This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, October 03, 2005

FLP Bekasi thanks to ...

Assalamu’alaikum wr wb.

Alhamdulillah …
Pada Ahad, 2 Oktober 2005 kemarin, telah dilaksanakan FLP Bekasi Goes to School di SMU Muhammadiyah 9 Bekasi.

FLP Bekasi khususnya, dan juga seluruh panitia acara, mengucapkan TERIMA KASIH kepada seluruh sponsor dan pendukung acara. Acara yang telah direncanakan cukup lama ini akhirnya bisa terlaksana juga, walau dengan banyak sekali kekurangan di sana-sini. FLP Bekasi dan juga teman-teman panitia teknis dari SMU Muhammadiyah 9 Bekasi berharap acara ini dapat memberikan manfaat bagi para peserta, dan terutama hikmah yang besar sekali bagi kami semua untuk dapat menyelenggarakan acara berikutnya dengan lebih baik lagi.

THANKS TO:

LINGKAR PENA PUBLISHING HOUSE – sebagai sponsor utama acara
Untuk mbak Nanik, mbak Nita, mbak Asma, mbak Leyla, mas Birulaut, mas Boim, dan seluruh rekan-rekan dari LPPH, terima kasih atas semua bantuan untuk acara ini. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekurangan yang ada, mohon maaf bila telah mengecewakan, semoga LPPH berkenan memaafkan kekurangan kami tersebut dan kami sangat berharap di lain kesempatan kita dapat menjalin kerja sama lagi.

SMU MUHAMMADIYAH 9 BEKASI
Kepada IRM Muhammadiyah 9 Bekasi, kepada Pimpinan Cabang dan Daerah Muhammadiyah Bekasi, kepada Kepala Sekolah beserta seluruh staf guru dan karyawan, kepada seluruh teman-teman;adik-adik murid SMU Muhammadiyah 9 Bekasi; terima kasih atas kontribusinya, pengorbanan serta semangat kalian dalam menyelenggarakan acara ini.

SMU 1 Bekasi
Khususnya teman-teman dari KANSAS SMU 1 Bekasi, dan staf guru yang mendukung acara ini, terima kasih atas dukungannya. Semoga di lain kesempatan kami dapat menyelenggarakn acara serupa di SMU 1 Bekasi.

DAKTA FM
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk menyiarkan Talk Show sebagai sarana promosi acara, dan setiap bantuan yang telah diberikan untuk acara ini.

Majalah ANNIDA
Terima kasih atas bantuan pemberian majalah ANNIDA sebagai souvenir bagi peserta acara.

Syaheed dan Percetakannya (namanya apa ya?)
Terima kasih untuk bantuan pembuatan spanduk acara.

Para donatur
Mohon maaf bila tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih atas bantuannya.

Teman-teman FLP Bekasi, yang turut hadir untuk meramaikan acara.

Dan pihak-pihak lain yang mungkin belum disebutkan
Terima kasih yang sebesar-besarnya.


Semoga di acara FLP Bekasi Goes to School berikutnya kami dapat memperbaiki segala kekurangan dan menyelenggarakan acara ini dengan lebih baik lagi.

Wassalamu'alaikum wr wb
Panitia Acara FLP Bekasi Goes to School

Monday, August 15, 2005

"Miss Chatting"

“Kamu mau chatting lagi, Ra?”

Eh…dia malah senyum-senyum sendirian. Tangannya masih sibuk membereskan buku-buku dan memasukkannya semua ke dalam tas.

“Memangnya kamu ada janji chatting jam berapa sih? Sekarang? Emangnya penting banget ya, Ra?”

Rara menoleh padaku sebentar, lalu mengedipkan matanya, dan kembali sibuk dengan tasnya.

“Huuh..! Dasar centil!” Kataku kesal. Memangnya enak dicuekin ?!


