This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, March 13, 2006

World Book Day 2006-on Thursday

Kamis, 2 Maret 2006

Saya tergopoh-gopoh memasuki gerbang Depdiknas sambil menenteng sebuah kantong plastik besar dan dua buah styrofoam yang sudah disulap menjadi mading foto dan buletin. Jam menunjukkan pukul 10.30 (kira-kira), dan sepertinya FLP’ers lain yang sudah datang sejak pukul 9 pagi menunggu saya. Ada satu buah missed call dari Koko Nata. Semua barang-barang display dari FLP Bekasi memang saya yang pegang. Feeling guilty juga. Hanya karena sudah lama nggak berangkat dari Bekasi (saya kan sekarang tinggal di Bintaro), dan lupa bahwa tol selalu saja MACET, akhirnya jadi telat satu setengah jam.

Saya teringat tadi malam, tiba-tiba HP saya berdering dan muncul nomor tak dikenal.
“Halo, Vita, ini Dala, Vita.” Mbak Dala menelpon untuk menanyakan apa saya bisa membawa karpet atau tikar. Kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan detail stan dan barang-barang apa yang bisa dipajang. Mbak Dala menyambut antusias ketika saya bilang bahwa saya akan bawa dua styrofoam berisi foto dan buletin. Beliau juga menanyakan soal brosur berisi profil FLP pusat, dan akhirnya menyambut antusias lagi ketika saya bilang saya sudah memfotokopi brosur FLP Bekasi (karena hanya itu yang ada) dan buletin MOZAIK. Hmm … tampaknya persiapan menghadapi World Book Day sangat kurang. Saya bersyukur bahwa tahun ini sie dokumentasi dan buletin FLP Bekasi menjalankan tugasnya dengan baik (thanks to Nadiah n all MOZAIK Crew!). Setidaknya tahun ini kami berhasil menyumbangkan sesuatu, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ruangan Hall A Depdiknas dari kejauhan sudah tampak ramai. Spanduk-spanduk dibentangkan sejak di luar pagar sampai pintu masuk. Lokasi yang sangat strategis. Menginjakkan kaki di ruangan besar itu, saya terpana. Waaah … sudah ramai juga! Malah kursi-kursi di depan panggung utama (yang tepat berada di tengah-tengah ruangan) sudah terisi hampir penuh. Stan-stan pameran tersusun membentuk huruf U mengelilingi panggung, dan sepertinya nyaris tak ada yang masih kosong. Saya kebingungan, duh … stan FLP sebelah mana ya? Bukannya berjalan ke meja informasi, saya malah berjalan ke arah kiri, mengitari hampir semua stan sambil celingukan mencari-cari. Para penjaga stan tersenyum-senyum melihat saya. Wah, ada penjaga stan yang datang telat nih, mungkin begitu pikir mereka. Dulu, jaman saya masih suka jaim, saya pasti sudah panik dan berjalan mengendap-endap. Tapi karena sekarang sepertinya saya sudah lebih plegmatis, maka saya dengan cuek berjalan pelan-pelan sambil membaca satu per satu nama stan tersebut. Akhirnya saya kembali ke depan, dan bertanya ke bagian informasi. Yap. Ternyata stan FLP tercinta itu letaknya di sebelah kanan, di samping panggung, hampir di pojok pas di sebelah stan Rumah Dunia (yang penataannya cukup keren, disamping mereka dapat stan yang agak lebih luas). Sampai di sana, saya nyengir lebar pada Echa dan Elshi (dua orang rajin dari FLP Jakarta) dan berkata, “Hihihi … aku hampir nyasar, nih!”

