[INFO] Laporan Pertemuan Madya 29 Mei 2005

Assalamu'alaikum wr wb

[First of all, maaf karena baru sempet 'laporan' hari Rabu ini, semoga belum 'basi'...]

Ahad, 29 Mei 2005, pertemuan kelompok Madya FLP Bekasi kembali diadakan. Dengan sedikit berdebar, saya dan mbak Rahma memperhitungkan bahwa yang akan hadir pada pertemuan tersebut tidak banyak. Sebab beberapa anggota Madya yang dikonfirmasi menyatakan tidak bisa hadir. Tetapi, seperti biasa, saya berusaha menghubungi anggota Muda via sms, toh mereka pun berhak dan menyatakan keinginan untuk hadir. Memang, pertemuan kedua kelompok Muda dan Madya tersebut punya target sendiri-sendiri, namun tidak menutup kemungkinan untuk menghadirkan seluruh anggota dalam kedua pertemuan tersebut. Sekitar 4 orang anggota Madya yang hadir, dan sekitar 8 orang sisanya adalah anggota Muda.

Bahasan pada hari itu adalah mengenai 'Sudut Pandang dalam Penulisan Cerita/Cerpen' oleh Azimah Rahayu. Saya memang sengaja 'menyimpan' tema-tema sulit untuk dibahas oleh 'yang lebih berpengalaman'. Salah satunya adalah Azimah Rahayu, mantan Ketua FLP DKI dan kini menjabat sebagai pengurus pusat FLP. Saya pikir, sayang sekali anggota Madya banyak yang tidak bisa hadir. Sebab, target saya memang untuk segera meng-upgrade mereka, supaya kelak dapat lebih termotivasi berkarya dan dapat mengkader kelompok Muda dan anggota-anggota baru.

Siang itu, saya mendapat sms dari Yeni. Katanya, "Mbak, kita udah banyak yang ngumpul nih, mbak di mana?" Ketika menerima sms itu, saya sedang dalam perjalanan. Memang telah menyatakan akan terlambat sebelumnya kepada mbak Rahma, sebab acara rutin saya sedang tak bisa ditinggal. Rupanya mbak Rahma pun terlambat hadir, termasuk sang pengisi, yaitu mbak Azi. Namun nampaknya sekitar pukul setengah dua, pertemuan dilangsungkan dengan cukup lancar.

Sekitar pukul setengah tiga sore, saya tersenyum-senyum mendatangi 'kerumunan kecil' yang sedang rapi duduk bersila di pelataran masjid Islamic Center Bekasi, sambil masing-masing memegang kertas dan alat tulis. Semuanya serius menyimak tuturan kata dari mbak Azi yang, seperti biasa, begitu bersemangatnya menjelaskan materi. Oleh-oleh yang tersimpan di dalam tas pun urung saya keluarkan.

Sedikit me-review apa yang disampaikan mbak Azi mengenai 'Sudut Pandang dalam Penulisan Cerita'. Ada 3 jenis yang dikatakan sebagai point of view/sudut pandang tersebut, yaitu (1) Sudut Pandang Orang Pertama, biasa dicirikan dengan penggunaan tokoh 'aku' dalam cerita, (2) Sudut Pandang Narator Tahu Segala, biasa dicirikan dengan tokoh-tokoh yang dapat 'dibaca pikirannya' oleh pembaca cerita. Artinya, pembaca dapat mengetahui apa 'isi hati dan pikiran' atau emosi dari para tokoh tersebut (lebih dari satu tokoh), sebab diberitahukan oleh si narator/penulis cerita, (3) Sudut Pandang Orang Ketiga, yaitu ada satu tokoh sentral yang menjadi 'pusat'nya. Bisa dilihat dari satu orang tokoh yang 'dieksplor' oleh si penulis lebih dari yang lain. Termasuk menampilkan 'emosi' atau 'isi hati' si tokoh, sedangkan tokoh yang lain tidak.

Setelah pemaparan materi, seperti biasa, diadakan simulasi menuliskan paragraf cerita. Mbak Azi berusaha membahas satu per satu karya yang sudah dibuat, dan kemudian dikaitkan dengan bahasan. Cukup menarik, sebab disertai juga contoh-contoh novel atau cerpen.

Pertemuan diakhiri sekitar pukul setengah empat. Peserta yang ternyata kelaparan (hehehe...) menyerbu kacang bali yang saya bawa dan seplastik gorengan.