Ketagihan chatting?? Owh, No!!! Begitulah Lindi, seorang cewek manis yang masih duduk di bangku SMA. Awalnya, ia bisa dibilang gaptek dan tidak mengenal internet sama sekali. Ternyata hobi chatting itu 'ditularkan' secara tidak sengaja dari sahabatnya, Rara, dan segera menjadi kegiatan favorit Lindi hampir setiap pulang sekolah. Sampai ketika Lindi 'terjebak' pada rayuan gombal para teman chatting yang sebenarnya tidak ia kenal. Gimana perjuangan Lindi belajar chatting? Apa yang akhirnya dapat 'menyembuhkan' Lindi dari 'demam chatting'?

Baca aja sendiri!!! Jangan sampe ketinggalan, ya!!!

"Miss Chatting"

(karya DH Devita)

dalam buku

"I Love U SoMad"

Antologi Milad LPPH 2005

Penerbit: Lingkar Pena Publishing House



Image hosted by Photobucket.com


ps. segera satronin toko buku terdekat!



Tuesday, August 02, 2005

Hampir Sebulan Lagi...

Ahad, 31 Juli 2005,

Untuk yang ke sekian kalinya, pertemuan rutin berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Sekitar pukul satu siang, saya telah duduk bersila di selasar perpustakaan Darul Ulum Islamic Center Bekasi. Siang bolong, langit tak tampak cerah, pertanda akan hujan. Dalam hati, saya bertanya-tanya, siapakah saja yang akan hadir nanti. Jadwal Ahad itu cukup padat: bedah cerpen dan akan disambung dengan rapat panitia FLP Bekasi Goes to School.

Sekitar sepuluh menit kemudian, saya sudah ditemani oleh mbak Rahma. Dan kami sedikit banyak membahas konsep acara yang memang jadi tanggung jawab berdua. Lalu beberapa orang mbak-mbak yang manis muncul, ragu-ragu bertanya, "Lingkar Pena, ya?" Wah, ternyata 'pendatang baru' lagi. Dan hari itu kami ditemani oleh enam orang peserta baru. Selamat bergabung, semuanya! Jelas-jelas semakin besar harapan pengurus akan regenerasi di bulan September nanti.

Cerpen berjudul "Ada Puyang di Kampung Silam", karya Hadi Hariyanto. Menarik. Berani. Unik. Dan diskusi berjalan cukup padat akan masukan positif buat Hadi. Entah apa yang ada di benaknya, saya jadi teringat Gavin dan Lina Nurfalah. Dua orang yang sudah sempat 'dibantai' pada forum ini, bedah cerpen. Memang tak sering dilakukan, sebab jadwal pemberian materi untuk kelompok Muda dan Madya saja sudah cukup sedikit porsinya. Catatan tambahan bagi saya pribadi: perbaiki sistem kaderisasi.

Wiwiek, si pemberi komentar pertama. Ha. Rupanya cewek yang 'gila buku' ini sudah berkembang pesat sekali. Terus terang, saya agak terpana mendengarkan komentar-komentarnya yang disampaikan dengan tajam dan tegas. Saya tersenyum kemudian, sambil sedikit berbisik-bisik dengan mbak Rahma, "Udah makin jago dia," dan berbisik sendiri dalam hati, "Wah, bisa nih jadi pengganti gue," Haha...sorry, Wiek! Tercetus begitu aja, sih.

Nia, termasuk newcomer juga, tapi sejak awal minat dan komitmennya yang besar pada dunia tulis-menulis dan FLP sangat terlihat. Terbukti juga dari kesudahan acara tersebut, sekali lagi Nia menyerahkan naskahnya.
You go, girl!

Chris, juga pendatang baru, yang kalem dan adem-ayem, tapi saya yakin komentar sederhananya dibuahkan dari pikiran yang mendalam. Chris kelihatan begitu serius dan menikmati diskusi hari itu. Low profile sekali, walau saya tahu, Chris bukanlah seorang pemula. Benar saja. Satu buah judul cerpen yang diserahkannya telah memikat saya seketika. Nyala semangat itu tertuang di sana. Saya sudah mencatatnya baik-baik, satu lagi nama seorang 'calon penulis' yang pasti akan saya beli buku-bukunya kelak (yang satu lagi juga FLP'ers Bekasi, seorang yang selalu bisa merangkai judul tulisan yang begitu menarik hati).