Dua buah styrofoam yang saya bawa (dengan cemas, karena takut nggak boleh dipajang) ternyata disambut gembira oleh mereka. Stand mungil itu ternyata masih bisa dihias lebih heboh lagi. Sebuah kursi panjang, dua buah kursi standar dan sebuah meja tak terlalu besar yang semuanya terbuat dari bambu. Semua benda itu telah diisi oleh buku-buku pameran pinjaman dari Rumah Cahaya. Tak ada tempat duduk, dan akhirnya Koko Nata (FLP Depok) membeli alas duduk yang terbuat dari busa warna-warni yang bisa dilepas-pasang. Saya menempelkan mading foto dan buletin FLP Bekasi di sebuah pembatas stan (yang juga terbuat dari bambu). Pas sekali memang, dan rasanya panitia cukup mengerti bahwa semua peserta pasti membutuhkan tempat untuk memasang mading atau entah apa. Tadinya saya pikir kedua styrofoam itu akan diletakkan begitu saja di lantai bersandarkan kursi atau meja. Dan karena stan tersebut pas berada di bawah perpustakaan, tembok yang menjadi pemisah antara lantai satu dan perpustakaan dapat digunakan untuk menempelkan sesuatu (dan kedua orang rajin itu pasti sudah susah payah menempelkan buku-buku dari RumCay dengan double tape hingga terpajang dengan manis). Jadi lokasi dan bentuk stan sebenarnya sangat nyaman dan cukup fasilitas. Tadinya saya mendapat informasi bahwa stan tidak dapat dihias banyak sebab sangat sempit, dan tidak ada tempat untuk memajang sesuatu. Wah, lain kali tim survey musti lebih jeli lagi memberi informasi.

Dengan penuh kesederhanaan dan sedikit kreativitas (lagi-lagi dari Echa, Elshi, dan akhirnya kami semua turut membantu), stan itu telah siap. Tapi sepertinya kami semua tidak bisa bersempit-sempit di dalamnya, sebab akan menghalangi orang-orang yang akan masuk.

Orang-orang berdatangan, walau belum terlalu banyak. Kami membagikan profil FLP Bekasi, MOZAIK, dan pembatas buku dari LPPH. Ketika ada yang bertanya tentang FLP, saya, Koko, atau Evin (bener nggak tulisannya?) dari FLP Jakarta, menjawab sebisa kami, dan memberikan nomor kontak FLP Pusat dengan menuliskannya pada brosur, kertas yang mereka bawa, atau di balik pembatas buku. Sebab yang tertera di brosur FLP Bekasi yang nomor kontak kami saja. Sebuah teguran lagi untuk persiapan yang lebih matang. Tapi saya sendiri, terus terang saja, sangat senang menghampiri-menjawab-dan berpromosi ini itu pada pengunjung stan.

Seorang bapak berumur sekitar 50-an tahun menghampiri stan, dan bertanya pada Fitta atau Nonon (dari FLP Bekasi) yang langsung memanggil saya. Beliau mengaku berasal dari Komunitas Radio (sebuah komunitas independen yang entah resmi entah tidak). Setua itu beliau masih siaran dan katanya akan melaporkan kegiatan di WBD ini termasuk beberapa stan yang menarik.

“Oh, iya, saya akan membacakan profil stan pameran termasuk Lingkar Pena ini.”

Aha! Saya mendapat peluang menjalin relasi lagi. Dengan bersemangat saya menceritakan kegiatan FLP secara umum, cabang-cabangnya, dan lain-lain. Beliau tertarik sepertinya. Dan berkata,

“Dari dulu saya sudah menulis. Sejak kelas 4 SD. Tapi sekarang sudah tidak menulis lagi. Yang jelas saya sangat mendukung kegiatan membaca dan menulis seperti ini. Forum Lingkar Pena ya … bagus. Bagus sekali.”

“Sekarang nggak nulis lagi? Dimulai lagi dong, Pak …” ujar saya.

“Ya … ya … saya akan menulis lagi.” begitu katanya. Dan ia pun berpamitan, setelah sebelumnya mengatakan akan menghubungi kami suatu saat nanti.

