This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Saturday, April 21, 2007
Monday, March 26, 2007
Inagurasi II FLP Bekasi: Menggali Ilmu di Rumah Dunia

Berbeda dengan Inagurasi pertama yang berlokasi di Bekasi, kali ini FLP Bekasi berkunjung ke Rumah Dunia, Serang. Berangkat pukul 8.30 WIB, ngaret satu setengah jam dari rencana semula, sempat membuat beberapa anggota BT. Tapi rasa BT itu sirna, setelah dua jam kemudian sebuah bangunan bertuliskan Rumah Dunia terpampang di depan mata. Beberapa relawan menyambut di pintu gerbang. Rupanya mereka sudah menanti kedatangan kami. Terbukti beberapa kursi sudah diatur rapi di bawah pohon.
Cuaca cukup panas siang itu, namun tiupan angin sepoi-sepoi mampu membuat suasana menjadi sejuk. Herlan, ketua panitia, membuka acara. Diawali dengan sambutan dari Ketua FLP Bekasi, acara berlanjut dengan bincang-bincang santai mengenai Rumah Dunia. Komunitas nirlaba yang peduli terhadap dunia pendidikan dan budaya ini didirikan sejak 2002 oleh Gola Gong dan istrinya Tias Tatanka. Beberapa relawan yang hadir menceritakan awal keikutsertaanya dalam kegiatan Rumah Dunia. Roni, salah satu relawan menceritakan pengalamannya. Awalnya ia merasa tertipu karena bukan diajari menulis. Alih-alih ia dijadikan petugas kebersihan yang menyapu Rumah Dunia. Tapi justru di situ letak keunikannya. Gola Gong berharap semua orang yang belajar di Rumah Dunia juga memiliki sense of belonging terhadap tempat itu. Beberapa komentar lucu terlempar dalam diskusi ringan itu, membuat suasana menjadi santai.
Setelah sholat dan makan siang, diskusi bersama Gola Gong yang menjadi agenda utama inagurasi dimulai. Dengan tema “Asyiknya Jadi Penulis”, Gola Gong menceritakan pengalaman-pengalamannya sebagai penulis dan tak lupa memberikan beberapa tips. “Untuk menjadi penulis yang baik, kita jangan malas melakukan riset. Baik riset lapangan maupun riset literature,” petuah Gola Gong.
“Seperti layaknya seorang pendekar, riset lapangan dan kegiatan membaca merupakan proses pengisian tenaga dalam bagi seorang penulis. Sehingga ketika kita menggoreskan pena, ide-ide itu akan keluar secara otomatis,” lanjutnya.
Diskusi berjalan satu jam dan diakhiri dengan pemberian plakat dari FLP Bekasi kepada Rumah Dunia.
Acara selanjutnya adalah games. Anggota dibagi menjadi tiga kelompok. Tiap kelompok diberi tugas untuk membuat yel-yel dan kemudian memperagakannya di depan. Tugas kedua adalah menghayal. Masing-masing kelompok diberi pertanyaan: apa yang akan mereka lakukan jika menjadi Harry Potter, Cinderella dan Dora. Beberapa jawaban lucu terdengar, membuat suasana menjadi seru.
Sementara yang menjadi Dora ingin menghilangkan poni rambutnya karena Dora culun kalo pake poni.
Tidak kalah serunya dengan kelompok yang menjadi Harry Potter. Seorang anggota menjawab ia akan mengganti pesawat terbang dengan sapu terbang, sehingga peristiwa hilangnya Adam air tidak akan terjadi lagi.
Puas bergelak tawa, acara selanjutnya adalah pemberian sertifikat. Sertifikat pertama diberikan kepada Via Madini sebagai anggota tanpa absent. Yup, selama 8 kali pelatihan, Via selalu datang, padahal rumahnya di Kalideres loch.
Two thumbs up for Via!
Waktu telah menunjukan pukul 15.30, saatnya kami harus pulang.Foto bersama merupakan hal yang wajib. Maka masing-masing anggota berebut tempat agar bisa berpose di sebelah Gola Gong. Beberapa anggota yang kurang puas malah meminta foto berdua dengan Mas Gola Gong.
Seandainya ketua FLP Bekasi tidak menghentikannya, mungkin acara foto-foto itu bisa berlangsung sampai malam.