Yang sedikit membuat kaget adalah antusiasme dari enam orang newcomers itu dan dua orang adik-adik dari SMU 1 Bekasi. Komentar dan tanggapan mereka tak kalah berbobotnya (fresh, habis ikut pelatihan sih ya?!). Saya kembali tersenyum-senyum, berdoa dalam hati, mudah-mudahan regenerasi ini berjalan lancar. Otak ini bermain-main, berbagai rencana dan email teman-teman di milis FLP berputar-putar. Kepengurusan mendatang harus lebih baik!

Hadi menerima banyak sekali kritikan. Tapi tampaknya tak pudar cahaya itu di matanya. Ia makin sering menelpon dan mengirim sms kepada saya. Pernah suatu malam, nama seorang Djenar tersebut dalam diskusi kami. Lelah, tapi saya yakin itu berharga.

Rapat kami, deru itu makin bergemuruh dalam dada saya. Ah, teringat hampir setahun lalu. Tak ada Wiwiek, mbak Rahma, Naila, Hadi, Chris, dan seorang Irshad. Panitia tak bisa dihitung. Cuma ada saya, dan bang Komar. Rupanya kekuatan yang tak seberapa itu menghasilkan sekian teman-teman yang begitu saya cintai kini. September, hampir sebulan lagi....


-Vita -

Wednesday, June 01, 2005

[INFO] Laporan Pertemuan Madya 29 Mei 2005

Assalamu'alaikum wr wb

[First of all, maaf karena baru sempet 'laporan' hari Rabu ini, semoga belum 'basi'...]

Ahad, 29 Mei 2005, pertemuan kelompok Madya FLP Bekasi kembali diadakan. Dengan sedikit berdebar, saya dan mbak Rahma memperhitungkan bahwa yang akan hadir pada pertemuan tersebut tidak banyak. Sebab beberapa anggota Madya yang dikonfirmasi menyatakan tidak bisa hadir. Tetapi, seperti biasa, saya berusaha menghubungi anggota Muda via sms, toh mereka pun berhak dan menyatakan keinginan untuk hadir. Memang, pertemuan kedua kelompok Muda dan Madya tersebut punya target sendiri-sendiri, namun tidak menutup kemungkinan untuk menghadirkan seluruh anggota dalam kedua pertemuan tersebut. Sekitar 4 orang anggota Madya yang hadir, dan sekitar 8 orang sisanya adalah anggota Muda.

Bahasan pada hari itu adalah mengenai 'Sudut Pandang dalam Penulisan Cerita/Cerpen' oleh Azimah Rahayu. Saya memang sengaja 'menyimpan' tema-tema sulit untuk dibahas oleh 'yang lebih berpengalaman'. Salah satunya adalah Azimah Rahayu, mantan Ketua FLP DKI dan kini menjabat sebagai pengurus pusat FLP. Saya pikir, sayang sekali anggota Madya banyak yang tidak bisa hadir. Sebab, target saya memang untuk segera meng-upgrade mereka, supaya kelak dapat lebih termotivasi berkarya dan dapat mengkader kelompok Muda dan anggota-anggota baru.

Siang itu, saya mendapat sms dari Yeni. Katanya, "Mbak, kita udah banyak yang ngumpul nih, mbak di mana?" Ketika menerima sms itu, saya sedang dalam perjalanan. Memang telah menyatakan akan terlambat sebelumnya kepada mbak Rahma, sebab acara rutin saya sedang tak bisa ditinggal. Rupanya mbak Rahma pun terlambat hadir, termasuk sang pengisi, yaitu mbak Azi. Namun nampaknya sekitar pukul setengah dua, pertemuan dilangsungkan dengan cukup lancar.