Beberapa orang yang bertanya untuk diri sendiri, mewakili instansi atau untuk kepentingan lain, mereka yang meminta ijin untuk mengambil gambar untuk koleksi atau membuat liputan, semuanya adalah peluang untuk menjalin dan melebarkan jaringan kepada komunitas lain. Sebuah peluang bagus sekali untuk lebih ‘memasyarakatkan FLP’, begitu pikir saya. Tetapi kemudian saya memperhatikan kondisi stan itu (yang sampai sore belum terpasang sebuah logo pun), lalu beberapa orang penjaga stan. Teringat Fitta dan Nonon yang beberapa kali memanggil saya untuk meladeni pengunjung (wajar sih, mereka memang anggota baru), atau Echa yang berkata, “Harusnya yang jaga stan itu orang-orang yang te-pe (=tebar pesona). Nggak kayak kita yang nggak bisa te-pe.” Betul juga, pikir saya. Sehingga pengunjung akan tertarik (atau nggak enak buat nolak dan akhirnya masuk), mendapatkan brosur, dan melihat bahwa FLP sudah membuahkan banyak sekali buku-buku. Saya ingat seorang perempuan muda yang berkomentar,”Jadi itu semua buku-buku dari penulis FLP?” sambil menunjuk kursi-kursi dan tembok yang dipenuhi buku. Itu belum semua, batin saya.

Selepas istirahat dan salat, saya berjalan-jalan berdua Nonon mengitari ruangan besar yang semakin panas karena mulai dipenuhi pengunjung. Walau tidak sepenuh ketika datang ke Bookfair, tapi saya benar-benar bersemangat. Rasanya seperti ada di surga … hehehe. Saya sangat suka berada di antara buku-buku dan orang-orang yang menyukai buku. Dan beberapa stan memang ditata dengan sangat menarik. Stan dengan penataan terunik menurut saya adalah stan klub penggemar Lord of The Rings (entah apa nama perkumpulannya) dan stan klub penggemar Karl May. Si penjaga stan LoTR bahkan mengenakan jubah abu-abu dengan tudung kepala yang dibuka, menghias pintu masuk dengan gerbang daun, memajang beberapa souvenir khas LoTR, buku-bukunya, dengan standing banner yang cukup besar. Demikian juga dengan klub Karl May, yang menebarkan buku-buku edisi lama dan baru, versi komik dan novel, terbitan dalam dan luar negeri, serta sebuah lantai kosong berwarna kotak-kotak hitam-putih (seperti lantai kamar mandi) dengan sebuah kakus mainan di atasnya dengan sebuah benda berwarna aneh menyerupai otak manusia. Tulisan di bawahnya kira-kira berbunyi “kalau tidak membaca maka otak anda seperti ini”. Saya cengengesan memandangi kakus itu. Hebat sekali idenya.

Begitulah. Kadang sebuah peluang akan pergi ketika kita tak cekatan menangkapnya. Tapi sekali lagi saya menyayangkan tidak adanya koordinasi FLP Wilayah DKI Jakarta dan sekitar untuk WBD ini (maksud saya secara resmi atau diprogram). Walau mungkin, menurut Koko, ini adalah tugas FLP Pusat, tapi saya sendiri menganggap wilayah DKI-lah yang seharusnya dengan otomatis merasa bertanggung jawab akan pengalihan tugas tersebut. Apalagi event seperti ini akan berulang tiap tahun. Bukan hanya itu, saya juga menyayangkan sedikitnya (atau bahkan tidak ada?) inisiatif pengurus FLP Wilayah DKI Jakarta dan sekitar (yang baru melakukan satu kali koordinasi atau pertemuan pembentukan atau apalah namanya, selama beberapa bulan sejak terpilihnya ketua) untuk berkoordinasi (mengenai hal ini dan lainnya) ketika sang ketua sedang berhalangan. Sayang sekali, ya. Tulisan ini sekaligus menegur diri saya sendiri. Bagaimanapun, ini kan amanah …. Semoga kita semua bisa berbuat lebih baik lagi.

Sama sekali nggak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.35 ketika saya melirik jam, dan saya langsung berlari kecil kembali ke stan FLP. Segera berpamitan ke seluruh penjaga stan FLP (yang sedang asyik duduk membaca buku, atau bengong), sebab jadwal bus Trans Bintaro yang akan lewat adalah pukul 14.50. Terlambat beberapa detik saja, maka saya harus menunggu lagi sampai sore. Kata Echa, “Tumben banget ada bus tepat waktu kayak gitu.” Saya pun memamerkan jadwal bus Trans Bintaro yang selalu saya bawa ke mana-mana. Lalu saya pun meninggalkan empat orang cewek manis itu. Echa dan Elshi harus menunggu Koko kembali dari Depok (katanya mau cetak standing banner), sebab penjaga shift kedua belum jelas. Sabar ya Cha, Shi, … kalian mustinya dapat penghargaan anggota FLP ter-rajin. Hehehe….[DH]