Saturday, May 27, 2006
Tampilan Baru???
Kami berharap pengunjung bisa memberikan komentar berupa saran or kritik. Yang mau gabung di FLP bekasi juga silakan aja. Yang mau gabung di milis, silakan kirim email ke alamat yang tercantum di blog, nanti akan di-add.
Segitu dulu basa-basinya. Met lihat-lihat 'rumah kami' yang baru. Enjoy! [DH]
Wednesday, March 22, 2006
Pertemuan Rutin FLP Bekasi, Ahad 12 Maret 2006
Vita, Yani, Ruzi,Ayi dan Dian sudah berada di sana , ketika saya datang.
“He…he… iya sorry, macet sih” jawab saya dengan wajah bersalah.
Monday, March 13, 2006
Inaugurasi FLP Bekasi: Siap-siap!!!
Selama 4 bulan, mereka semua tak boleh absen lebih dari 2 kali. Bila absensi melebihi yang ditolerir, maka hak calon anggota untuk mendapat predikat jenjang “Muda” telah hilang, walaupun tetap diperbolehkan untuk hadir pada tiap pertemuan. Menyerahkan sebuah tulisan utuh (baik berupa cerpen maupun artikel), merupakan syarat berikutnya. Dua hal tersebut sepertinya memang tak terlalu sulit untuk dipenuhi, namun pada kenyataannya tidak begitu. Mungkin ada yang berpikir bahwa peraturan yang diterapkan terlalu ketat dan sebagainya. Namun begitulah kedisiplinan yang dicoba untuk dibangun oleh pengurus FLP Bekasi. Bahwa menjadi bagian dari Forum Lingkar Pena berarti berpartisipasi dalam bidang kepenulisan, keorganisasian, dan pengkaderan. Tiga hal tersebut pastinya akan mengembangkan potensi para anggota sendiri, dan menjadi penguat Forum Lingkar Pena sebagai organisasi pengkaderan penulis.
Tidak hanya calon anggota Muda yang mengikuti inaugurasi nanti. Sejak berdiri pada tahun 2004 lalu, FLP Bekasi memang belum pernah melaksanakan inaugurasi, walaupun training kepenulisan sudah berjalan rutin. Maka, pada waktunya nanti, seluruh anggota lama dan pengurus akan ikut di-inaugurasi bersama dengan calon anggota baru. Hal ini dilakukan untuk merapikan proses kaderisasi sekaligus sebagai upaya bersikap adil kepada seluruh anggota. Jangan salah, setiap pertemuan rutin, sebagian besar anggota lama dan pengurus juga mengikuti acara bersama-sama dengan mereka. Yah, karena kami semua sadar bahwa ilmu yang sudah ‘dikantongi’ baru sedikit sekali, dan jalan untuk menjadi seorang penulis masih sangat panjang.
Beberapa orang calon anggota sudah mulai bertanya-tanya: inaugurasi itu ngapain aja sih? Tenang …! Jangan membayangkan bakal disiram air comberan atau disuruh lari-lari keliling hutan. Inaugurasi I FLP Bekasi saat ini sedang dipersiapkan oleh pengurus, dan pastinya akan menjadi acara kejutan bagi anggota. Hingga hari H nanti, sepertinya kami tidak berkenan untuk membagi bocoran sedikit pun. Yang jelas, mungkin tidak akan ada acara mewah dan super heboh. Sederhana saja. Silaturahmi, itu sudah pasti. Yang lainnya? Wah … lihat saja nanti!
