This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, February 17, 2005

[ARTIKEL] Lewat dia, saya belajar[1]

Dulu

Saya mengenal dekat, seorang anak perempuan waktu kecil dulu. Usianya sekitar tujuh tahun, dan tidak seperti teman-teman saya umumnya, yang terkenal karena hal-hal lain, sahabat saya ini justru terkenal karena penyakitan. Sungguh ia adalah gudang cukup banyak penyakit; jantung, paru-paru, gegar otak, lalu tumor. Rasanya tidak ada yang beres dalam dirinya, bahkan giginya pun bermasalah, karena tumbuh terlalu banyak dan menyimpang, hingga harus dikawat selama dua tahun, dan dicabut 14 akar.

Anehnya, anak ini tumbuh menjadi pribadi yang supel dan periang. Ia suka menyanyi, dan mulai mencipta lagu di kelas satu SD. Biarpun penyakitan, prestasi belajarnya tinggi, bahkan lebih baik dari pada sebelum kepalanya terbentur.

Sampai sekarang, saya sering menyelami hati anak tsb, heran kenapa dia tidak tumbuh menjadi anak pemurung disebabkan penyakit-penyakitnya yang seabrek tadi. Dari kelas 2 SD sd kelas 3 SMU, sahabat saya ini selalu meraih ranking pertama dan menyabet banyak medali dari sekolah. Orang tuanya tentu sangat bangga. Belakangan ia melanjutkan studi di IPB tanpa tes, alias masuk jalur PMDK waktu itu. Padahal semasa sekolah persemester ia bisa ijin sakit hingga 17 hari, dan tak jarang pingsan.

1992

Belakangan teman saya tsb, mulai rajin menulis. Kegagalan pertama dia dalam kehidupan menurut saya adalah ketika ia terpaksa memenuhi permintaan orang tuanya untuk pindah kuliah, ke jurusan yang lebih ringan, karena kondisi kesehatannya yang makin payah. Dari kabar yang saya dengar, teman tsb mengambil jurusan D2 Bahasa Arab. Ia makin rajin menulis. Teman-teman kuliahnya dulu gembira melihat tulisannya tersebar di media-media. Ia banyak menggoda mereka dengan mencomot nama-nama teman dekat dan satu kos dulu. Nama-nama yang sempat konflik dijadikan tokoh antagonis dalam cerita. Saya meski gembira, tidak bisa menahan diri untuk bertanya, bagaimana ia bisa mulai dekat dengan dunia menulis? Pada saya ia katakan, mungkin karena dunia membaca yang lekat ditumbuhkan ibunya. Setiap menunggu di rumah sakit, ibu sering memilih puasa hanya untuk bisa membelikan beberapa buku dan makan siang bagi teman saya tsb, yang menunggu berjam-jam sebelum dipanggil Memang teman saya tsb hanya berobat di
rumah sakit pemerintah, RSCM yang dulu sering diplesetkan menjadi Rumah Sakit Cepat Mati.

2000 - 2003

Setelah sempat vakum beberapa tahun, dan hanya menulis sedikit cerpen dan cerita bersambung, tahun 2000 untuk pertama kalinya buku fiksi pertamanya diterbitkan oleh sebuah penerbit di Bandung. Seri remaja yang lucu dan gaul, Aisyah Putri, yang menceritakan tentang seorang anak SMU yang alim, bernama Aisyah, yang mempunyai 4 orang abang dengan karakter-karakter yang unik.

Dia bilang itu kerinduannya akan sosok abang yang tak ia miliki satupun. Lewat seri remaja yang sekarang telah terbit hingga serial ke empat, dan mendapat sambutan luas, hingga mengalami cetak ulang berkali-kali itu, ia menghidupkan dunia imajinasi-nya sendiri, dimana ia memiliki kehangatan kasih sayang tidak hanya dari satu, tapi empat abang sekaligus. Dus mencoba membaca konflik-konflik yang umum terjadi pada usia-usia transisi itu.

"Sastra seharusnya menghaluskan budi pekerti, sebagaimana dikatakan orang, tapi sastrawan kita tak banyak melirik dunia remaja. Padahal dunia anak-anak muda itulah yang justru paling rawan dan membutuhkan banyak perhatian, dan pelajaran kehidupan. Di satu sisi banyak sastrawan kita yang hidup di awang-awang dan menara gading, merasa bangga dengan membuat karya-karya yang sulit dicerna."

Begitu katanya suatu hari pada saya atas jalur menulis yang dipilihnya.

Setelah itu, 9 buku fiksi remaja lain, terbit tahun 2000, dua diantaranya berupa novel.

Tahun 2001, ia menulis tiga buku. Salah satu bukunya, Rembulan di Mata Ibu, dinobatkan sebagai buku remaja terbaik nasional, dan ia mendapat predikat pengarang terbaik kedua. Tahun berikutnya ia menulis lebih empat buku yang diterbitkan berbagai penerbit, dan kembali meraih predikat sebagai salah satu pengarang terbaik adikarya ikapi.

