This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, May 18, 2005

[info] Pertemuan Muda, Ahad 15 Mei 2005

Alhamdulillah, Ahad tanggal 15 Mei 2005 kemarin pertemuan kelompok Muda FLP Bekasi telah dilaksanakan dan berjalan cukup lancar.

Peserta yang hadir sekitar 15 orang, termasuk saya dan mbak Rahma (betul kan, mbak?). Ada beberapa 'wajah baru' yang bikin pertemuan jadi tambah ramai. Beberapa orang yang memang minggu sebelumnya telah menghubungi saya via telepon atau sms rupanya menepati janji untuk datang.

Ada Hadi, karyawan Pemda Bekasi, asal Lampung. Beliau ini yang menelpon saya malam-malam, dan bercerita panjang lebar mengenai keinginannya untuk jadi penulis dan hobinya membaca novel. Mudah-mudahan pertemuan kemarin bisa nambahin semangat ya, Hadi.

Ada Christian, dari Kampung Dua. Beliau ini aktivis teater loh! Sudah sekitar 7 tahun berkecimpung di dunia teater, dan sempat menulis naskah/skenario film, tapi belum sempat difilm-kan. Wah, modal yang cukup lumayan untuk jadi penulis ya, Chris!

Ada Herti, sepertinya si mbak ini tahu FLP Bekasi dari blog-nya FLP Bekasi ya. Hehehe. Walau datang terlambat, tapi mudah-mudahan bisa mengikuti pertemuan dengan baik.

Ada Yenni dan Nia. Nia sudah hadir di pertemuan Madya bulan kemarin, dan keduanya pun hadir saat pertemuan Muda bulan kemarin, yang tidak berjalan efektif itu. Yenni sempat sakit typhus ya? Tapi alhamdulillah kemarin sudah sehat dan bisa hadir. Ada persamaan nih antara Yenni dengan Adnan, keduanya sama-sama penggemar Rumi, kata Nia. Wah, bisa nyambung lah kalau ngobrol ya?!

Ada bu Juariah dan anaknya yang cantik, Isma. Sebenarnya yang ingin ikutan itu Isma, tapi karena masih malu-malu, akhirnya sepanjang pertemuan, bundanya lah yang lebih banyak bicara.

Tema pertemuan kemarin adalah mengenai "Menggali Ide". Dengan segala keterbatasan, diadakan simulasi penulisan 'ide' dalam bentuk satu paragraf cerpen, dan kemudian paragraf ide tersebut dibahas bersama. Karena waktu yang sempit, sampel yang diambil hanya sedikit. Yaitu dari tulisan Hadi, mbak Nita, dan bu Juariah. Seru juga.

Hadi menuliskan ide mengenai pelecehan Alquran di penjara Guantanamo. Cukup banyak juga yang menanggapi dan berusaha menggali ide yang belum disampaikan pada paragraf pembuka tersebut. Sempat juga membahas sedikit mengenai diksi, terkait dengan tanggapan dari Nia mengenai paragraf awal yang 'kurang greget'.

Bu Juariah menulis mengenai 'seorang istri nelayan yang suaminya berlayar hingga ke Aceh dari pulau Jawa dan hilang terbawa tsunami'. Setelah bu Juariah membacakan paragrafnya, si kecil Isma langsung menyahut, "Kenapa musti sampe ke Aceh? Kenapa bisa ke Aceh?" Wah, kritis banget si kecil ini ya. Pada 'calon cerpen' bu Juariah, kami sedikit membahas mengenai kelogisan cerita.

Mbak Nita, si penulis cerita anak, berusaha menggali ide mengenai 'ikan pepes yang hilang'. Unik dan lucu. Naila bahkan sempat mengusulkan, "Gimana kalo dibuat novel misteri/petualangan aja?" Hehehe...

Pertemuan diakhiri dengan PESTA KUE TART. Asli buatan bu Juariah. ENAK BANGET GITU LOOOHH...!!! Duh, yang nggak dateng super rugi berat deh pokoknya.