Tuesday, March 07, 2006

World Book Day 2006-on Sunday (last day)

Minggu, 5 Maret 2006, Pkl. 12.30 WIb
Gedung utama Diknas tampak meriah dengan kehadiran beragam buku dan tentu saja pecinta buku. Di depan panggung, beberapa adik kecil tampak duduk santai menikmati dongeng yang disampaikan seseorang di atas panggung. Beberapa kali terdengar suara riuh mereka menirukan apa yang diucapkan kakak pendongeng. Saya dan Wiwiek langsung menuju stand FLP yang berada di sisi kanan panggung. Sudah ada Jonru, Koko dan Deny Prabowo. Stand memang terkesan kosong, karena ternyata hampir semua property sudah berpindah ke sebuah tiang yang ada di depan stand. Memang sih, lebih strategis. Beragam buku diletakkan di kursi dan meja yang disandarkan di tiang itu. Tak ketinggalan sejumlah foto yang bercerita tentang kegiatan FLP secara keseluruhan.
Tapi... eit, di mana ya property FLP Bekasi? Tidak ada tempelan sterofoam di tiang, kursi atau meja. Kenapa saya cari sterofoam? Karena kata yang bikin - Vita -, property FLP Bekasi dibikin dari sterofoam. O..ow.... dan akhirnya saya menemukannya, diletakkan di bagian bawah tiang, di samping kursi. Hm... jadi sedikit tidak terlihat dibanding saudara-saudaranya yang lain...
Ada 2 sterefoam. Yang 1 tentang mozaik, 1 lagi foto yang bercerita banyak tentang bagaimana semangat dan happy-nya para FLP'ers Bekasi. Duh, sayang ya... g bisa mejeng di tempat yang lebih strategis.
Sesaat kemudian, kita sempat ketemu dengan Nadia dan sempat berfoto ria...! Hi hi hi... saya bilang ke Wiwiek saat itu, anak Bekasi, kalau g jadi penulis, ya bakal jadi model.. :-p
Bosan hanya berdiri di depan stand, saya dan Wiwiek berkeliling mengunjungi stand-stand lainnya. Dan ini dia yang ingin saya dan Wiwiek jadikan oleh-oleh utama!
Kami berkunjung ke stand Yayasan Mitra Netra. Saat ini mereka punya kegiatan : "SERIBU BUKU UNTUK TUNANETRA". Intinya nih... kita2 diminta sukarela 'mengetik ulang' 1 buku koleksi pribadi, lalu dikirim ke Yayasan Mitra Netra. Nah... nanti oleh mereka, hasil ketikan kita ditransfer ke bahasa braile. Jadi, saudara kita yang tunanetra itu... bisa ikutan baca buku-buku kita. Tahu kan... tidak semua buku juga diciptakan untuk para tunanetra ?
Saya yakin, FLP'ers Bekasi mau berbagi kebahagiaan dengan mereka. Caranya mudah kok. Kita informasikan ke mereka buku apa yang mau kita ketik. Kalau buku kita belum ada yang kirim, berarti bisa kita lanjutkan . Tapi kalau sudah ada yang kirim, berarti cari buku yang lainnya. Nah, setelah dapat konfirmasi, kita bisa isi formulir dan langsung ketik ulang deh bukunya. N segera kirim sesuai dengan janji kita.
Untuk jelasnya, kontak aja ke :
Yayasan Mitra Netra,
Cp :Indah Intantila / Firdaus
Pendaftaran online : www.mitranetra.or.id/ebook
Hm... coba deh banyangin senyum manis mereka ketika membaca buku hasil ketikan kita ... [rh]

Dear all,

Banyak sekali yang harusnya diposting di sini. Salah satunya adalah event World Book Day 2006 di Depdiknas yang baru saja berlalu. Yang sudah saya tulis laporannya, namun apa daya, warnet Rp5000/jam yang koneksinya lumayan cepet ini ternyata nggak ada satu pun kompu yang ada floopy disknya.