Sekitar pukul setengah tiga sore, saya tersenyum-senyum mendatangi 'kerumunan kecil' yang sedang rapi duduk bersila di pelataran masjid Islamic Center Bekasi, sambil masing-masing memegang kertas dan alat tulis. Semuanya serius menyimak tuturan kata dari mbak Azi yang, seperti biasa, begitu bersemangatnya menjelaskan materi. Oleh-oleh yang tersimpan di dalam tas pun urung saya keluarkan.

Sedikit me-review apa yang disampaikan mbak Azi mengenai 'Sudut Pandang dalam Penulisan Cerita'. Ada 3 jenis yang dikatakan sebagai point of view/sudut pandang tersebut, yaitu (1) Sudut Pandang Orang Pertama, biasa dicirikan dengan penggunaan tokoh 'aku' dalam cerita, (2) Sudut Pandang Narator Tahu Segala, biasa dicirikan dengan tokoh-tokoh yang dapat 'dibaca pikirannya' oleh pembaca cerita. Artinya, pembaca dapat mengetahui apa 'isi hati dan pikiran' atau emosi dari para tokoh tersebut (lebih dari satu tokoh), sebab diberitahukan oleh si narator/penulis cerita, (3) Sudut Pandang Orang Ketiga, yaitu ada satu tokoh sentral yang menjadi 'pusat'nya. Bisa dilihat dari satu orang tokoh yang 'dieksplor' oleh si penulis lebih dari yang lain. Termasuk menampilkan 'emosi' atau 'isi hati' si tokoh, sedangkan tokoh yang lain tidak.

Setelah pemaparan materi, seperti biasa, diadakan simulasi menuliskan paragraf cerita. Mbak Azi berusaha membahas satu per satu karya yang sudah dibuat, dan kemudian dikaitkan dengan bahasan. Cukup menarik, sebab disertai juga contoh-contoh novel atau cerpen.

Pertemuan diakhiri sekitar pukul setengah empat. Peserta yang ternyata kelaparan (hehehe...) menyerbu kacang bali yang saya bawa dan seplastik gorengan.

Menghadiri pertemuan kemarin, saya jadi optimis, bahwa FLP Bekasi memiliki 'penerus' yang cukup serius dan sepertinya regenerasi kepengurusan dapat dilakukan dengan lancar pada bulan September nanti. Bisa jadi, kelompok Muda atau teman-teman yang baru jadi anggota akan berkembang lebih cepat dibandingkan mereka yang lebih dulu mendaftar. Bagaimanapun, sekali lagi, kita semua harus memperhatikan FLP tidak hanya dari luar saja, melainkan dari sisi 'kepenulisan', 'keorganisasian', dan 'keislaman'nya. Semoga FLP Bekasi dapat terus memperbaiki sisi internal sekaligus memperluas hubungannya ke luar. Aamiin.


Wassalamu'alaikum wr wb
*Vita*

Thursday, May 26, 2005

[CURHAT] Oleh-oleh dari Bali

Sore itu begitu melelahkan. Rasanya ingin cepat-cepat sampai di penginapan, mandi, dan istirahat. Wah, pasti tak terkira nikmatnya! Kalau saja tak ingat permintaan kedua adik manis yang kutemui siang tadi, pasti kantuk yang menyerang akan berakhir lelap hingga malam.

Masih dengan songket india yang membelit pinggang hingga kaki, hak sandal manik-manik hitam yang kukenakan membawaku mundar-mandir sambil celingukan ke seluruh penjuru ruangan. Sampai kira-kira satu jam sebelum acara berakhir, handphone-ku bergetar,

"Mbak, tunggu Aya sampai datang ya, please...Aya kangen banget, pokoke jangan pulang dulu"

Satu jam lewat, akhirnya si cantik itu datang bersama seorang lagi kawannya. Aya dan Novi, dua orang anggota FLP Bali. Ini kali kedua kami bertemu, sebelumnya di Munas FLP di Kaliurang, Yogya. Kangen. Sepertinya lelah itu terusir pelan-pelan.