Sekian dulu laporannya, see u all on the next meeting yah!!!


-Vita-

Friday, May 06, 2005

[curhat] Yang Tersisa bukan Berarti Sampah!

“Karya-karya FLP tidak akan membuat pembacanya tersesat. Ini sebuah jaminan ! Karena setiap penulis FLP memiliki tanggung jawab moral untuk setiap karyanya. Penulis FLP tidak hanya harus pandai menulis, pintar berimajinasi, tetapi ia harus memahami Islam secara menyeluruh.” Suara lantang mba HTR (kurang lebih seperti itu bunyinya) di setiap workshop kepenulisan yang saya ikuti, tiba-tiba memecah konsentrasi saya di saat mencoba untuk menangkap ‘ikan-ikan’ yang ada di ‘kolam’nya Bapak Hernowo (Buku Mengikat Makna; Kaifa). Duh, tiba – tiba saya merasa berat. Berat di hati, berat di otak. Jujur, Saya nekat menceburkan diri ke FLP karena ingin mencari makanan rohani tanpa harus merasa diceramahi atau didakwahi. Tapi siapa sangka, ternyata di FLP, Saya juga harus bertanggung jawab untuk memberi makan rohani orang lain !

Lalu saya gerakkan jemari sambil menghitung dan mengingat perjalanan waktu dari bulan September tahun 2004 sampai hari ini, 29 April 2005 Pkl. 22.30 WIB. Tujuh bulan Saya selalu hadir di pertemuan FLP Bekasi. Bahkan rela untuk tidak berkata jujur pada atasan di kantor, hanya untuk ikut-ikutan menahan kantuk dan merasakan dinginnya Kaliurang dalam MUNAS FLP beberapa waktu lalu ! (Boys n girls… don’t do this anymore…!) Dan di setiap pertemuan itu pula selalu saya temukan berjuta kekaguman! Saya selalu terkagum dengan FLP’ers yang di setiap kehadirannya selalu membawa sebuah maha karya, kagum dengan Flp’ers yang terus bersuara untuk mendapatkan kepuasan ilmu. Saya kagum dengan FLP’ers yang seakan–akan kepalanya tidak pernah kosong dengan ide dan saya terkagum dengan FLp’ers yang telah memberikan hatinya untuk FLP Bekasi.

Tapi saya melihat diri saya seperti sesuatu yang tersisa di FLP Bekasi. Bayangkan, kehadiran saya di FLP Bekasi selama 7 bulan ini - belum lagi ditambah dengan kehadiran saya di Workshop Kepenulisan di luar FLP - belum ada sebuah karya pun yang berani saya tunjukkan ! (Contoh bagus omongannya Bang O. Solihin nih… hehehe). Setiap pembahasan mengenai kelemahan penulis pemula, pada saat itu pula saya melihat bahwa semua contoh ada pada diri saya. Tak perlu bicara ada berapa kelemahan, tapi satu kelemahan maha dasyat yang dibicarakan namun tidak mau dibahas oleh Bang Bayu Gautama pun ada pada saya : M A L A S (bang Bayu nyerah enggak mau ngebahas karena obatnya g dijual bebas: cuma ada di dalam hati penulis itu sendiri), Namun pernah pada suatu malam, betapa senangnya saya hanya karena sudah bisa mencoret ketergantungan saya dengan sebuah komputer (maksudnya saya MALAS menulis dengan alasan tidak ada komputer di rumah!) dari isi “daftar halangan menulis”. Dengan semangat, saya mengirim sms ke seorang FLP’ers hanya untuk menceritakan bahwa saya sudah bisa menulis hanya bermodalkan kertas HVS kosong dan pulpen seharga tiga ribu rupiah! Hanya masalah sepele ya? Tapi jujur, memang itu yang saya rasakan.