Sudah bulan Maret, berarti 6 bulan lagi FLP Bekasi akan menapaki tahun kedua. Para pengurus ternyata sudah hampir 2 tahun menjabat dan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan cinta dan jerih payah mengembangkan forum tercinta ini. Tapi, tanpa adanya sebuah regenerasi, organisasi tidak akan melangkah maju dan mungkin akan mengalami kondisi stagnan. FLP Bekasi sangat membutuhkan ide-ide cemerlang dan semangat baru untuk memandu kiprahnya dalam dunia kepenulisan. Khususnya dalam hal kepengurusan. Lalu, pengurus lama akan meninggalkan FLP Bekasi begitu saja? Tentu tidak! Isi kepala kami saat ini sedang berputar-putar merencanakan sesuatu yang baru lagi. Mau tahu? Tungggu saja! [DH]
World Book Day 2006-on Thursday
Saya tergopoh-gopoh memasuki gerbang Depdiknas sambil menenteng sebuah kantong plastik besar dan dua buah styrofoam yang sudah disulap menjadi mading foto dan buletin. Jam menunjukkan pukul 10.30 (kira-kira), dan sepertinya FLP’ers lain yang sudah datang sejak pukul 9 pagi menunggu saya. Ada satu buah missed call dari Koko Nata. Semua barang-barang display dari FLP Bekasi memang saya yang pegang. Feeling guilty juga. Hanya karena sudah lama nggak berangkat dari Bekasi (saya kan sekarang tinggal di Bintaro), dan lupa bahwa tol selalu saja MACET, akhirnya jadi telat satu setengah jam.
Saya teringat tadi malam, tiba-tiba HP saya berdering dan muncul nomor tak dikenal.
“Halo, Vita, ini Dala, Vita.” Mbak Dala menelpon untuk menanyakan apa saya bisa membawa karpet atau tikar. Kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan detail stan dan barang-barang apa yang bisa dipajang. Mbak Dala menyambut antusias ketika saya bilang bahwa saya akan bawa dua styrofoam berisi foto dan buletin. Beliau juga menanyakan soal brosur berisi profil FLP pusat, dan akhirnya menyambut antusias lagi ketika saya bilang saya sudah memfotokopi brosur FLP Bekasi (karena hanya itu yang ada) dan buletin MOZAIK. Hmm … tampaknya persiapan menghadapi World Book Day sangat kurang. Saya bersyukur bahwa tahun ini sie dokumentasi dan buletin FLP Bekasi menjalankan tugasnya dengan baik (thanks to Nadiah n all MOZAIK Crew!). Setidaknya tahun ini kami berhasil menyumbangkan sesuatu, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Ruangan Hall A Depdiknas dari kejauhan sudah tampak ramai. Spanduk-spanduk dibentangkan sejak di luar pagar sampai pintu masuk. Lokasi yang sangat strategis. Menginjakkan kaki di ruangan besar itu, saya terpana. Waaah … sudah ramai juga! Malah kursi-kursi di depan panggung utama (yang tepat berada di tengah-tengah ruangan) sudah terisi hampir penuh. Stan-stan pameran tersusun membentuk huruf U mengelilingi panggung, dan sepertinya nyaris tak ada yang masih kosong. Saya kebingungan, duh … stan FLP sebelah mana ya? Bukannya berjalan ke meja informasi, saya malah berjalan ke arah kiri, mengitari hampir semua stan sambil celingukan mencari-cari. Para penjaga stan tersenyum-senyum melihat saya. Wah, ada penjaga stan yang datang telat nih, mungkin begitu pikir mereka. Dulu, jaman saya masih suka jaim, saya pasti sudah panik dan berjalan mengendap-endap. Tapi karena sekarang sepertinya saya sudah lebih plegmatis, maka saya dengan cuek berjalan pelan-pelan sambil membaca satu per satu nama stan tersebut. Akhirnya saya kembali ke depan, dan bertanya ke bagian informasi. Yap. Ternyata stan FLP tercinta itu letaknya di sebelah kanan, di samping panggung, hampir di pojok pas di sebelah stan Rumah Dunia (yang penataannya cukup keren, disamping mereka dapat stan yang agak lebih luas). Sampai di sana, saya nyengir lebar pada Echa dan Elshi (dua orang rajin dari FLP Jakarta) dan berkata, “Hihihi … aku hampir nyasar, nih!”