"Mbak, kapan bisa ketemuan dengan anak-anak FLP Bali?"
"Wah, iya ya?! Kalian kapan ada pertemuan? Maaf ya, kemarin nggak sempat. Ada acara keluarga sampai malam."
"Sore ini aja, Mbak. Kami ada rapat evaluasi di DSM (Dompet Sosial Muslim)."

Aku terkesiap. Ups, sore ini? Belitan songket hijau muda itu terasa semakin kuat, menjalarkan pegal-pegal ke seluruh bagian kaki. Rasanya badan ini akan remuk, mengingat tadi malam baru selesai acara pukul sebelas malam, mengantarkan seluruh tamu pulang dari rumah mertua. Fiuh! Tapi kalau tak hari ini, kapan lagi?

"Oke deh, nanti sore. Pukul berapa mau jemput?"

Senyum lebar menghiasi wajah Aya. Duh, jadi tambah semangat. Biarlah, lelah itu menanti sebentar lagi.

Sekitar pukul 4, Novi sudah stand by di atas motornya di depan KFC Kuta Square. Wah, naik motor, diboncengi akhwat pula. Jantung ini seketika menghentak-hentak. Kabarnya si manis ini suka ngebut pula. Hup, baca bismillah saja...

Pertemuan dengan pengurus FLP Bali yang direncanakan di kantor DSM Bali, akhirnya harus berpindah tempat ke Mushola Tawakkal. Musholla bertingkat yang sering digunakan untuk acara-acara pengajian, atau sehari-harinya digunakan sebagai TK atau SDIT. Sampai di tempat parkir di depan mushola, terlihat tiga sosok laki-laki, yang rasanya familiar sekali. Wah, ini pasti FLP'ers Bali yang kulihat dari jauh di gedung tadi siang. Masih dengan seragam yang sama, jaket mahasiswa dan celana panjang.

"Maaf, Mbak. Tempatnya harus pindah. Ternyata mushola dipakai ibu-ibu pengajian."

Duh, Novi. Si manis itu harus mengantarku dan kemudian menjemput Aya untuk sampai di DSM, tempat kami akhirnya memulai pertemuan. Terengah-engah, pukul lima sore. Bayang-bayang keletihan ternyata tak hanya menggelayut di wajahku. Toh mereka juga dalam kondisi yang sama.

Akhirnya, dimulailah. Pertemuan seru selama kurang lebih 2 jam, dengan jeda shalat maghrib. Hanafi, sang Ketua FLP Bali, tak henti-hentinya bertanya ini-itu, macam interograsi saja. Mereka, para ikhwan itu, duduk berjejer di hadapanku, Aya, dan Novi. Niat hati ingin menggali informasi dan mencari inspirasi dari aktivitas dan deklarasi yang baru dilangsungkan FLP Bali. Tapi akhirnya harus menyerah juga, biarlah mereka berpuas-puas dulu. Mulai dari Hanafi, Ali, Didi, sampai Aya dan Novi, semuanya melontarkan berbagai pertanyaan. Mulai dari FLP Bekasi sampai Eramuslim. Sharing, sekaligus jadi bahan evaluasi untuk diri sendiri juga. Sudah sejauh manakah kiprah FLP Bekasi?