Saat ini, saya sedang mencoba menulis 2 buah cerpen, salah satunya tentang pernikahan di mata 2 orang cowok yang berbeda. Bukannya mandeg nulis, tapi layaknya ciri seorang penulis pemula yang mencari kesempurnaan ditambah lagi ucapan Mba HTR tentang tanggung jawab moral, saya berpikir untuk menunda cerpen itu dulu. Saya butuh lebih dari sekedar imaji. Kata bapak Hernowo, saya harus melejitkan kemauan dan kemampuan saya untuk membaca dan menulis buku. Jadi yang dibutuhkan saat ini adalah membaca buku tentang pernikahan, baru setelah itu menulis buku tentang pernikahan. Atau mungkin sebaiknya praktek dulu ya? Bukankah praktek itu lebih baik daripada teori ? He he he

“Yang Tersisa Bukan Berarti Sampah”

Kenapa saya menulis kalimat ini ? Sebenarnya sih saya cuma mau sekedar berbagi dengan FLP’ers. Mungkin ada yang seperti diri saya (kalau enggak ada pun justru lebih baik!), memposisikan dirinya seperti bagian- bagian yang tersisa… Tapi ibarat daur ulang.. dari yang tersisa pun kini menjadi barang seni eksotik, mahal dan banyak dicari orang! Jangan salah, masuk FLP itu memang BERAT ! Berat karena di dalamnya ada sekumpulan orang–orang pintar seperti kita yang punya banyak rasa CINTA … untuk saudara-saudara kita… Dan rasa CINTA untuk ALLAH tentunya.

Jadi…, terima kasih kepada SANG WAKTU yang telah memperkenalkan Saya dengan FLP. Dan FLP’ers… selamat menjadi “petualang imaji”…!

by Rahma

Monday, April 25, 2005

Pertemuan Gabungan Muda-calon Madya

Alhamdulillah,
Ahad 24 April 2005 kemarin telah terlaksana pertemuan
gabungan kelompok Muda dan calon Madya, bertempat di
Islamic Center Bekasi (selasar depan Perpustakaan
Darul Ulum).

Pertemuan dihadiri oleh sekitar 11 orang peserta dan
pengurus, mulai pukul setengah dua sampai dengan adzan
Ashar berkumandang.

Pembahasan materi "Deskripsi dan Diksi" oleh Vita
dilengkapi dengan simulasi kecil-kecilan yang cukup
seru dan mengakibatkan beberapa orang jadi pusat
perhatian selama simulasi berlangsung...hehehe. To
Adnan, yang kayaknya paling populer kemarin, maaf
banget ya...kita semua nggak bermaksud apa-apa
kok...cuma kebetulan aja Adnan jadi 'objek' (mudah2an
bukan pelengkap penderita ya) tulisannya Ijal
(newcomer, adiknya Naila) dan beberapa temen lain.

Bahan pertemuan bisa di'ambil' di milis ini, atau
minta aja ke mbak Rahma atau Vita di pertemuan
berikutnya ya...untuk anggota kedua kelompok itu,
boleh aja kok minta bahan dan datang ke kedua
pertemuan.

Mengenai 'markas' FLP Bekasi dan tempat pertemuan
rutin, untuk sementara ini tetep di Islamic Center,
Ahad pekan kedua (untuk Muda) dan keempat (untuk calon
Madya). Pengurus lagi berusaha mencari tempat lain
yang lebih kondusif dan strategis, beberapa di
antaranya adalah gedung LKC dan ruang Perpustakaan
Darul Ulum Islamic Center.

Mohon doanya ya, supaya kita bisa segera menemukan
'markas'...!

Buat temen2 yang dateng ke pertemuan Ahad kemarin,
trims banget ya...jadi tambah semangat nih...! N mohon
maaf atas segala kekurangan...

Monday, April 11, 2005

[INFO] Pertemuan MUDA, 10 April 2005

Pertemuan perdana kelompok MUDA FLP Bekasi telah dilaksanakan kemarin, Ahad tanggal 10 April 2005. Namun sepertinya pertemuan tersebut perlu diadakan ulang, mengingat yang hadir tidak representatif. Sebagian besar anggota baru maupun yang telah mendaftar tanggal 27 Maret 2005, rupanya berhalangan hadir. Mereka mengkonfirmasikan ketidakhadiran via sms.