Dua buah styrofoam yang saya bawa (dengan cemas, karena takut nggak boleh dipajang) ternyata disambut gembira oleh mereka. Stand mungil itu ternyata masih bisa dihias lebih heboh lagi. Sebuah kursi panjang, dua buah kursi standar dan sebuah meja tak terlalu besar yang semuanya terbuat dari bambu. Semua benda itu telah diisi oleh buku-buku pameran pinjaman dari Rumah Cahaya. Tak ada tempat duduk, dan akhirnya Koko Nata (FLP Depok) membeli alas duduk yang terbuat dari busa warna-warni yang bisa dilepas-pasang. Saya menempelkan mading foto dan buletin FLP Bekasi di sebuah pembatas stan (yang juga terbuat dari bambu). Pas sekali memang, dan rasanya panitia cukup mengerti bahwa semua peserta pasti membutuhkan tempat untuk memasang mading atau entah apa. Tadinya saya pikir kedua styrofoam itu akan diletakkan begitu saja di lantai bersandarkan kursi atau meja. Dan karena stan tersebut pas berada di bawah perpustakaan, tembok yang menjadi pemisah antara lantai satu dan perpustakaan dapat digunakan untuk menempelkan sesuatu (dan kedua orang rajin itu pasti sudah susah payah menempelkan buku-buku dari RumCay dengan double tape hingga terpajang dengan manis). Jadi lokasi dan bentuk stan sebenarnya sangat nyaman dan cukup fasilitas. Tadinya saya mendapat informasi bahwa stan tidak dapat dihias banyak sebab sangat sempit, dan tidak ada tempat untuk memajang sesuatu. Wah, lain kali tim survey musti lebih jeli lagi memberi informasi.
Dengan penuh kesederhanaan dan sedikit kreativitas (lagi-lagi dari Echa, Elshi, dan akhirnya kami semua turut membantu), stan itu telah siap. Tapi sepertinya kami semua tidak bisa bersempit-sempit di dalamnya, sebab akan menghalangi orang-orang yang akan masuk.
Orang-orang berdatangan, walau belum terlalu banyak. Kami membagikan profil FLP Bekasi, MOZAIK, dan pembatas buku dari LPPH. Ketika ada yang bertanya tentang FLP, saya, Koko, atau Evin (bener nggak tulisannya?) dari FLP Jakarta, menjawab sebisa kami, dan memberikan nomor kontak FLP Pusat dengan menuliskannya pada brosur, kertas yang mereka bawa, atau di balik pembatas buku. Sebab yang tertera di brosur FLP Bekasi yang nomor kontak kami saja. Sebuah teguran lagi untuk persiapan yang lebih matang. Tapi saya sendiri, terus terang saja, sangat senang menghampiri-menjawab-dan berpromosi ini itu pada pengunjung stan.
Seorang bapak berumur sekitar 50-an tahun menghampiri stan, dan bertanya pada Fitta atau Nonon (dari FLP Bekasi) yang langsung memanggil saya. Beliau mengaku berasal dari Komunitas Radio (sebuah komunitas independen yang entah resmi entah tidak). Setua itu beliau masih siaran dan katanya akan melaporkan kegiatan di WBD ini termasuk beberapa stan yang menarik.
“Oh, iya, saya akan membacakan profil stan pameran termasuk Lingkar Pena ini.”
Aha! Saya mendapat peluang menjalin relasi lagi. Dengan bersemangat saya menceritakan kegiatan FLP secara umum, cabang-cabangnya, dan lain-lain. Beliau tertarik sepertinya. Dan berkata,
“Dari dulu saya sudah menulis. Sejak kelas 4 SD. Tapi sekarang sudah tidak menulis lagi. Yang jelas saya sangat mendukung kegiatan membaca dan menulis seperti ini. Forum Lingkar Pena ya … bagus. Bagus sekali.”
“Sekarang nggak nulis lagi? Dimulai lagi dong, Pak …” ujar saya.
“Ya … ya … saya akan menulis lagi.” begitu katanya. Dan ia pun berpamitan, setelah sebelumnya mengatakan akan menghubungi kami suatu saat nanti.
Beberapa orang yang bertanya untuk diri sendiri, mewakili instansi atau untuk kepentingan lain, mereka yang meminta ijin untuk mengambil gambar untuk koleksi atau membuat liputan, semuanya adalah peluang untuk menjalin dan melebarkan jaringan kepada komunitas lain. Sebuah peluang bagus sekali untuk lebih ‘memasyarakatkan FLP’, begitu pikir saya. Tetapi kemudian saya memperhatikan kondisi stan itu (yang sampai sore belum terpasang sebuah logo pun), lalu beberapa orang penjaga stan. Teringat Fitta dan Nonon yang beberapa kali memanggil saya untuk meladeni pengunjung (wajar sih, mereka memang anggota baru), atau Echa yang berkata, “Harusnya yang jaga stan itu orang-orang yang te-pe (=tebar pesona). Nggak kayak kita yang nggak bisa te-pe.” Betul juga, pikir saya. Sehingga pengunjung akan tertarik (atau nggak enak buat nolak dan akhirnya masuk), mendapatkan brosur, dan melihat bahwa FLP sudah membuahkan banyak sekali buku-buku. Saya ingat seorang perempuan muda yang berkomentar,”Jadi itu semua buku-buku dari penulis FLP?” sambil menunjuk kursi-kursi dan tembok yang dipenuhi buku. Itu belum semua, batin saya.