Pengurus FLP Bali hanya terdiri dari 6 orang, yang mengaku belum patut disebut sebagai penulis. Kehadiran mereka di Munas kemarin rupanya telah menimbulkan semangat yang begitu besar (pun terlihat dari berapi-apinya Hanafi menerangkan ini itu) untuk membangkitkan kembali FLP Bali. Mereka mencoba mencontoh apa yang sudah dilakukan oleh FLP Yogya, termasuk soal struktur kepengurusan hingga kegiatan yang akan dilakukan, dan ingin menjadikan FLP Bali seperti FLP Kaltim, yang telah mengakar hingga ke masyarakat. Terbukti dari upaya mereka untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Termasuk dengan DSM Bali, yang telah merelakan tempatnya dijadikan 'basecamp' atau tempat pertemuan bagi para FLP'ers ini. Sebuah kerja sama yang cukup baik, FLP Bali turut andil dalam pembuatan dan pengelolaan majalah yang akan diterbitkan oleh DSM Bali dalam waktu dekat ini.

Hanafi dan Novi menceritakan panjang lebar bagaimana mereka melakukan audiensi ke beberapa pihak, di antaranya Diknas (yang kini katanya sudah mengakui keberadaan FLP Bali), MUI, sampai ke Bank Syariah Mandiri cabang Bali. Subhanallah...terharu, dan rasanya semangat itu terpompa kembali ke dalam benak ini. Termasuk rasa malu yang diam-diam merayapi hati. Mereka, adik-adik tercinta itu, dengan segala kesibukan dalam aktivitas belajar dan organisasi, ternyata pun telah terjun bekerja mencari maisyah, dan kini menambahnya dengan menjadi pengurus FLP Bali. Subhanallah...subhanallah.... Saat itu, rasanya ingin cepat-cepat pulang ke Jakarta kemudian menelpon mbak Rahma dan Wiwiek!

Menjelang pukul 7 malam, pertemuan diakhiri. Dibekali semangat serta banyak sekali ide di kepala ini, dan tak ketinggalan, selembar kartu nama Hanafi-sebagai pengurus FLP Bali! Kartu nama? Wah, sampai lupa menukarnya dengan kartu nama sendiri. Tercengang cukup lama. Duh, subhanallah…berkali-kali kubisikkan dalam hati. Jadi teringat komentar Hanafi mengenai FLP Bekasi yang harus menyewa tempat hingga sekitar dua ratus ribu per hari, “Dua ratus ribu? Itu sih murah, Mbak.”

Jadi tersenyum sendiri. Begitulah. Bila ada semangat dan kemauan untuk maju, mungkin segalanya akan terasa mudah dan pasti bisa dilalui.

Wednesday, May 18, 2005

[info] Pertemuan Muda, Ahad 15 Mei 2005

Alhamdulillah, Ahad tanggal 15 Mei 2005 kemarin pertemuan kelompok Muda FLP Bekasi telah dilaksanakan dan berjalan cukup lancar.

Peserta yang hadir sekitar 15 orang, termasuk saya dan mbak Rahma (betul kan, mbak?). Ada beberapa 'wajah baru' yang bikin pertemuan jadi tambah ramai. Beberapa orang yang memang minggu sebelumnya telah menghubungi saya via telepon atau sms rupanya menepati janji untuk datang.

Ada Hadi, karyawan Pemda Bekasi, asal Lampung. Beliau ini yang menelpon saya malam-malam, dan bercerita panjang lebar mengenai keinginannya untuk jadi penulis dan hobinya membaca novel. Mudah-mudahan pertemuan kemarin bisa nambahin semangat ya, Hadi.

Ada Christian, dari Kampung Dua. Beliau ini aktivis teater loh! Sudah sekitar 7 tahun berkecimpung di dunia teater, dan sempat menulis naskah/skenario film, tapi belum sempat difilm-kan. Wah, modal yang cukup lumayan untuk jadi penulis ya, Chris!

Ada Herti, sepertinya si mbak ini tahu FLP Bekasi dari blog-nya FLP Bekasi ya. Hehehe. Walau datang terlambat, tapi mudah-mudahan bisa mengikuti pertemuan dengan baik.