Seperti biasa, 'ngemper' di selasar masjid Islamic Center Bekasi, dan duduk melingkar sambil asik berdiskusi. Saya, Yani, dan tiga orang teman-teman baru: Didi (yang dengan bersemangatnya sudah hadir sejak jam 12 siang dan harus menunggu saya yang datang terlambat...maaf ya di...trims banget kehadirannya!!!), Yeni dan Nia.

Pertemuan diisi dengan penjelasan mengenai FLP dan sedikit seluk-beluk kegiatannya, terutama FLP Bekasi. Cukup banyak pertanyaan-pertanyaan dari ketiga teman-teman baru kita itu, yang sangat antusias dan makin membuat saya bersemangat. Sayang, kemarin tak sempat fotokopi form pendaftaran dan beberapa berkas lain. Dan selama kurang lebih 1 jam pertemuan habis untuk sharing pengalaman, berbagi serta saling menyemangati untuk lebih 'pede' untuk terus menulis. Sedangkan pembahasan yang harusnya disampaikan, sesuai yang terdapat di silabus, akan dialihkan pada tanggal 24 April 2005. Saya memutuskan untuk mengadakan lagi pertemuan MUDA pada tanggal tersebut, bersamaan dengan akan diadakannya pertemuan perdana kelompok (calon) MADYA.

Kepada teman-teman baru, kemarin saya telah menjelaskan kesulitan pengurusan tempat untuk kegiatan2 FLP Bekasi. Dan dengan sangat baik hati, Didi menawarkan untuk menggunakan rumahnya di ALINDA KENCANA PERMAI Blok F3 N0. 28, Bekasi. Wah, musti dicatet nih, mbak Rahma !!!

[INFO] Pertemuan Tanggal 27 Maret 2005

Assalamu'alaikum wr wb

Mudah-mudahan nggak terlalu terlambat walau udah lewat 2 minggu, ya...

Tanggal 27 Maret 2005, tepatnya sekitar 2 minggu lalu, FLP Bekasi telah mengadakan pertemuan non-rutin dengan seluruh pengurus, anggota, dan calon anggota. Pengurus FLP Bekasi yang hanya segelintir orang itu telah membagi-bagi tugas untuk menghubungi semua anggota yang telah mendaftar sejak September 2004, dan data mereka telah tersimpan dalam arsip keanggotaan FLP Bekasi.

Tujuannya adalah untuk Registrasi Ulang keseluruhan anggota FLP Bekasi, dan supaya memudahkan pengurus untuk menata kembali anggota yang aktif untuk mengikuti Pertemuan Rutin yang akan dilakukan dengan format berbeda mulai bulan April ini. Pertemuan tersebut diikuti oleh sekitar 19 orang peserta.

Sesi 'pelatihan singkat' yang diisi oleh Bayu Gautama (penulis, staf Eramuslim) bertajuk "Menulis Spontan, Menulis Kreatif". Sesi tersebut berlangsung cukup seru, sebab mas Bayu membawakan materi dengan sangat atraktif. Peserta duduk di bangku masing-masing dengan membentuk lingkaran. Atraksi 'lempar-melempar' gulungan kecil kertas yang dilakukan pengisi acara cukup membuat kami semua tertawa, tersenyum-senyum, atau bahkan meringis karena sering 'terkena' lemparan yang tak terduga itu. Sepertinya sih, mas Bayu cukup menikmati perannya ketika harus 'melempar' peserta dengan kertas-kertas itu. Hehehe....

"Menulis Spontan, Menulis Kreatif"

Materi dimulai dengan sharing mengenai bagaimana 'menangkap' ide. Peserta diminta untuk menceritakan pengalaman masing-masing ketika berada dalam perjalanan menuju lokasi acara, dan menyebutkan ide-ide apa yang terlintas sepanjang perjalanan tersebut. Di sepanjang sesi tersebut, pengisi banyak melakukan berbagai simulasi menarik untuk membantu peserta agar lebih memahami isi materi.