Menghadiri pertemuan kemarin, saya jadi optimis, bahwa FLP Bekasi memiliki 'penerus' yang cukup serius dan sepertinya regenerasi kepengurusan dapat dilakukan dengan lancar pada bulan September nanti. Bisa jadi, kelompok Muda atau teman-teman yang baru jadi anggota akan berkembang lebih cepat dibandingkan mereka yang lebih dulu mendaftar. Bagaimanapun, sekali lagi, kita semua harus memperhatikan FLP tidak hanya dari luar saja, melainkan dari sisi 'kepenulisan', 'keorganisasian', dan 'keislaman'nya. Semoga FLP Bekasi dapat terus memperbaiki sisi internal sekaligus memperluas hubungannya ke luar. Aamiin.


Wassalamu'alaikum wr wb
*Vita*

Thursday, May 26, 2005

[CURHAT] Oleh-oleh dari Bali

Sore itu begitu melelahkan. Rasanya ingin cepat-cepat sampai di penginapan, mandi, dan istirahat. Wah, pasti tak terkira nikmatnya! Kalau saja tak ingat permintaan kedua adik manis yang kutemui siang tadi, pasti kantuk yang menyerang akan berakhir lelap hingga malam.

Masih dengan songket india yang membelit pinggang hingga kaki, hak sandal manik-manik hitam yang kukenakan membawaku mundar-mandir sambil celingukan ke seluruh penjuru ruangan. Sampai kira-kira satu jam sebelum acara berakhir, handphone-ku bergetar,

"Mbak, tunggu Aya sampai datang ya, please...Aya kangen banget, pokoke jangan pulang dulu"

Satu jam lewat, akhirnya si cantik itu datang bersama seorang lagi kawannya. Aya dan Novi, dua orang anggota FLP Bali. Ini kali kedua kami bertemu, sebelumnya di Munas FLP di Kaliurang, Yogya. Kangen. Sepertinya lelah itu terusir pelan-pelan.

"Mbak, kapan bisa ketemuan dengan anak-anak FLP Bali?"
"Wah, iya ya?! Kalian kapan ada pertemuan? Maaf ya, kemarin nggak sempat. Ada acara keluarga sampai malam."
"Sore ini aja, Mbak. Kami ada rapat evaluasi di DSM (Dompet Sosial Muslim)."

Aku terkesiap. Ups, sore ini? Belitan songket hijau muda itu terasa semakin kuat, menjalarkan pegal-pegal ke seluruh bagian kaki. Rasanya badan ini akan remuk, mengingat tadi malam baru selesai acara pukul sebelas malam, mengantarkan seluruh tamu pulang dari rumah mertua. Fiuh! Tapi kalau tak hari ini, kapan lagi?

"Oke deh, nanti sore. Pukul berapa mau jemput?"

Senyum lebar menghiasi wajah Aya. Duh, jadi tambah semangat. Biarlah, lelah itu menanti sebentar lagi.

Sekitar pukul 4, Novi sudah stand by di atas motornya di depan KFC Kuta Square. Wah, naik motor, diboncengi akhwat pula. Jantung ini seketika menghentak-hentak. Kabarnya si manis ini suka ngebut pula. Hup, baca bismillah saja...

Pertemuan dengan pengurus FLP Bali yang direncanakan di kantor DSM Bali, akhirnya harus berpindah tempat ke Mushola Tawakkal. Musholla bertingkat yang sering digunakan untuk acara-acara pengajian, atau sehari-harinya digunakan sebagai TK atau SDIT. Sampai di tempat parkir di depan mushola, terlihat tiga sosok laki-laki, yang rasanya familiar sekali. Wah, ini pasti FLP'ers Bali yang kulihat dari jauh di gedung tadi siang. Masih dengan seragam yang sama, jaket mahasiswa dan celana panjang.

"Maaf, Mbak. Tempatnya harus pindah. Ternyata mushola dipakai ibu-ibu pengajian."

Duh, Novi. Si manis itu harus mengantarku dan kemudian menjemput Aya untuk sampai di DSM, tempat kami akhirnya memulai pertemuan. Terengah-engah, pukul lima sore. Bayang-bayang keletihan ternyata tak hanya menggelayut di wajahku. Toh mereka juga dalam kondisi yang sama.