Ia diundang menghadiri Pertemuan Sastrawan Nusantara di Brunei, dan workshop kepenulsan Novel, yang diadakan Majelis sastra Asia Tenggara (2001)

Tahun 2003 sampai saat ini ia menulis empat buku, salah satunya diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, dan mengalami cetak ulang, tidak sampai sebulan sejak diterbitkan.

Sekarang

Saya bertanya kenapa ia begitu rajin menulis dan prolifik, padahal aktivitasnya sebagai ibu dari dua orang anak, dan yayasan sosial yang dipimpinnya cukup menyita waktu.

Dengan begitu sungguh-sungguh, ia menjawab:

"Saya adalah penulis, yang menulis, bukan karena yakin saya berbakat di dunia kepenulisan melainkan karena rasa tanggung jawab yang ditumbuhkan kakak saya yang juga seorang pengarang. Dulu di waktu menulis hanya menjadi hobi dan bukan profesi, kakak tsb mengingatkan saya untuk merasa bertanggungjawab, atas begitu sedikitnya

pengarang perempuan di indonesia, dan lebih sedikit lagi yang menulis dengan tujuan mencerahkan, atau meluruskan distorsi informasi yang terjadi."

Hal ini menurutnya telah membuatnya lebih tahan menghadapi kendala- kendala dalam menulis, tidak tergantung pada mood, dan belakangan bisa menulis dalam berbagai situasi. Jelas berbeda jika ia menulis untuk popularitas atau uang belaka. Tanggung jawab itu membuatnya menjadikan menulis sebagai media berjuang (Merah di Jenin---ketika Israel membantai pengungsi Palestina di camp pengungsi Jenin, Meminang Bidadari--- menyoroti fenomena bom syahid di palestina, dan meluruskan siapa yang sebetulnya lebih layak dianggap agressor, Derai Sunyi--- upaya mengangkat kasus pelecehan dan penganiayaan PRT yang sering terjadi, dan tanpa standar hukum yang jelas, Air Mata Biereuen---konflik Aceh yang harusnya lebih dilihat sebagai sebuah tragedi kemanusiaan, ketimbang meributkan siapa yang salah dan siapa yang benar).

Sambil menatap mata saya lurus-lurus, teman tsb kembali melanjutkan,

"Saya adalah penulis yang menulis dengan rasa dan intuisi, dibandingkan

teori-teori sastra yang memang awalnya sama sekali tidak saya miliki."

Ini telah membantu teman saya tsb untuk tidak terbebani, dan terjebak dalam dikotomi-dikotomi sastra yang berlangsung, tentang sastra populer dan serius. Bahwa yang terpenting bagi penulis adalah menghasilkan karya yang baik.

"Saya adalah penulis, yang hingga detik ini masih sering harus mensugesti diri, dan pura-pura percaya bahwa saya bisa menulis."

Saya heran mendengar kalimatnya. Tidak pede bagi sebagian orang, merupakan perasaan yang mengganggu proses berkarya. Itu betul. Tapi di satu sisi, perasaan ini justru membuat teman saya tsb tetap berpijak di bumi dan tidak cepat besar kepala, atas prestasi yang sempat diraihnya, yang memang menurutnya belum apa- apa.

Perasaan tidak pede itu membuat teman saya tsb masih rajin membaca karya-karya yang ramai dibicarakan atau direkomendasikan orang.

Perasaan minder itu juga yang membuatnya tidak berhenti berproses, dan belajar menajamkan observasi yang sebelumnya hanya lewat studi pustaka dan klipping atau internet (Jendela Rara---kerinduan gadis kecil di kolong jembatan untuk memiliki jendela, yang menjaring matahari)

Maka, setiap kali perasaan gamang dan malas menulis, melingkupi hati saya, saya bercermin kepada sahabat saya tsb, dan perkataan yang ia ucapkan dengan penuh semangat,

"Kalau saya bisa menjadi penulis, padahal dulunya penyakitan, miskin, bukan S1, tidak memiliki background pendidikan apappun dalam dunia kepenulisan, bahkan yang sekarang masih berjuang untuk percaya diri.

Kalau saya bisa, anda pasti jauh lebih bisa!"


[1] Disampaikan oleh Asma Nadia dalam seminar nasional sastra, UPI Bandung 13 Oktober 2003

[INFO] Milad Ke-8 Forum Lingkar Pena

Siaran Pers

Assalaamu'alaikum dan salam sejahtera,

Forum Lingkar Pena (FLP) adalah sebuah organisasi kepenulisan yang berdiri sejak tahun 1997. Setelah hampir delapan tahun berdiri—organisasi yang peduli pada kelahiran penulis baru tersebut, telah beranggotakan sekitar 5000 orang yang berasal dari 100 kota di seluruh Indonesia dan mancanegara, menerbitkan sekitar 400 buku, serta bekerja sama dengan lebih dari 20 penerbit di Indonesia.