Ya sudahlah ... next time saya kembali ke warnet yang Rp5000/jam tapi lumayan lemot dan musti sabar-sabar...demi posting laporan-laporan pertemuan yang sudah tertunda sekian lama. Maaf ya...

Monday, October 03, 2005

Ahad 2 Oktober 2005: Sebuah Catatan

Ahad, 2 Oktober 2005

Pukul 08.00 WIB, saya dan teman-teman dari FLP Bekasi dan juga SMU Muhammadiyah sudah bersiap-siap di tempat acara: SMU Muhammadiyah 9 Bekasi. Halaman sekolah tampak lengang. Gedung SMU pun terlihat sepi, kecuali di satu ruang besar yang terletak di lantai 2. Ruang aula yang akan menjadi tempat acara berlangsung pun masih sepi. Ketika saya menjenguk ke dalam, hanya terlihat Irshad (ketua pelaksana acara dari FLP Bekasi), Ikhwan (ketua tim teknis dari SMU Muhammadiyah), dan sekitar dua orang lainnya. Pandangan saya pertama kali tertuju pada backdrop ruangan, yang dibuat keroyokan oleh teman-teman dari SMU Muhammadiyah, yang tampaknya hampir-hampir tidak bisa dipasang. Backdrop sederhana itu dibuat dari gabus putih berbentuk segiempat yang ditempeli huruf-huruf yang dilapisi karton warna-warni. Saya kemudian ingat perkataan Ninies dan Ikhwan ketika rapat terakhir, bahwa backdrop itu mereka buat sendiri dari sisa bahan-bahan yang ada di sekolah, sehingga tidak perlu membeli lagi. Klise memang, kami kekurangan dana. Saya lantas menggigit bibir, backdrop itu … jantung saya berdetak keras, membayangkan kekecewaan dari beberapa orang yang akan hadir. Tapi saya segera lupa akan pikiran itu.

Ruang aula yang sebenarnya terdiri dari 3 kelas dijadikan satu itu terlihat cukup luas. Saya tidak memikirkan apakah nantinya ruangan itu akan terisi penuh atau tidak. Saya, dan juga mbak Rahma yang baru saja datang, langsung turun lagi ke bawah, tempat pendaftaran peserta, untuk memeriksa apakah ada hal-hal yang kurang.

Kardus-kardus konsumsi menumpuk di pojok tangga dekat pintu masuk. Tempat pendaftaran yang terletak mepet ke tangga, sempit, dan sedikit terganggu dengan letak tempat itu yang berdekatan dengan tempat sampah. Tumpukan majalah ANNIDA untuk souvenir peserta … saya sedikit membayangkan para peserta yang harus berdesak-desakan masuk ke dalam, membeli tiket, dan entah kepanikan apa yang mungkin akan terjadi. Saya kemudian bergegas memeriksa lokasi bazaar. Enam buah meja yang disusun menjadi tiga stand bazaar. Hari masih pagi, mungkin siang nanti teman-teman yang bertugas menjaga stand bazaar tidak akan seceria sekarang. Tempat terbuka, panas pastinya.

Saya berkeliling ke depan sekolah, memerhatikan sekali sebuah spanduk hijau yang tergantung di sisi depan gedung itu. Saya kembali teringat pada backdrop di ruang aula, dan terngiang percakapan dengan beberapa orang panitia teknis saat rapat dan malam sebelum acara melalui telepon.

“Mbak, spanduknya terlanjur dicetak nih … dan nggak ada logonya,”
“Aduh! Tempel aja kalo gitu, ya. Nanti diprint, trus langsung ditempel aja, nggak apa-apa kok, yang penting ada.”
“Mbak, emang penting banget ya nyantumin logo? Tulisannya emang musti ada?”:
“Uang konsumsi yang kemarin harus diganti segera, Mbak? Kayaknya kita kekurangan dana nih, Mbak!”
“Mbak, majalah beres, bazaar beres, sound system beres, pokoknya udah semua.”