Bahwa setiap lintasan ide yang dianggap sebagai 'ide kecil' tidak bisa disepelekan, sebab kita semua harus belajar untuk menghargai ide yang merupakan harta bagi seorang penulis. Bila kita tidak berusaha untuk 'menangkap' ide tersebut dengan sepenuh penglihatan, hati, dan pikiran, maka sesuatu tersebut tidak akan bisa menjadi 'sebuah ide' untuk dipergunakan. Menunggu ide untuk datang menghampiri bukanlah sikap yang tepat, bila seorang penulis ingin maju. Bahkan seringkali berbagai hal yang dianggap sebagai sebuah kendala, akan menjadikan kita menyia-nyiakan ide yang sebenarnya bertebaran di sekeliling.

Mengenai hambatan atau kendala, mas Bayu menegaskan bahwa semakin banyak hambatan dalam menulis yang kita hilangkan, maka kita akan menulis dengan lebih baik. Setiap orang memiliki hambatan yang berbeda, maka tidak tepat bila kita hanya berpangku tangan mengharapkan orang lain menyelesaikan masalah atau hambatan yang ada di hadapan kita. Maka, analisa masalah dan buat prioritas dalam menyelesaikannya atau menghilangkan hambatan tersebut!


Peserta yang hadir:
1. Yani
2. Adnan
3. Ririn
4. Wiwiek
5. Nadiah
6. Rahma
7. Vita
8. Heri
9. Yuliawati

10. Irshad
11. Narti
12. Neni
13. Imam
14. Syauqie
15. Ruli
16. Fikri
17. Nita
18. Ami
19. Eti

Dari nama-nama di atas, 9 orang adalah 'anggota lama' yang hadir untuk mendaftar ulang, sedangkan 10 berikutnya adalah anggota yang sudah pernah mendaftar pada bulan September 2004, dan baru hadir kembali kemarin, ditambah dengan mereka yang benar-benar baru bergabung dengan FLP Bekasi. Namun dari 10 orang tersebut, hanya 7 orang yang berminat untuk bergabung menjadi anggota FLP Bekasi. Dengan demikian, dari pertemuan tanggal 27 Maret 2005, ada penambahan anggota sebanyak 7 orang. Mereka semua telah mengisi formulir pendaftaran keanggotaan FLP Bekasi (dan formulir tersebut kini masih saya pegang).

Pengurus telah membagikan beberapa berkas untuk setiap peserta yang hadir, yaitu:
- Sosialisasi kegiatan Munas I FLP
- Sekilas tentang FLP Bekasi (kepengurusan, kegiatan, dll yang berkaitan dengan FLP Bekasi-dengan tambahan hasil evaluasi enam bulanan)
- Silabus Pertemuan Rutin Bagian I Kelompok MUDA

Sekian dulu infonya...semoga bermanfaat, n keep in touch with us!!!

Wassalamu'alaikum wr wb

Wednesday, March 23, 2005

[curhat] Selasar itu...

Pertama kali gabung di FLP, saya beberapa kali ikut pertemuan FLP DKI di masjid Amir Hamzah TIM. Saat itu saya berpikir, wah...asik juga nih...suasana santai tapi full diskusi dan tetep rame serta akrab satu sama lain. Saat itu saya tidak memperhatikan bahwa kami melakukannya di selasar masjid, di lantai dingin serta berhawa serjuk. Bagi saya pribadi, itu tidak jadi masalah. Yang penting adalah apa yang didapatkan dari tiap pertemuan. Satu hal yang langsung memenuhi benak saya, bahwa menjadi anggota FLP berarti mengedepankan produktivitas dan kualitas. Walaupun materi dan segala masukan yang saya dapat (saat itu) tidak diberikan secara formil layaknya ikut workshop/seminar/pelatihan kepenulisan di tempat lain. Tapi saya merasa banyak sekali mendapat pelajaran.