Selain aktif melakukan kampanye gemar membaca dan menulis dari kota sampai pelosok desa dan hutan, di kalangan pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, karyawan, petani hingga buruh pabrik, dengan segala keterbatasannya, FLP mendirikan “Rumah Cahaya” (Rumah baCA dan HAsilkan karYA) di beberapa tempat di Indonesia. Di Rumah Cahaya para anak dan remaja, khususnya kalangan dhuafa, mendapat bimbingan untuk menulis secara gratis. FLP juga rutin mengadakan berbagai diskusi dan pelatihan penulisan, mengadakan sayembara mengarang dan memberikan penghargaan atas karya terbaik yang dihasilkan. Di beberapa daerah juga sudah dibuka FLP Kids (FLP untuk anak di bawah 12 th). Menariknya teman-teman FLP yang telah menjadi penulis, dengan tulus dan tanpa takut merasa tersaingi, turut ambil bagian dalam membidani kelahiran penulis baru di daerahnya.

FLP sangat unik. Unik karena hampir semua anggotanya adalah relawan yang sering mengisi berbagai acara dengan merogoh kocek sendiri. Mereka bersemangat meski bergerak dengan keterbatasan dana. Kepengurusan dan kegiatan FLP di berbagai daerah (juga luar negeri!) bahkan sering berjalan tanpa sekretariat tetap, melainkan menumpang pada rumah kontrakan seorang kawan. Bila ada musibah terhadap anggota FLP atau musibah nasional seperti tsunami Aceh lalu, para anggota FLP keroyokan “menyumbang dengan cerpen” hingga terbit buku-buku “antologi kasih” yang dibayar di muka oleh para penerbit dan seluruhnya disumbangkan bagi mereka yang kesusahan tersebut.

Kini dalam rangka memperingati hari jadi Forum Lingkar Pena (FLP) ke-8, FLP akan mengadakan rangkaian acara Milad dengan mengambil tema: “Sastra Untuk Semua”, 25-27 Februari mendatang, di Yogyakarta.

Berikut Susunan acara milad FLP:

Jum’at, 25 Februari 2005
Tempat: Balai Shinta Mandala Bakti Wanitatama, Jl. Adisucipto, Yogyakarta.

09.00-17.00
Pameran Buku dan Kegiatan FLP (FLP Expo)

09.00-11.15
Parade Penulis FLP dan Peluncuran Buku Matahari Tak Pernah Sendiri,
bersama: Asma Nadia, Izzatul Jannah, Sakti Wibowo, Sinta Yudisia,
Koesmarwanti, Gola Gong, Fahri Asiza, Afifah Afra, Agustrijanto,
Habiburrahman El-Shirazy, Abdurahman Faiz, Galang Lufityanto, Pipiet
Senja, Ali Muakhir, Boim Lebon, Azimah Rahayu, Zaenal Radar T., Ipal, M.
Irfan Hidayatullah, Jazimah Al Muhyi, Melvi Yendra, Erna, Tary, Benny
Ramdani, Cut Januarita, Rahmadiyanti, Bahtiar HS, Yus R. Ismail, Femmy
Syahrani, Koko Nata Kusuma, Asa Mulchias, Muthi Masfu'ah, Caca,
Adzimattinur Siregar, Muttaqwiati, Aswi, Leyla Imtichanah, Azzura
Dayana, Ekky Al Malaky, Lusiana M. Hevita, Hikaru, Vani Diana P., Ganjar
Widhi Yoga, Nostalgiawan, Hanafi, Nurul F. Huda, dan masih banyak lagi.



13.00-15.00
“FLP dan Dunia Kepenulisan di Indonesia”, bersama: Jamal D. Rahman, Hernowo, dan Helvy Tiana Rosa

15.30-16.30
Anugerah Pena, diberikan bagi anggota FLP untuk kategori:
a. Novel Terpuji
b. Novel Remaja Terpuji
c. Kumpulan Cerpen Terpuji
d. Kumpulan Cerpen Remaja Terpuji
e. Buku Non Fiksi Terpuji
f. Kaver Buku Terpuji
g. Penulis Pendatang Baru Terpuji
h. FLP Wilayah Terpuji

Anugerah Pena diberikan pula bagi karya dan tokoh luar FLP, yaitu untuk kategori:
a. Tokoh Sastra Indonesia Terpuji
b. Buku Fiksi Indonesia Terpuji

Pengumuman Lomba Menulis FLP Tingkat Nasional, yang terdiri dari Lomba Menulis Cerpen, Lomba Menulis Novel, dan Lomba Menulis Artikel

Penggalangan sumbangan buku dari masyarakat dalam rangka “Seribu Buku Untuk Aceh”

Sabtu-Ahad, 26-27 Februari 2005
Tempat: Hotel Kana, Kaliurang, Yogyakarta

Musyawarah Nasional FLP I yang khusus diikuti oleh perwakilan FLP wilayah seluruh Indonesia dan luar negeri

Salam,
Panitia Milad ke-8 FLP
CP: Rahmadiyanti: 0813 1035 6155
Azimah: 0812 904 1504

Tuesday, January 18, 2005

[TIPS] dari Fahri Asiza 2

Teman-teman yang baik,
ada sedikit tambahan lagi yang rasanya perlu saya sampaikan di sini sebagai tambahan dari beberapa catatan cerpen sebelumnya. Beberapa waktu lalu, kita pernah mendiskusikan tentang dialog dari catatan kecil atau bahasan yang saya berikan. Nah, baiknya kita singgung sedikit lagi ya.