Pukul 9 kurang sekian menit, mbak Rahma masih terlihat bolak-balik di ruang aula, dan kemudian turun lagi ke tempat pendaftaran. Ninies dan Ilham, yang akan menjadi MC acara, terlihat sedikit gugup, malah kertas contekan mereka sempat hilang! Pembaca tilawah dan sari tilawah tidak hadir, dan akhirnya digantikan (dengan sedikit paksaan) oleh Maulana (anggota FLP Bekasi, yang ditelpon mendadak dan dipaksa datang). Peserta yang berseliweran di lokasi bazaar dan di ruang aula, matahari yang mulai terik, panitia teknis yang berkali-kali menghampiri mbak Rahma untuk bertanya ini-itu, sepertinya semua mulai gugup.

Pukul 10 kurang sekian menit, semua pembicara hadir. Mas Boim yang sampai lebih dulu, dan rombongan dari LPPH langsung naik ke ruang aula.

Kedua MC acara terlihat makin gugup, mbak Rahma sibuk meyakinkan mereka bahwa semua akan beres. Irshad, yang tampak sedikit lebih tenang, juga ikut mundar-mandir. Saya mencari-cari mbak Nanik, yang ternyata sedang berbicara dengan sie dokumentasi (yang terbengong mendengarkan mbak Nanik). Jantung saya berdetak kencang,

"Mbak Nanik ..." saya menyapanya.
"Vita! Seharusnya saya temuin kamu dari tadi! Vit ..."

Yap. Setiap pekerjaan yang telah direncanakan, ternyata pasti menyimpan sebuah kekurangan. Tapi kali ini rupanya cukup fatal dan mengecewakan. Bagi saya, dan juga panitia lainnya, bukan lagi kecewa. Rasa tak enak, bersalah, bingung, dan resah yang tersimpan sampai akhir acara. Satu hal yang benar-benar luput dari perhatian kami semua sampai di persiapan akhir acara: mencantumkan logo sponsor pada spanduk. Hiks ....

Hingga pukul 11, acara berlangsung cukup meriah. Mas Boim dan mbak Asma sepertinya menjadi favorit peserta, dengan semangat dan keterampilan mereka membawakan acara. Acara yang dibuka dengan pembacaan cerpen oleh Birulaut cukup memikat peserta. Selanjutnya, acara talk show yang dipandu oleh mbak Asma sangat memberikan inspirasi dan masukan berharga untuk semua peserta dan juga anggota FLP Bekasi sendiri. Terutama ketika mendengar pengalaman dari Deny Prabowo dan Leyla Imtichanah, yang diperkenalkan mbak Asma sebagai penulis-penulis muda yang cukup produktif.

Di penghujung acara, LPPH membagikan doorprize berupa buku-buku terbitan LPPH bagi beberapa peserta yang terpilih atas tulisan terbaik mereka pada tugas yang telah diberikan saat acara. Panitia yang juga telah menyiapkan hadiah bagi peserta akhirnya memberikan beberapa pertanyaan ringan, yang dijawab dengan berebutan. Pameran buku-buku terbaru dari LPPH pun menarik peserta dan panitia, bazaar diserbu!

Pukul tiga sore, panitia teknis masih sibuk membereskan ruang aula dan lokasi bazaar. Semua tampak lelah. Bagaimanapun, kami semua sangat bersyukur. Terima kasih untuk semua yang telah mendukung acara.



FLP Bekasi thanks to ...

Assalamu’alaikum wr wb.

Alhamdulillah …
Pada Ahad, 2 Oktober 2005 kemarin, telah dilaksanakan FLP Bekasi Goes to School di SMU Muhammadiyah 9 Bekasi.

FLP Bekasi khususnya, dan juga seluruh panitia acara, mengucapkan TERIMA KASIH kepada seluruh sponsor dan pendukung acara. Acara yang telah direncanakan cukup lama ini akhirnya bisa terlaksana juga, walau dengan banyak sekali kekurangan di sana-sini. FLP Bekasi dan juga teman-teman panitia teknis dari SMU Muhammadiyah 9 Bekasi berharap acara ini dapat memberikan manfaat bagi para peserta, dan terutama hikmah yang besar sekali bagi kami semua untuk dapat menyelenggarakan acara berikutnya dengan lebih baik lagi.