Ada Yenni dan Nia. Nia sudah hadir di pertemuan Madya bulan kemarin, dan keduanya pun hadir saat pertemuan Muda bulan kemarin, yang tidak berjalan efektif itu. Yenni sempat sakit typhus ya? Tapi alhamdulillah kemarin sudah sehat dan bisa hadir. Ada persamaan nih antara Yenni dengan Adnan, keduanya sama-sama penggemar Rumi, kata Nia. Wah, bisa nyambung lah kalau ngobrol ya?!

Ada bu Juariah dan anaknya yang cantik, Isma. Sebenarnya yang ingin ikutan itu Isma, tapi karena masih malu-malu, akhirnya sepanjang pertemuan, bundanya lah yang lebih banyak bicara.

Tema pertemuan kemarin adalah mengenai "Menggali Ide". Dengan segala keterbatasan, diadakan simulasi penulisan 'ide' dalam bentuk satu paragraf cerpen, dan kemudian paragraf ide tersebut dibahas bersama. Karena waktu yang sempit, sampel yang diambil hanya sedikit. Yaitu dari tulisan Hadi, mbak Nita, dan bu Juariah. Seru juga.

Hadi menuliskan ide mengenai pelecehan Alquran di penjara Guantanamo. Cukup banyak juga yang menanggapi dan berusaha menggali ide yang belum disampaikan pada paragraf pembuka tersebut. Sempat juga membahas sedikit mengenai diksi, terkait dengan tanggapan dari Nia mengenai paragraf awal yang 'kurang greget'.

Bu Juariah menulis mengenai 'seorang istri nelayan yang suaminya berlayar hingga ke Aceh dari pulau Jawa dan hilang terbawa tsunami'. Setelah bu Juariah membacakan paragrafnya, si kecil Isma langsung menyahut, "Kenapa musti sampe ke Aceh? Kenapa bisa ke Aceh?" Wah, kritis banget si kecil ini ya. Pada 'calon cerpen' bu Juariah, kami sedikit membahas mengenai kelogisan cerita.

Mbak Nita, si penulis cerita anak, berusaha menggali ide mengenai 'ikan pepes yang hilang'. Unik dan lucu. Naila bahkan sempat mengusulkan, "Gimana kalo dibuat novel misteri/petualangan aja?" Hehehe...

Pertemuan diakhiri dengan PESTA KUE TART. Asli buatan bu Juariah. ENAK BANGET GITU LOOOHH...!!! Duh, yang nggak dateng super rugi berat deh pokoknya.

Sekian dulu laporannya, see u all on the next meeting yah!!!


-Vita-

Friday, May 06, 2005

[curhat] Yang Tersisa bukan Berarti Sampah!

“Karya-karya FLP tidak akan membuat pembacanya tersesat. Ini sebuah jaminan ! Karena setiap penulis FLP memiliki tanggung jawab moral untuk setiap karyanya. Penulis FLP tidak hanya harus pandai menulis, pintar berimajinasi, tetapi ia harus memahami Islam secara menyeluruh.” Suara lantang mba HTR (kurang lebih seperti itu bunyinya) di setiap workshop kepenulisan yang saya ikuti, tiba-tiba memecah konsentrasi saya di saat mencoba untuk menangkap ‘ikan-ikan’ yang ada di ‘kolam’nya Bapak Hernowo (Buku Mengikat Makna; Kaifa). Duh, tiba – tiba saya merasa berat. Berat di hati, berat di otak. Jujur, Saya nekat menceburkan diri ke FLP karena ingin mencari makanan rohani tanpa harus merasa diceramahi atau didakwahi. Tapi siapa sangka, ternyata di FLP, Saya juga harus bertanggung jawab untuk memberi makan rohani orang lain !