Cerpen-cerpen dari penulis yang baru melangkah (sungguh, saya sangat bangga dengan semangat kalian dan yakin tak lama lagi kalian akan menjadi penulis yang hebat), masih banyaknya dialog yang mengambang (tidak jelas maksudnya), dialog yang tidak nyambung antara dialog yang satu dengan dialog yang lain, lalu dialog yang mencoba menguatkan cerita tetapi sebenarnya bisa dilakukan dengan narasi hanya satu atau dua baris.

Ini sangat disayangkan, karena cerita yang akan kita buat terkesan longgar, tidak utuh dan kuat. Dialog-dialog yang tidak ada makna (kadang suka lari dari masalah yang dibicarakan), sebaiknya dibuang dan diperketat lagi.

Caranya? Mudah sekali

1. Kuatkan dulu, point apa yang hendak diutarakan, sehingga dialog tidak "lari" dari point tsb.
2. Dialog singkat saja, tidak usah bertele-tele untuk menyampaikan maksud tertentu. Bila memang point lain yang akan disinggung pada bagian cerita berikutnya, itu baru bisa.
3. Perhatikan pula, apakah perlu mengungkapkan satu point dengan dialog? Padahal bisa dilakukan dengan narasi yang singkat.
4. Dialog pun harus mempertimbangkan siapa yang akan mengucapkannya, ini berkaitan dengan karakter tokoh yang kita ciptakan. Hingga tidak terkesan seragam. Karena dari dialog-dialog itu sebenarnya karakter pun telah terbangun.

Cukup mudah, kan? Insya Allah ini cukup membantu. Dan jangan pernah patah semangat. Karena semua pasti memakai proses. Itu juga bukan berarti karya-karya yang teman-teman buat jelek, tidak, sama sekali tidak. Hanya sedikit perlu dipoles saja. Karena rangkaiannya sudah cukup. Saya yakin, saat ini kalian baru mulai melangkah, tapi tak lama lagi, kalian sudah meninggalkan garis start cukup jauh.

Ayo, terus semarakkan dunia FLP dengan karya-karya yang asyik dan bermutu.

Tetap semangat!
salam,
fa

Thursday, January 13, 2005

[TIPS] dari Fahri Asiza

Teman-teman yang baik,

Sungguh asyik dan bangga rasanya menyimak begitu banyaknya penulis-penulis generasi FLP yang bermunculan. Sungguh, ada perasaan terharu pula di hati saya. Kalian punya semangat "tempur" yang hebat. Ya, karena kalian semua adalah penerus dari FLP.

Sekadar untuk berbagi, ada beberapa catatan yang rasanya perlu saya sampaikan di sini. Catatan ini saya berikan, bukan saya merasa lebih pintar dari kalian semua. Tetapi saya hanya sekadar mencoba memberikan gambaran saja.

1. Buatlah tema-tema yang sederhana saja, tidak usah tema yang besar atau bombastis. Karena dikhawatirkan, kita tidak akan kuat memikulnya. tema yang besar, kadang akan "menjerumuskan" kita pada cerpen itu sendiri. Sebagai rekomendasi saya, bacalah karya Asma Nadia. Sis yang satu ini, selalu memberikan tema-tema yang sederhana, tetapi menggarapnya dengan rangkaian yang utuh
2. Karakter, dari beberapa cerpen yang saya baca, karakter tokoh masih banyak belum memiliki bentuk yang utuh. Sebaiknya, mulailah untuk mempelajari dan mengedepankan karakter tokoh yang hendak buat. Karena tema yang bagus dan indah, bila karakter tokohnya tidak kuat, sangat sayang sekali. Sebagai rekomendasi saya, bacalah karya Gola Gong. Akang yang satu ini, sangat kuat dalam memposisikan atau mempermainkan karakter tokohnya.
3. Logika cerita, kadang logika cerita selalu lepas. Mungkin karena terlalu asyik dengan tema, hingga melupakan bagian yang satu ini. Logika cerita sangat penting, agar pembaca bisa masuk ke dalamnya. Sebagai rekomendasi saya, bacalah karya Teh Pipiet Senja. Teteh saya yang satu ini, selalu pandai mempermainkan cerita dengan logika yang sejalan.

Hal lain yang perlu saya utarakan juga, tentang diksi dan narasi. Rata-rata sudah memiliki kemampuan yang cukup, hanya tinggal sedikit dipoles. Untuk mengasahnya, banyak-banyaklah membaca karya-karya para penulis FLP, baik yang sudah melangkah duluan atau yang baru mulai melangkah. Tidak ada perbedaan dalam hal ini, karena dalam keluarga besar FLP yang bersahaja, kita akan selalu tetap saling berbagi. Karena, saya sendiri juga masih belajar.