Selepas istirahat dan salat, saya berjalan-jalan berdua Nonon mengitari ruangan besar yang semakin panas karena mulai dipenuhi pengunjung. Walau tidak sepenuh ketika datang ke Bookfair, tapi saya benar-benar bersemangat. Rasanya seperti ada di surga … hehehe. Saya sangat suka berada di antara buku-buku dan orang-orang yang menyukai buku. Dan beberapa stan memang ditata dengan sangat menarik. Stan dengan penataan terunik menurut saya adalah stan klub penggemar Lord of The Rings (entah apa nama perkumpulannya) dan stan klub penggemar Karl May. Si penjaga stan LoTR bahkan mengenakan jubah abu-abu dengan tudung kepala yang dibuka, menghias pintu masuk dengan gerbang daun, memajang beberapa souvenir khas LoTR, buku-bukunya, dengan standing banner yang cukup besar. Demikian juga dengan klub Karl May, yang menebarkan buku-buku edisi lama dan baru, versi komik dan novel, terbitan dalam dan luar negeri, serta sebuah lantai kosong berwarna kotak-kotak hitam-putih (seperti lantai kamar mandi) dengan sebuah kakus mainan di atasnya dengan sebuah benda berwarna aneh menyerupai otak manusia. Tulisan di bawahnya kira-kira berbunyi “kalau tidak membaca maka otak anda seperti ini”. Saya cengengesan memandangi kakus itu. Hebat sekali idenya.
Begitulah. Kadang sebuah peluang akan pergi ketika kita tak cekatan menangkapnya. Tapi sekali lagi saya menyayangkan tidak adanya koordinasi FLP Wilayah DKI Jakarta dan sekitar untuk WBD ini (maksud saya secara resmi atau diprogram). Walau mungkin, menurut Koko, ini adalah tugas FLP Pusat, tapi saya sendiri menganggap wilayah DKI-lah yang seharusnya dengan otomatis merasa bertanggung jawab akan pengalihan tugas tersebut. Apalagi event seperti ini akan berulang tiap tahun. Bukan hanya itu, saya juga menyayangkan sedikitnya (atau bahkan tidak ada?) inisiatif pengurus FLP Wilayah DKI Jakarta dan sekitar (yang baru melakukan satu kali koordinasi atau pertemuan pembentukan atau apalah namanya, selama beberapa bulan sejak terpilihnya ketua) untuk berkoordinasi (mengenai hal ini dan lainnya) ketika sang ketua sedang berhalangan. Sayang sekali, ya. Tulisan ini sekaligus menegur diri saya sendiri. Bagaimanapun, ini kan amanah …. Semoga kita semua bisa berbuat lebih baik lagi.
Sama sekali nggak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.35 ketika saya melirik jam, dan saya langsung berlari kecil kembali ke stan FLP. Segera berpamitan ke seluruh penjaga stan FLP (yang sedang asyik duduk membaca buku, atau bengong), sebab jadwal bus Trans Bintaro yang akan lewat adalah pukul 14.50. Terlambat beberapa detik saja, maka saya harus menunggu lagi sampai sore. Kata Echa, “Tumben banget ada bus tepat waktu kayak gitu.” Saya pun memamerkan jadwal bus Trans Bintaro yang selalu saya bawa ke mana-mana. Lalu saya pun meninggalkan empat orang cewek manis itu. Echa dan Elshi harus menunggu Koko kembali dari Depok (katanya mau cetak standing banner), sebab penjaga shift kedua belum jelas. Sabar ya Cha, Shi, … kalian mustinya dapat penghargaan anggota FLP ter-rajin. Hehehe….[DH]
Tuesday, March 07, 2006
World Book Day 2006-on Sunday (last day)