Akhirnya, dimulailah. Pertemuan seru selama kurang lebih 2 jam, dengan jeda shalat maghrib. Hanafi, sang Ketua FLP Bali, tak henti-hentinya bertanya ini-itu, macam interograsi saja. Mereka, para ikhwan itu, duduk berjejer di hadapanku, Aya, dan Novi. Niat hati ingin menggali informasi dan mencari inspirasi dari aktivitas dan deklarasi yang baru dilangsungkan FLP Bali. Tapi akhirnya harus menyerah juga, biarlah mereka berpuas-puas dulu. Mulai dari Hanafi, Ali, Didi, sampai Aya dan Novi, semuanya melontarkan berbagai pertanyaan. Mulai dari FLP Bekasi sampai Eramuslim. Sharing, sekaligus jadi bahan evaluasi untuk diri sendiri juga. Sudah sejauh manakah kiprah FLP Bekasi?

Pengurus FLP Bali hanya terdiri dari 6 orang, yang mengaku belum patut disebut sebagai penulis. Kehadiran mereka di Munas kemarin rupanya telah menimbulkan semangat yang begitu besar (pun terlihat dari berapi-apinya Hanafi menerangkan ini itu) untuk membangkitkan kembali FLP Bali. Mereka mencoba mencontoh apa yang sudah dilakukan oleh FLP Yogya, termasuk soal struktur kepengurusan hingga kegiatan yang akan dilakukan, dan ingin menjadikan FLP Bali seperti FLP Kaltim, yang telah mengakar hingga ke masyarakat. Terbukti dari upaya mereka untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Termasuk dengan DSM Bali, yang telah merelakan tempatnya dijadikan 'basecamp' atau tempat pertemuan bagi para FLP'ers ini. Sebuah kerja sama yang cukup baik, FLP Bali turut andil dalam pembuatan dan pengelolaan majalah yang akan diterbitkan oleh DSM Bali dalam waktu dekat ini.

Hanafi dan Novi menceritakan panjang lebar bagaimana mereka melakukan audiensi ke beberapa pihak, di antaranya Diknas (yang kini katanya sudah mengakui keberadaan FLP Bali), MUI, sampai ke Bank Syariah Mandiri cabang Bali. Subhanallah...terharu, dan rasanya semangat itu terpompa kembali ke dalam benak ini. Termasuk rasa malu yang diam-diam merayapi hati. Mereka, adik-adik tercinta itu, dengan segala kesibukan dalam aktivitas belajar dan organisasi, ternyata pun telah terjun bekerja mencari maisyah, dan kini menambahnya dengan menjadi pengurus FLP Bali. Subhanallah...subhanallah.... Saat itu, rasanya ingin cepat-cepat pulang ke Jakarta kemudian menelpon mbak Rahma dan Wiwiek!

Menjelang pukul 7 malam, pertemuan diakhiri. Dibekali semangat serta banyak sekali ide di kepala ini, dan tak ketinggalan, selembar kartu nama Hanafi-sebagai pengurus FLP Bali! Kartu nama? Wah, sampai lupa menukarnya dengan kartu nama sendiri. Tercengang cukup lama. Duh, subhanallah…berkali-kali kubisikkan dalam hati. Jadi teringat komentar Hanafi mengenai FLP Bekasi yang harus menyewa tempat hingga sekitar dua ratus ribu per hari, “Dua ratus ribu? Itu sih murah, Mbak.”

Jadi tersenyum sendiri. Begitulah. Bila ada semangat dan kemauan untuk maju, mungkin segalanya akan terasa mudah dan pasti bisa dilalui.

Wednesday, May 18, 2005

[info] Pertemuan Muda, Ahad 15 Mei 2005

Alhamdulillah, Ahad tanggal 15 Mei 2005 kemarin pertemuan kelompok Muda FLP Bekasi telah dilaksanakan dan berjalan cukup lancar.

Peserta yang hadir sekitar 15 orang, termasuk saya dan mbak Rahma (betul kan, mbak?). Ada beberapa 'wajah baru' yang bikin pertemuan jadi tambah ramai. Beberapa orang yang memang minggu sebelumnya telah menghubungi saya via telepon atau sms rupanya menepati janji untuk datang.

Ada Hadi, karyawan Pemda Bekasi, asal Lampung. Beliau ini yang menelpon saya malam-malam, dan bercerita panjang lebar mengenai keinginannya untuk jadi penulis dan hobinya membaca novel. Mudah-mudahan pertemuan kemarin bisa nambahin semangat ya, Hadi.