Tetap semangat
salam,
fa

[diambil dari milis FLP Pusat]

Monday, January 10, 2005

[RESENSI] Menulis sebagai Pengobatan Alternatif (2)

Pada bagian kedua buku ini penulis membahas tentang metode-metode tertentu yang dapat membantu mempermudah penulis pemula untuk memulai sebuah karya penulisan, karena tiga bab yang terdapat pada bagian kedua ini intinya ingin memberikan tips-tips agar para penulis pemula mampu menuangkan karyanya dalam sebuah bentuk tulisan berdasarkan metode penulisan yang sudah dikenal dan mudah mempraktekkannya.

Dalam bagian ini juga para penulis pemula dapat memilih cara yang efektif dan cara yang paling mudah yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, walaupun semua metode itu pada intinya ialah ingin membangkitkan potensi yang ada dalam diri masing-masing orang dengan menggunakan metode-metode tersebut agar ide yang ada pada penulis pemula dapat dituangkan ke dalam sebuah tulisan, dengan mengolah ide-ide yang telah dimilikinya menjadi sebuah naskah tertentu yang dapat dibaca dan dipahami oleh orang lain.

Dengan susunan kata yang renyah dan dalam tutur kata yang enak dibaca, buku Hernowo ini dapat menjadi obat perangsang bagi orang yang belum pernah membuat tulisan atau para penulis pemula untuk memotivasi dirinya sendiri sehingga dapat mengeluarkan energi yang terpendam di dalam diri setiap orang yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya (ini yang terjadi pada diri penulis sendiri yang tiba-tiba mampu mengeluarkan segala macam ide ke dalam sebuah tulisan).

Secara keseluruhan buku ini sangat menarik untuk dibaca, karena uraiannya sangat mudah dimengerti oleh siapapun. Hal tersebut membuat pembaca buku ini tidak mudah lelah ketika membacanya. disertai kutipan-kutipan yang merangsang energi para penulis pemula untuk memulai hari-hari barunya dengan menulis sesuatu, dengan ide apapun yang ada di pikirannya.

Hanya saja kelemahan buku ini, menurut penulis (yang tergolong penulis pemula), terletak pada sangat minimnya kutipan atau contoh-contoh tulisan ringan baik fiksi maupun non fiksi yang mungkin dapat ditiru penokohan atau latar belakang penulisannya oleh para penulis pemula lainya yang akan memulai usaha menulis. Padahal pada halaman 96 buku ini, Hernowo sangat menekankan sekali memulai kegiatan menulis dengan meniru atau mencontoh tulisan serta karangan orang lain sebagai perangsang awal tumbuhnya minat menulis ini. Karena berdasarkan pengalaman beberapa penulis, dengan adanya tulisan pertama yang dibuat oleh sang penulis pemula, yang diilhami oleh contoh-contoh tulisan yang ada akan makin membuat rangsangan-rangsangan lain baginya demi melahirkan tulisan kedua, ketiga dan selanjutnya.

Semoga saja hadirnya Buku Quantum Writing dapat lebih merangsang masyarakat Indonesia untuk lebih mencintai buku, yang kemudian dari insan-insan yang mencintai buku tersebut dapat menelurkan karya-karya berupa naskah tulisan baru yang berguna bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia di masa yang akan datang untuk mengejar ketinggalannya dari bangsa-bangsa lain.

*Dwinu Panduprakarsa*


Thursday, December 30, 2004

[RESENSI] Menulis Sebagai Pengobatan Alternatif

Pengertian kita tentang pengobatan alternatif biasanya hanya terbatas pada tempat yang bersuasana mistik yang diwarnai asap dupa, perdukunan yang hampir tidak bisa diterima oleh logika, karena memang pengobatan seperti itu dasarnya adalah pengetahuan tradisional. Selain itu pengobatan alternatif dapat juga berarti berupa obat-obat tradisional atau yang langsung diperoleh dari alam, seperti jamu-jamu yang berasal dari tumbuh-tumbuhan ataupun hewan yang dipercaya mampu meningkatkan kesehatan peminumnya. Pengobatan alternatif ini dapat juga berarti pengobatan yang tidak menggunakan cara medis melalui obat-obat yang biasa diresepkan oleh dokter-dokter lulusan fakultas kedokteran.

Di dalam buku Quantum Writing : Cara Cepat nan Bermanfaat Untuk Merangsang Munculnya Potensi Menulis, disebutkan bahwa menulis itu ternyata juga dapat digolongkan menjadi sebuah pengobatan alternatif.
Bagaimana sebuah kegiatan menulis itu dapat menjadi salah satu jenis pengobatan alternatif disebutkan dalam buku tersebut dengan mengutip penelitian yang dilakukan Dr. Pennebaker di Fakultas Psikologi Universitas Southern Methodist dalam bukunya Ketika Diam Itu Bukan Emas. Pengobatan alternatif yang dimaksudkan adalah dengan terapi menulis. Menurut penelitian Dr. Pennebaker, bahwa orang-orang yang mengalami suatu penyakit mental akibat masalah sosial atau mungkin trauma akibat peristiwa yang dialaminya di masa lalu, kemudian berakibat timbulnya penyakit seperti stress, depresi, dan semacamnya, akan menjadi merasa lebih sehat setelah mereka menuangkannya kepada sebuah naskah yang berbentuk tulisan.
Hal ini sudah dibuktikan secara ilmiah melalui percobaan laboratorium, dengan hasilnya yaitu meningkatnya sel darah putih manusia, yang berfungsi sebagai sel pelindung tubuh ketika diserang kuman penyakit. Ini terjadi pada orang-orang tertentu yang diuji sampel darahnya, pada saat sesudah menulis peristiwa atau trauma sosial yang dialaminya. Sel-sel darah putih yang dimiliki setelah percobaan dilakukan akan meningkat jauh bila dibandingkan dengan jumlah sebelumnya.