THANKS TO:

LINGKAR PENA PUBLISHING HOUSE – sebagai sponsor utama acara
Untuk mbak Nanik, mbak Nita, mbak Asma, mbak Leyla, mas Birulaut, mas Boim, dan seluruh rekan-rekan dari LPPH, terima kasih atas semua bantuan untuk acara ini. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekurangan yang ada, mohon maaf bila telah mengecewakan, semoga LPPH berkenan memaafkan kekurangan kami tersebut dan kami sangat berharap di lain kesempatan kita dapat menjalin kerja sama lagi.

SMU MUHAMMADIYAH 9 BEKASI
Kepada IRM Muhammadiyah 9 Bekasi, kepada Pimpinan Cabang dan Daerah Muhammadiyah Bekasi, kepada Kepala Sekolah beserta seluruh staf guru dan karyawan, kepada seluruh teman-teman;adik-adik murid SMU Muhammadiyah 9 Bekasi; terima kasih atas kontribusinya, pengorbanan serta semangat kalian dalam menyelenggarakan acara ini.

SMU 1 Bekasi
Khususnya teman-teman dari KANSAS SMU 1 Bekasi, dan staf guru yang mendukung acara ini, terima kasih atas dukungannya. Semoga di lain kesempatan kami dapat menyelenggarakn acara serupa di SMU 1 Bekasi.

DAKTA FM
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk menyiarkan Talk Show sebagai sarana promosi acara, dan setiap bantuan yang telah diberikan untuk acara ini.

Majalah ANNIDA
Terima kasih atas bantuan pemberian majalah ANNIDA sebagai souvenir bagi peserta acara.

Syaheed dan Percetakannya (namanya apa ya?)
Terima kasih untuk bantuan pembuatan spanduk acara.

Para donatur
Mohon maaf bila tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih atas bantuannya.

Teman-teman FLP Bekasi, yang turut hadir untuk meramaikan acara.

Dan pihak-pihak lain yang mungkin belum disebutkan
Terima kasih yang sebesar-besarnya.


Semoga di acara FLP Bekasi Goes to School berikutnya kami dapat memperbaiki segala kekurangan dan menyelenggarakan acara ini dengan lebih baik lagi.

Wassalamu'alaikum wr wb
Panitia Acara FLP Bekasi Goes to School

Monday, August 15, 2005

"Miss Chatting"

“Kamu mau chatting lagi, Ra?”

Eh…dia malah senyum-senyum sendirian. Tangannya masih sibuk membereskan buku-buku dan memasukkannya semua ke dalam tas.

“Memangnya kamu ada janji chatting jam berapa sih? Sekarang? Emangnya penting banget ya, Ra?”

Rara menoleh padaku sebentar, lalu mengedipkan matanya, dan kembali sibuk dengan tasnya.

“Huuh..! Dasar centil!” Kataku kesal. Memangnya enak dicuekin ?!


Ketagihan chatting?? Owh, No!!! Begitulah Lindi, seorang cewek manis yang masih duduk di bangku SMA. Awalnya, ia bisa dibilang gaptek dan tidak mengenal internet sama sekali. Ternyata hobi chatting itu 'ditularkan' secara tidak sengaja dari sahabatnya, Rara, dan segera menjadi kegiatan favorit Lindi hampir setiap pulang sekolah. Sampai ketika Lindi 'terjebak' pada rayuan gombal para teman chatting yang sebenarnya tidak ia kenal. Gimana perjuangan Lindi belajar chatting? Apa yang akhirnya dapat 'menyembuhkan' Lindi dari 'demam chatting'?

Baca aja sendiri!!! Jangan sampe ketinggalan, ya!!!

"Miss Chatting"

(karya DH Devita)

dalam buku

"I Love U SoMad"

Antologi Milad LPPH 2005

Penerbit: Lingkar Pena Publishing House



Image hosted by Photobucket.com


ps. segera satronin toko buku terdekat!



Tuesday, August 02, 2005

Hampir Sebulan Lagi...

Ahad, 31 Juli 2005,

Untuk yang ke sekian kalinya, pertemuan rutin berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Sekitar pukul satu siang, saya telah duduk bersila di selasar perpustakaan Darul Ulum Islamic Center Bekasi. Siang bolong, langit tak tampak cerah, pertanda akan hujan. Dalam hati, saya bertanya-tanya, siapakah saja yang akan hadir nanti. Jadwal Ahad itu cukup padat: bedah cerpen dan akan disambung dengan rapat panitia FLP Bekasi Goes to School.