Ada Christian, dari Kampung Dua. Beliau ini aktivis teater loh! Sudah sekitar 7 tahun berkecimpung di dunia teater, dan sempat menulis naskah/skenario film, tapi belum sempat difilm-kan. Wah, modal yang cukup lumayan untuk jadi penulis ya, Chris!

Ada Herti, sepertinya si mbak ini tahu FLP Bekasi dari blog-nya FLP Bekasi ya. Hehehe. Walau datang terlambat, tapi mudah-mudahan bisa mengikuti pertemuan dengan baik.

Ada Yenni dan Nia. Nia sudah hadir di pertemuan Madya bulan kemarin, dan keduanya pun hadir saat pertemuan Muda bulan kemarin, yang tidak berjalan efektif itu. Yenni sempat sakit typhus ya? Tapi alhamdulillah kemarin sudah sehat dan bisa hadir. Ada persamaan nih antara Yenni dengan Adnan, keduanya sama-sama penggemar Rumi, kata Nia. Wah, bisa nyambung lah kalau ngobrol ya?!

Ada bu Juariah dan anaknya yang cantik, Isma. Sebenarnya yang ingin ikutan itu Isma, tapi karena masih malu-malu, akhirnya sepanjang pertemuan, bundanya lah yang lebih banyak bicara.

Tema pertemuan kemarin adalah mengenai "Menggali Ide". Dengan segala keterbatasan, diadakan simulasi penulisan 'ide' dalam bentuk satu paragraf cerpen, dan kemudian paragraf ide tersebut dibahas bersama. Karena waktu yang sempit, sampel yang diambil hanya sedikit. Yaitu dari tulisan Hadi, mbak Nita, dan bu Juariah. Seru juga.

Hadi menuliskan ide mengenai pelecehan Alquran di penjara Guantanamo. Cukup banyak juga yang menanggapi dan berusaha menggali ide yang belum disampaikan pada paragraf pembuka tersebut. Sempat juga membahas sedikit mengenai diksi, terkait dengan tanggapan dari Nia mengenai paragraf awal yang 'kurang greget'.

Bu Juariah menulis mengenai 'seorang istri nelayan yang suaminya berlayar hingga ke Aceh dari pulau Jawa dan hilang terbawa tsunami'. Setelah bu Juariah membacakan paragrafnya, si kecil Isma langsung menyahut, "Kenapa musti sampe ke Aceh? Kenapa bisa ke Aceh?" Wah, kritis banget si kecil ini ya. Pada 'calon cerpen' bu Juariah, kami sedikit membahas mengenai kelogisan cerita.

Mbak Nita, si penulis cerita anak, berusaha menggali ide mengenai 'ikan pepes yang hilang'. Unik dan lucu. Naila bahkan sempat mengusulkan, "Gimana kalo dibuat novel misteri/petualangan aja?" Hehehe...

Pertemuan diakhiri dengan PESTA KUE TART. Asli buatan bu Juariah. ENAK BANGET GITU LOOOHH...!!! Duh, yang nggak dateng super rugi berat deh pokoknya.

Sekian dulu laporannya, see u all on the next meeting yah!!!


-Vita-

Friday, May 06, 2005

[curhat] Yang Tersisa bukan Berarti Sampah!

“Karya-karya FLP tidak akan membuat pembacanya tersesat. Ini sebuah jaminan ! Karena setiap penulis FLP memiliki tanggung jawab moral untuk setiap karyanya. Penulis FLP tidak hanya harus pandai menulis, pintar berimajinasi, tetapi ia harus memahami Islam secara menyeluruh.” Suara lantang mba HTR (kurang lebih seperti itu bunyinya) di setiap workshop kepenulisan yang saya ikuti, tiba-tiba memecah konsentrasi saya di saat mencoba untuk menangkap ‘ikan-ikan’ yang ada di ‘kolam’nya Bapak Hernowo (Buku Mengikat Makna; Kaifa). Duh, tiba – tiba saya merasa berat. Berat di hati, berat di otak. Jujur, Saya nekat menceburkan diri ke FLP karena ingin mencari makanan rohani tanpa harus merasa diceramahi atau didakwahi. Tapi siapa sangka, ternyata di FLP, Saya juga harus bertanggung jawab untuk memberi makan rohani orang lain !