Padahal sudah banyak orang tahu bahwa belajar menulis itu tidak mudah. Apalagi pada masyarakat Indonesia yang budaya tulis menulis serta budaya membacanya sangat rendah, ditambah lagi sebagian besar dari masyarakat yang lebih menggemari budaya berbicara lisan dibanding dengan budaya menulis dan membaca.

Ini dibuktikan dengan lebih pesatnya penjualan handphone (HP) di Indonesia, yang harganya relatif lebih mahal dibandingkan dengan harga sebuah buku. Sehingga akibat tidak terbiasa membaca dan menulis membuat jiplak-menjiplak tulisan sudah menjadi hal yang sangat biasa. Biro-biro jasa yang menjual jasa tertentu, khususnya jasa pembuatan skripsi atau tesis yang merupakan salah satu karya ilmiah penting, sangat mudah kita temukan di sudut-sudut kota besar di seluruh Indonesia. Mengenaskan sekali memang Indonesiaku….

Pada bagian pertama buku ini yang terdiri dari tiga bab, Hernowo banyak memaparkan tips-tips tentang bagaimana meningkatkan motivasi dan keinginan untuk memulai suatu kegiatan tulis menulis dan apa yang menyebabkan orang itu berkeinginan melakukan kegiatan tulis menulis. Pada bagian ini lebih banyak dibahas tentang bagaimana mengubah pandangan pembaca, bahwa menulis itu tidak sulit seperti yang dibayangkan, dengan memberikan ide-ide awal kepada para penulis pemula agar dapat segera memulai kegiatan menulis yang bahan tulisannya bisa dimulai dari hasil penggalian tentang “diri” sendiri secara pribadi.

Selama ini belajar menulis dianggap sebagai suatu hal yang tingkat keseriusannya sangat tinggi, ditambah lagi kegiatan ini harus ditopang juga oleh kegiatan membaca yang baik. Kedua hal ini menjadi penyebab kemalasan bagi sebagian orang untuk memulai aktivitas menulis yang harus disertai dengan aktivitas membaca. Jika membaca saja sudah malas apatah lagi memulai suatu karya di bidang tulis-menulis ini. Padahal di kala senggang pasti kita menyempatkan diri untuk sekedar membaca koran, majalah, artikel, atau kegiatan lain. Dan yang lebih serius lagi dalam pekerjaan kita di kantor, tentunya kita tidak asing terhadap surat penawaran barang, surat perintah kerja, memo, surat lamaran dan lain-lain yang merupakan produk tulisan yang sering kita baca.

Sehingga tanpa kita sadari bahwa kegiatan membaca sebenarnya telah menjadi darah daging dari kehidupan itu sendiri, dimana kegiatan sehari-hari yang telah kita lakukan itu sebenarnya merupakan dasar-dasar dari kegiatan menulis. Karena dari kegiatan membaca yang telah dilakukan itu dapat dijadikan sebuah ide yang kemudian dapat kita kembangkan menjadi sebuah tulisan yang bermakna, bila kemudian kita dapat merangkainya dengan apik dan diramu bersama dengan pengalaman pribadi penulisnya.

Tetapi banyak orang tidak tahu bahwa kegiatan menulis itu sama juga dengan kegiatan lainnya. Kita akan bersemangat melakukannya bila kita dapat merasakan manfaat langsung dari kegiatan yang kita lakukan tersebut. Misalnya berolahraga, kita merasa bahwa olahraga tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan kita sehingga guna memperoleh kesehatan yang baik maka kita rutin melakukannya. Begitu pula dalam kegiatan menulis, kita pun harus merasakan manfaat darinya supaya dapat melakukannya dengan semangat.

Jadi, pada buku Quantum Writing ini, khususnya di bab 1, Hernowo mencoba merangsang para penulis pemula dengan metode pendekatan psikologis seorang manusia, bahwa kegiatan menulis itu dapat dirasakan manfaatnya langsung oleh si penulis, yang akhirnya dapat membuat penulis seakan-akan menjadi ketagihan menulis, atau dengan menulis seakan-akan beban yang menyesakkan dada dapat terlampiaskan, atau juga mungkin dapat merasa bahwa menulis itu merupakan kebutuhan pokok sehari-hari, sama seperti juga makan dan minum, yang harus dilakukan terus-menerus setiap hari.

Hernowo juga sangat menganjurkan agar para pemula yang baru mulai belajar menulis senantiasa meluangkan waktunya sekitar lima belas menit per harinya untuk menulis dan juga untuk melakukan kegiatan membaca. Menulis dengan cara mencicil sedikit demi sedikit secara rutin serta membaca materi apa saja yang menarik untuk dibaca.