September 2004, FLP cabang Bekasi diaktifkan. Dan bulan-bulan berikutnya kegiatan/pertemuan anggota dilakukan sekali dalam sebulan, dengan waktu yang cukup tidak konsisten (kadang di awal, kadang di akhir bulan) terkait dengan kesiapan pengurus (yang juga dibentuk dadakan serta kurang matang dalam perencanaan). Awalnya saya cukup deg-degan, bisa nggak ya kegiatan ini berjalan? Tapi setiap kali ingat mbak Helvy yang saat pembukaan/launching FLP Bekasi ikut menjadi pengisi acara, saya kembali bersemangat, dan mulai menanamkan satu hal dalam hati, bahwa kemajuan dan perkembangan itu akan diraih secara bertahap. Saat itu (dan sampai sekarang) kami belum mempunyai sekretariat dan program rinci dalam pelaksanaan pertemuan bulanan. Saya masih berpikir, ah...nggak apa-apa deh di selasar masjid juga (pertemuan biasa diadakan di selasar masjid Islamic Center Bekasi), biar deh belum ada silabus tetap, yang penting pertemuan bulanan tetap berjalan dan peserta bisa berdiskusi sambil membahas karya. Tetapi ternyata tidak semudah itu.

Menghadiri Munas kemarin, membawa banyak sekali pe-er buat kami. Sepertinya banyak sekali yang tertinggal dan belum dikerjakan. Akhirnya, tanggal 20 Maret 2005 kemarin, beberapa orang pengurus mengevaluasi kinerja kepengurusan (yang ternyata telah berjalan kurang lebih 6 bulan) dan membuat perencanaan untuk 6 bulan mendatang. Dan kami bertekad untuk mendata ulang seluruh anggota yang telah mendaftar, membuat silabus pertemuan, dan menjalankan fungsi kaderisasi dari forum ini yang kemarin rasanya belum berjalan dengan baik.

Ada satu keinginan yang rasanya cukup penting untuk dipenuhi saat ini, sebab rasanya suasana yang kondusif akan membantu anggota untuk dapat berkonsentrasi saat pertemuan berlangsung, dan pertemuan dapat berjalan efektif. Keinginan itu adalah memiliki sekretariat, yang bisa digunakan sekaligus sebagai tempat melaksanakan pertemuan rutin. Sedikit muluk-muluk mungkin, sebab ada juga cabang/wilayah lain yang belum memiliki sekretariat, namun kegiatan tetap berjalan dan mereka tetap produktif. Pada tempat yang biasa kami gunakan, kami harus mengeluarkan 250 ribu rupiah setiap kali meminjam ruangan. Jumlah tersebut yang selalu membuat kami enggan untuk memakai ruang-ruang kelas yang tersedia cukup banyak, dan kami tetap 'setia' duduk di selasar masjid.

Perbaikan akan terjadi bila diupayakan. Rasanya sekarang bukan lagi waktunya bersantai-santai dan berteguh pada kondisi sekarang tanpa mengusahakan kemajuan untuk masa mendatang. Salah satu keputusan yang dicapai pada rapat evaluasi kemarin adalah, kami akan mengajukan proposal kerja sama dengan beberapa pihak untuk memperluas jaringan serta mengusahakan fasilitas bagi kegiatan FLP Bekasi.

Andaikan upaya itu belum berhasil, ...rasanya selasar itu masih cukup nyaman untuk menampung kami...

Mohon doa dari semuanya...

Tuesday, March 01, 2005

[Info Munas FLP-bagian II] Berbagi Cinta

Hadir di Munas I FLP kemarin, rasanya adalah seperti sedang berbagi cinta. Saya dan mbak Rahma, delegasi dari FLP Bekasi, berkali-kali nyeletuk saat di perjalanan, “Wah, kayak mimpi deh mau ke Yogya!” atau “Ih, gimana ya nanti munas-nya?” dan celetukan lain, menutupi rasa gugup dan deg-degan dalam hati. Munas FLP. Pertama kali nih, bertemu dengan sekian banyak “jagoan-jagoan” itu. Begitu terus-menerus batin saya berucap.