Lalu saya gerakkan jemari sambil menghitung dan mengingat perjalanan waktu dari bulan September tahun 2004 sampai hari ini, 29 April 2005 Pkl. 22.30 WIB. Tujuh bulan Saya selalu hadir di pertemuan FLP Bekasi. Bahkan rela untuk tidak berkata jujur pada atasan di kantor, hanya untuk ikut-ikutan menahan kantuk dan merasakan dinginnya Kaliurang dalam MUNAS FLP beberapa waktu lalu ! (Boys n girls… don’t do this anymore…!) Dan di setiap pertemuan itu pula selalu saya temukan berjuta kekaguman! Saya selalu terkagum dengan FLP’ers yang di setiap kehadirannya selalu membawa sebuah maha karya, kagum dengan Flp’ers yang terus bersuara untuk mendapatkan kepuasan ilmu. Saya kagum dengan FLP’ers yang seakan–akan kepalanya tidak pernah kosong dengan ide dan saya terkagum dengan FLp’ers yang telah memberikan hatinya untuk FLP Bekasi.

Tapi saya melihat diri saya seperti sesuatu yang tersisa di FLP Bekasi. Bayangkan, kehadiran saya di FLP Bekasi selama 7 bulan ini - belum lagi ditambah dengan kehadiran saya di Workshop Kepenulisan di luar FLP - belum ada sebuah karya pun yang berani saya tunjukkan ! (Contoh bagus omongannya Bang O. Solihin nih… hehehe). Setiap pembahasan mengenai kelemahan penulis pemula, pada saat itu pula saya melihat bahwa semua contoh ada pada diri saya. Tak perlu bicara ada berapa kelemahan, tapi satu kelemahan maha dasyat yang dibicarakan namun tidak mau dibahas oleh Bang Bayu Gautama pun ada pada saya : M A L A S (bang Bayu nyerah enggak mau ngebahas karena obatnya g dijual bebas: cuma ada di dalam hati penulis itu sendiri), Namun pernah pada suatu malam, betapa senangnya saya hanya karena sudah bisa mencoret ketergantungan saya dengan sebuah komputer (maksudnya saya MALAS menulis dengan alasan tidak ada komputer di rumah!) dari isi “daftar halangan menulis”. Dengan semangat, saya mengirim sms ke seorang FLP’ers hanya untuk menceritakan bahwa saya sudah bisa menulis hanya bermodalkan kertas HVS kosong dan pulpen seharga tiga ribu rupiah! Hanya masalah sepele ya? Tapi jujur, memang itu yang saya rasakan.

Saat ini, saya sedang mencoba menulis 2 buah cerpen, salah satunya tentang pernikahan di mata 2 orang cowok yang berbeda. Bukannya mandeg nulis, tapi layaknya ciri seorang penulis pemula yang mencari kesempurnaan ditambah lagi ucapan Mba HTR tentang tanggung jawab moral, saya berpikir untuk menunda cerpen itu dulu. Saya butuh lebih dari sekedar imaji. Kata bapak Hernowo, saya harus melejitkan kemauan dan kemampuan saya untuk membaca dan menulis buku. Jadi yang dibutuhkan saat ini adalah membaca buku tentang pernikahan, baru setelah itu menulis buku tentang pernikahan. Atau mungkin sebaiknya praktek dulu ya? Bukankah praktek itu lebih baik daripada teori ? He he he

“Yang Tersisa Bukan Berarti Sampah”

Kenapa saya menulis kalimat ini ? Sebenarnya sih saya cuma mau sekedar berbagi dengan FLP’ers. Mungkin ada yang seperti diri saya (kalau enggak ada pun justru lebih baik!), memposisikan dirinya seperti bagian- bagian yang tersisa… Tapi ibarat daur ulang.. dari yang tersisa pun kini menjadi barang seni eksotik, mahal dan banyak dicari orang! Jangan salah, masuk FLP itu memang BERAT ! Berat karena di dalamnya ada sekumpulan orang–orang pintar seperti kita yang punya banyak rasa CINTA … untuk saudara-saudara kita… Dan rasa CINTA untuk ALLAH tentunya.

Jadi…, terima kasih kepada SANG WAKTU yang telah memperkenalkan Saya dengan FLP. Dan FLP’ers… selamat menjadi “petualang imaji”…!

by Rahma