Pendekatan psikologis juga berarti bahwa dengan menulis kita dapat mengatasi rasa amarah, iri, kelemahan diri, dan kebencian yang ada pada hati kita. Menulis jelas sangat membantu kita untuk mengatasi rasa “sok” tahu kita. Menulis dapat membuat diri kita hati-hati dalam memutuskan sesuatu. Menulis dapat membuat diri kita dapat lebih bijaksana (hal 95). Sehingga dengan menulis, segala penyakit hati yang kadang timbul dalam diri, dapat langsung kita atasi dengan menulis dan pada akhirnya kita akan lebih dekat kepada kehidupan nyata yang membuat kita dapat mengetahui secara mendalam potensi pribadi yang kita miliki serta anugerah-anugerah lain yang telah diberikan oleh sang Pencipta. Mengapa hal ini penting untuk digarisbawahi, sebab pada jaman sekarang ini, penyakit hati sering menjadi sumber dari berbagai macam penyakit jasmani yang diderita oleh seorang manusia modern.

Hal itu telah dibuktikan langsung dengan penelitian yang sangat ilmiah dimana sang obyek penelitian diambil sel-sel darahnya ketika sebelum dan sesudah menulis. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Pennebaker di Fakultas Psikologi Universitas Sothern Methodist menjelaskan bahwa “Orang-orang yang menuliskan pikiran dan perasaan terdalam mereka tentang pengalaman traumatis menunjukkan peningkatan fungsi kekebalan tubuh dibandingkan dengan orang-orang yang menuliskan masalah-masalah remeh temeh” (hal 34).

Pada Bab 2, dengan judul “Perjalanan Menjelajah Diri : Menulis Bagi diri sendiri”, Hernowo bermaksud untuk merangsang pembaca agar menulis bagi diri sendiri saja tanpa memikirkan apakah orang lain bakal berminat membacanya, atau apakah tulisan kita dapat diterima di media. Jadi pada bab ini intinya adalah mengenali diri yang dimulai dengan membuat pertanyaan-pertanyaan. Dan bertanya sebanyak mungkin tentang apa saja yang menyangkut keberadaan kita, termasuk tentang “diri” kita sendiri (hal 61), walaupun pertanyaan itu tidak harus kita jawab. Jadi prinsipnya kita harus bertanya tentang diri kita sebanyak-banyaknya, karena dengan pertanyaan-pertanyaan itulah kita berlatih menulis. Berlatih menulis dengan membuat pertanyaan dimaksudkan untuk merangsang diri kita untuk memunculkan keinginan agar kita terus didorong untuk mengetahui diri kita sendiri (hal.62).

Pada Bab 3, penulis bermaksud untuk lebih menegaskan kembali pentingnya membaca bagi siapapun yang ingin mengembangkan budaya menulis. Mengapa membaca merupakan saudara kembarnya menulis, karena dengan membaca kita dapat memperkaya diri dengan sekumpulan kata-kata. Bila kita sudah mempunyai sekumpulan kata-kata tadi, maka banyak yang kita dapat ungkapkan melalui sebuah tulisan yang apik. Dan tulisan yang apik itu hanya dapat dialirkan dengan makin banyaknya kata-kata yang kita peroleh akibat membaca, jadi ternyata memang “Menulis memerlukan saudara yang siap membantunya. Saudara menulis itu bernama membaca” (hal.103).

[to be continued...]

*Dwinu*

[Judul Buku]Quantum Writing - Cara Cepat nan Bermanfaat Untuk Merangsang Munculnya Potensi Menulis

[Editor] Hernowo

[Cetakan] Pertama, November 2003

[Jumlah Hal] 243 Halaman

[Penerbit] MLC (Mizan Groups)

Tuesday, December 28, 2004

[curhat] Tak Seberat yang Kaukira

Terkadang kita berpikir bahwa apa yang sedang kita alami, ujian yang sedang kita lewati, adalah yang terberat dari yang ada. Adalah yang terberat dari semua. Diri kita, adalah yang paling menderita, hingga tak lagi sanggup kita memikirkan orang lain selain bagaimana berlepas diri dari ujian ini. Lalu, tenggelamlah kita dalam lumpur derita. Hingga berat rasanya untuk meraih pegangan di atas sana, untuk mengangkat diri ini supaya tak berlama-lama terjerat di dalamnya. Tenggelamlah kita.

Hari itu, saya datang ke kantor dengan kedua mata nyaris bengkak. Setelah hampir semalaman menumpahkan air mata sejadi-jadinya, sendirian. Rasanya tidak ada satu pun gairah yang menempel menyertai saat kedua kaki ini melangkah pergi. Dan sesampainya di kantor, saya menahan lidah kuat-kuat. Tak boleh sebersit pun terucap segala keluh kesah tadi malam. Kerja ya kerja. Saya tak ingin mencampurinya dengan permasalahan pribadi. Pasang muka cerah, memaksakan diri untuk selalu tersenyum. Dan hari itu, tak ada satu pun yang menyadari kedua mata ini yang nyaris copot dan kepala kian berdenyut sebab tangis itu terbawa sampai tidur. Tadi malam.