Sore hari, sekitar pukul empat, saya dan mbak Rahma tiba di Gedung Manggala Bhakti Wanitatama, tempat diadakannya acara Opening dari Munas I FLP. Ramai. Dan kami berdua nyaris nggak pede membawa tas-tas besar di antara sekian banyak peserta yang hadir. Saking gugupnya, saya sampai memutuskan untuk menelpon mbak Azi untuk “menjemput” kami di pintu depan, padahal sih, tinggal masuk aja toh? Akhirnya beliau dengan jilbab oranye dan wajah ceria keluar menyambut kami. Tak ingin lebih banyak merepotkannya, kami langsung duduk dan menaruh barang-barang bawaan. Sebentar lagi acara akan dimulai kembali, dan kami pun beranjak untuk menunaikan shalat Ashar. Tempat shalat ada di belakang panggung, jadi kami harus berjalan melintasi deretan kursi peserta untuk ke sana. Dari jauh, saya melihat beberapa orang FLP’ers DKI…ada Zizah! Dan ia tersenyum lebar sambil berseru, “Kak Vita!” kemudian menghampiri saya. Saya lihat ada mbak Dala dan juga Echa…tak sadar saya mulai tersenyum-senyum sendiri. Wah, mulai terasa serunya nih…perut saya bergolak. Gugup campur senang.

Tiba saatnya PENA AWARD, penganugerahan bagi mereka yang menjadi pemenang dari berbagai lomba yang diadakan plus bagi karya-karya terbaik para penulis FLP. Kami duduk di barisan kedua dari depan, tepat di tengah. “Mbak, pokoknya kita jangan jauh-jauh dari mbak Dala ya…” kata saya. Duduk bersama Echa, Zizah dan mbak Dala membuat saya rindu dengan ‘kehebohan’ FLP’ers DKI. Dan melihat nama-nama yang menjadi nominasi serta pemenang, memacu jantung saya untuk berdegup lebih cepat, dan rasanya adrenalin saya berlari sprint tak hentinya,...saya mengenal sebagian kecil nama-nama yang tertera di layar. Rasanya kegembiraan itu mencuat kala si pemenang dibacakan, siapapun dia. Kagum, sekaligus merasa malu. Ah, begitu hebat orang-orang itu!

Hari makin sore, acara ditutup, dan seluruh peserta Munas dengan teratur memasuki bus yang telah terparkir berjejer di depan gedung. Perjalanan menuju Kaliurang memakan waktu sekitar satu jam. Perlahan, gelap merayapi langit, dan udara kian dingin. Saya tak sempat tertidur barang sedetik pun. Antara bersemangat dan begitu nervous, sebab draft Munas baru sempat benar-benar terbaca saat di pesawat tadi.

Di Kaliurang, Hotel Kana.
Ini sih bukan jauh lagi! Serasa di Puncak setelah melewati berliku-likunya jalanan. Saya mengamati dua panitia yang lincah itu, mbak Azi dan mbak Dee (Rahmadiyanti). Mbak Azi tertidur lelap sepanjang perjalanan, dan ketika sampai, ia kembali dengan semangatnya yang rasanya nggak pernah habis. Mbak Dee sempat menemani saya dan mbak Rahma, ngobrol tentang perjalanan ke Yogya. Di dalam hotel, beberapa delegasi yang baru hadir kebingungan, selama beberapa lama kami belum kebagian kamar.

Shalat maghrib dan beres-beres, akhirnya saya dan mbak Rahma dapat kamar di lantai atas. Surprise! Di dalam kamar sudah menunggu dua orang, mbak Rofiah dari FLP Hongkong dan mbak Muttaqwiati! Hah! Yang bener nih! Ketemu Muttaqwiati!!! Saya nyengir lebar dan menyapa mereka berdua. Sejak saat itu, kamar terasa hangat dengan keramahan dan rasa yang tiba-tiba saja terjalin erat.