Sekitar sepuluh menit kemudian, saya sudah ditemani oleh mbak Rahma. Dan kami sedikit banyak membahas konsep acara yang memang jadi tanggung jawab berdua. Lalu beberapa orang mbak-mbak yang manis muncul, ragu-ragu bertanya, "Lingkar Pena, ya?" Wah, ternyata 'pendatang baru' lagi. Dan hari itu kami ditemani oleh enam orang peserta baru. Selamat bergabung, semuanya! Jelas-jelas semakin besar harapan pengurus akan regenerasi di bulan September nanti.

Cerpen berjudul "Ada Puyang di Kampung Silam", karya Hadi Hariyanto. Menarik. Berani. Unik. Dan diskusi berjalan cukup padat akan masukan positif buat Hadi. Entah apa yang ada di benaknya, saya jadi teringat Gavin dan Lina Nurfalah. Dua orang yang sudah sempat 'dibantai' pada forum ini, bedah cerpen. Memang tak sering dilakukan, sebab jadwal pemberian materi untuk kelompok Muda dan Madya saja sudah cukup sedikit porsinya. Catatan tambahan bagi saya pribadi: perbaiki sistem kaderisasi.

Wiwiek, si pemberi komentar pertama. Ha. Rupanya cewek yang 'gila buku' ini sudah berkembang pesat sekali. Terus terang, saya agak terpana mendengarkan komentar-komentarnya yang disampaikan dengan tajam dan tegas. Saya tersenyum kemudian, sambil sedikit berbisik-bisik dengan mbak Rahma, "Udah makin jago dia," dan berbisik sendiri dalam hati, "Wah, bisa nih jadi pengganti gue," Haha...sorry, Wiek! Tercetus begitu aja, sih.

Nia, termasuk newcomer juga, tapi sejak awal minat dan komitmennya yang besar pada dunia tulis-menulis dan FLP sangat terlihat. Terbukti juga dari kesudahan acara tersebut, sekali lagi Nia menyerahkan naskahnya.
You go, girl!

Chris, juga pendatang baru, yang kalem dan adem-ayem, tapi saya yakin komentar sederhananya dibuahkan dari pikiran yang mendalam. Chris kelihatan begitu serius dan menikmati diskusi hari itu. Low profile sekali, walau saya tahu, Chris bukanlah seorang pemula. Benar saja. Satu buah judul cerpen yang diserahkannya telah memikat saya seketika. Nyala semangat itu tertuang di sana. Saya sudah mencatatnya baik-baik, satu lagi nama seorang 'calon penulis' yang pasti akan saya beli buku-bukunya kelak (yang satu lagi juga FLP'ers Bekasi, seorang yang selalu bisa merangkai judul tulisan yang begitu menarik hati).

Yang sedikit membuat kaget adalah antusiasme dari enam orang newcomers itu dan dua orang adik-adik dari SMU 1 Bekasi. Komentar dan tanggapan mereka tak kalah berbobotnya (fresh, habis ikut pelatihan sih ya?!). Saya kembali tersenyum-senyum, berdoa dalam hati, mudah-mudahan regenerasi ini berjalan lancar. Otak ini bermain-main, berbagai rencana dan email teman-teman di milis FLP berputar-putar. Kepengurusan mendatang harus lebih baik!

Hadi menerima banyak sekali kritikan. Tapi tampaknya tak pudar cahaya itu di matanya. Ia makin sering menelpon dan mengirim sms kepada saya. Pernah suatu malam, nama seorang Djenar tersebut dalam diskusi kami. Lelah, tapi saya yakin itu berharga.

Rapat kami, deru itu makin bergemuruh dalam dada saya. Ah, teringat hampir setahun lalu. Tak ada Wiwiek, mbak Rahma, Naila, Hadi, Chris, dan seorang Irshad. Panitia tak bisa dihitung. Cuma ada saya, dan bang Komar. Rupanya kekuatan yang tak seberapa itu menghasilkan sekian teman-teman yang begitu saya cintai kini. September, hampir sebulan lagi....


-Vita -