Hari itu, saya menemui seorang teman sedang menahan kesal di hatinya. Baru saja berselisih dengan seorang teman yang lain. Sampai luapan emosi itu tak tertahankan lagi, padahal tak pernah sekali pun saya melihatnya demikian. Saya ingin memaksanya untuk bercerita, ia pun menceritakan. Dengan nada datar, terlalu datar. Malah ditambahi dengan senyum dan cengiran khasnya. Siang hari, sampai menjelang sore, celotehnya tetap berkisar tentang target-target bulanan. Tapi entahlah, saya merasakan dirinya begitu berbeda hari itu.

Pembicaraan ketika presentasi, saya melihat kedua matanya berkaca-kaca, dengan suara nyaris gemetar. Seolah saat itu saya melihat beban berkilo-kilo tergantung di kedua pundaknya, dan entah apa yang kian menyesakkan dadanya. Seolah bila ada tombol ‘on’ yang tertempel di tubuhnya dinyalakan, ia akan segera meledak. Percakapan setelah pertemuan, ia mengatakan bahwa yang ia rasakan sekarang adalah ketidaksanggupan yang amat sangat. Dengan wajah yang dipaksakan tersenyum.

Sungguh, saat itu, saya ingin langsung memeluknya. Dan berkata padanya, “Menangislah! Agar beban itu tertumpah sebagian, supaya hatimu lega, supaya bisa berbagi berat itu kepadaku sebagian.”

Sore hari, setelah menunaikan perjumpaan dengan-Nya. Seorang teman lagi bercerita dengan lancar peristiwa penting yang dialaminya hari itu. Ia harus melepaskan ‘calon’ buah hatinya. Ia harus merelakannya pergi, sebab ditemukan kejanggalan pada perkembangan janin di rahimnya. Ia yang telah menantinya sekian lama.

Tak hanya itu, sederet kisahnya pun tumpah seketika. Yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sebab tak demikian yang saya dapati dari wajah dan penampilannya sehari-hari. Ia, yang begitu ceria, ternyata menyimpan begitu banyak luka. Ia yang tampak begitu tegar, sore itu, air matanya tumpah juga.

Saya tertegun. Dan saya hanya bisa berkata, “Sabar ya mbak…ini cobaan dari Allah.”

Sesaat setelahnya, saya kembali ingat pada kedua belah mata saya yang masih bengkak. Tak sempat lagi saya rasakan pening di kepala, seorang teman lagi bercerita. Tentang kesulitan-kesulitan yang dialaminya dalam prosesnya mempersiapkan pernikahannya. Yang rasanya bila hal itu menimpa diri saya, tak tahu apalagi yang bisa saya lakukan untuk mengatasinya sendirian. Saya tak tahu harus berbuat apa, kecuali melantunkan doa dalam hati, “Semoga Allah memberinya kemudahan dalam ikhtiarnya ini…”

Mendekati pukul lima, sebentar lagi pulang. Saya nyaris melupakan apa yang telah saya alami semalam. Pun bengkak di kedua mata seperti tak ada artinya. Hari itu, saya mulai dengan berpikir bahwa saya adalah orang yang paling malang plus satu-satunya karyawan kantor yang datang pagi-pagi dengan mata bengkak. Dan saya rasa tak kan sanggup saya berkonsentrasi dengan pekerjaan, apalagi ‘mood’ untuk mendengarkan lagi lebih banyak masalah-masalah yang ada.

Tetapi kenyataannya tak demikian. Tanpa diminta, saya telah menyaksikan ‘penderitaan’ yang juga dialami oleh teman-teman saya. Tanpa diminta, satu per satu mereka bercerita. Dan sampai akhir hari, saya menemukan bahwa diri saya tak lagi merasa menderita.

Seringkali, saya merasakan bahwa setiap kali menghadapi masalah, maka tak seorang pun akan merasakan apa yang sedang saya rasakan. Sepertinya, saya lah satu-satunya orang yang paling menderita di dunia. Tetapi, kemudian saya akan kembali menemukan bahwa saya tidak sendirian. Masih banyak lagi mereka yang merasakan perih yang sama, bahkan lebih.

Seringkali, setiap saya menyadari adanya kesulitan yang dialami orang lain, energi saya yang tadinya nyaris pupus, malah semakin bertambah. Saya tak boleh lemah, sebab ada orang-orang yang lebih menderita. Saya tak boleh lemah, sebab mereka pun membutuhkan saya. Penderitaan mereka, sahabat-sahabat saya, adalah penderitaan saya juga. Penderitaan saya, rupanya tak seberat yang saya kira….


Buat tiga orang yang disebutin di atas,…”Aku sayang kalian!!!”

*vita*
ps. sekedar berbagi, bahwa di balik setiap kesulitan yang kita alami saat ini, ternyata masih banyak lagi orang yang lebih menderita.
--ditulis tgl 25 Oktober 2004--