Di luar ruang sidang, kami dan FLP’ers DKI berkumpul untuk konsolidasi wilayah. Mbak Dala, Zizah, Echa, Asa Mulchias, BiJe, Koko Nata, Deny, pak Nayzen (bener nggak ya tulisannya?), saya, dan mbak Rahma. Apa saja yang kami bicarakan? Seputar nama dan topik-topik pembahasan Munas. Saya pun lupa. Satu hal yang kemudian memenuhi pikiran saya, konsolidasi memang penting!

Sidang dimulai, sesi pembukaan, sidang komisi, sidang pleno, pemilihan Majelis Penulis,…dan seterusnya. Saya berkali-kali tertegun. Beginikah sosok-sosok itu? Saya baru kenal dan melihat jelas bagaimana mereka. Seandainya masih ada orang yang berkata di depan hidung saya, bahwa perempuan dalam Islam itu terpinggirkan dan terbelakang, maka saya akan menudingnya dan menyuruhnya hadir di antara kami semua saat itu. Lihat mereka! perempuan-perempuan cerdas itu! Mbak Izzatul Jannah alias Intan Savitri, yang katanya Sarjana Peternakan plus ahli hukum dan sastra, mbak HTR dan Asma Nadia yang tak diragukan lagi semangat, kecerdasan, serta cinta mereka pada forum ini, mbak Rara dari FLP Sumut yang dengan berani berkali-kali interupsi dan mengemukakan pendapat dengan lantang, Nurika dari FLP Yogya yang membuat saya bersemangat untuk membangun FLP Bekasi supaya lebih baik,…semua muslimah itu tak kalah hebatnya dengan M. Irfan Hidayatullah (sang Ketua Umum FLP terpilih), Haikal Hira Habibillah (yang selalu ‘berjasa’ membuat sidang berjalan efektif dengan ide-idenya), Bahtiar HS (sang Pemimpin Sidang),…mereka semua sungguh membuat saya mengembangkan sayap cinta pada FLP ini lebih lebar lagi.

Saya, dan pastinya juga mbak Rahma, tidak akan pernah melupakan pengalaman ini. Begadang hingga jam 3 pagi demi menyelesaikan pembahasan Anggaran Dasar FLP, konsolidasi dengan FLP DKI hingga larut malam, capek sampai hampir tertidur di ruang sidang sebab acara dimulai sekitar pukul 7 pagi, dan sekamar dengan dua orang yang pasti tidak bisa kami lupakan!

Apalagi? Selain cinta yang kian membekas di hati saya. Seperti Dirman dari FLP NTB, yang datang jauh-jauh naik bus selama 3 HARI dan sampai di tempat sekitar pukul 21.30 WIB hari Sabtu (26/02). Seperti mbak Nesia dari FLP Jepang, yang kebetulan sedang di Indonesia, yang terbang dari Jakarta pagi-pagi sekali hari Ahad dan pulang kembali siangnya. Seperti panitia acara dari FLP Yogya yang telah menjamu peserta dengan baiknya (sampai saya heran, sebab fasilitas demikian lengkap dan kamar-kamar yang nyaman itu tak mengisyaratkan bahwa mereka kekurangan dana). Seperti mbak HTR dan mbak Asma yang resah mereka begitu terlihat, sebab bisa dikatakan Munas kemarin adalah salah satu titik penentuan langkah panjang forum tercinta ini ke depan nanti.

Apalagi? Saya jatuh cinta, dan berusaha untuk selalu merawatnya. Saya telah tercebur dan menceburkan diri di dalamnya untuk mendapatkan dan memberikan jumlah tak terhitung dari setiap denyut rasa, pikir, dan hasrat saya untuk Forum Lingkar Pena.

By Vita
Maret 2005