Lalu saya gerakkan jemari sambil menghitung dan mengingat perjalanan waktu dari bulan September tahun 2004 sampai hari ini, 29 April 2005 Pkl. 22.30 WIB. Tujuh bulan Saya selalu hadir di pertemuan FLP Bekasi. Bahkan rela untuk tidak berkata jujur pada atasan di kantor, hanya untuk ikut-ikutan menahan kantuk dan merasakan dinginnya Kaliurang dalam MUNAS FLP beberapa waktu lalu ! (Boys n girls… don’t do this anymore…!) Dan di setiap pertemuan itu pula selalu saya temukan berjuta kekaguman! Saya selalu terkagum dengan FLP’ers yang di setiap kehadirannya selalu membawa sebuah maha karya, kagum dengan Flp’ers yang terus bersuara untuk mendapatkan kepuasan ilmu. Saya kagum dengan FLP’ers yang seakan–akan kepalanya tidak pernah kosong dengan ide dan saya terkagum dengan FLp’ers yang telah memberikan hatinya untuk FLP Bekasi.

Tapi saya melihat diri saya seperti sesuatu yang tersisa di FLP Bekasi. Bayangkan, kehadiran saya di FLP Bekasi selama 7 bulan ini - belum lagi ditambah dengan kehadiran saya di Workshop Kepenulisan di luar FLP - belum ada sebuah karya pun yang berani saya tunjukkan ! (Contoh bagus omongannya Bang O. Solihin nih… hehehe). Setiap pembahasan mengenai kelemahan penulis pemula, pada saat itu pula saya melihat bahwa semua contoh ada pada diri saya. Tak perlu bicara ada berapa kelemahan, tapi satu kelemahan maha dasyat yang dibicarakan namun tidak mau dibahas oleh Bang Bayu Gautama pun ada pada saya : M A L A S (bang Bayu nyerah enggak mau ngebahas karena obatnya g dijual bebas: cuma ada di dalam hati penulis itu sendiri), Namun pernah pada suatu malam, betapa senangnya saya hanya karena sudah bisa mencoret ketergantungan saya dengan sebuah komputer (maksudnya saya MALAS menulis dengan alasan tidak ada komputer di rumah!) dari isi “daftar halangan menulis”. Dengan semangat, saya mengirim sms ke seorang FLP’ers hanya untuk menceritakan bahwa saya sudah bisa menulis hanya bermodalkan kertas HVS kosong dan pulpen seharga tiga ribu rupiah! Hanya masalah sepele ya? Tapi jujur, memang itu yang saya rasakan.

Saat ini, saya sedang mencoba menulis 2 buah cerpen, salah satunya tentang pernikahan di mata 2 orang cowok yang berbeda. Bukannya mandeg nulis, tapi layaknya ciri seorang penulis pemula yang mencari kesempurnaan ditambah lagi ucapan Mba HTR tentang tanggung jawab moral, saya berpikir untuk menunda cerpen itu dulu. Saya butuh lebih dari sekedar imaji. Kata bapak Hernowo, saya harus melejitkan kemauan dan kemampuan saya untuk membaca dan menulis buku. Jadi yang dibutuhkan saat ini adalah membaca buku tentang pernikahan, baru setelah itu menulis buku tentang pernikahan. Atau mungkin sebaiknya praktek dulu ya? Bukankah praktek itu lebih baik daripada teori ? He he he

“Yang Tersisa Bukan Berarti Sampah”

Kenapa saya menulis kalimat ini ? Sebenarnya sih saya cuma mau sekedar berbagi dengan FLP’ers. Mungkin ada yang seperti diri saya (kalau enggak ada pun justru lebih baik!), memposisikan dirinya seperti bagian- bagian yang tersisa… Tapi ibarat daur ulang.. dari yang tersisa pun kini menjadi barang seni eksotik, mahal dan banyak dicari orang! Jangan salah, masuk FLP itu memang BERAT ! Berat karena di dalamnya ada sekumpulan orang–orang pintar seperti kita yang punya banyak rasa CINTA … untuk saudara-saudara kita… Dan rasa CINTA untuk ALLAH tentunya.

Jadi…, terima kasih kepada SANG WAKTU yang telah memperkenalkan Saya dengan FLP. Dan FLP’ers… selamat menjadi “petualang imaji”…!

by Rahma