This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, March 23, 2005

[curhat] Selasar itu...

Pertama kali gabung di FLP, saya beberapa kali ikut pertemuan FLP DKI di masjid Amir Hamzah TIM. Saat itu saya berpikir, wah...asik juga nih...suasana santai tapi full diskusi dan tetep rame serta akrab satu sama lain. Saat itu saya tidak memperhatikan bahwa kami melakukannya di selasar masjid, di lantai dingin serta berhawa serjuk. Bagi saya pribadi, itu tidak jadi masalah. Yang penting adalah apa yang didapatkan dari tiap pertemuan. Satu hal yang langsung memenuhi benak saya, bahwa menjadi anggota FLP berarti mengedepankan produktivitas dan kualitas. Walaupun materi dan segala masukan yang saya dapat (saat itu) tidak diberikan secara formil layaknya ikut workshop/seminar/pelatihan kepenulisan di tempat lain. Tapi saya merasa banyak sekali mendapat pelajaran.

September 2004, FLP cabang Bekasi diaktifkan. Dan bulan-bulan berikutnya kegiatan/pertemuan anggota dilakukan sekali dalam sebulan, dengan waktu yang cukup tidak konsisten (kadang di awal, kadang di akhir bulan) terkait dengan kesiapan pengurus (yang juga dibentuk dadakan serta kurang matang dalam perencanaan). Awalnya saya cukup deg-degan, bisa nggak ya kegiatan ini berjalan? Tapi setiap kali ingat mbak Helvy yang saat pembukaan/launching FLP Bekasi ikut menjadi pengisi acara, saya kembali bersemangat, dan mulai menanamkan satu hal dalam hati, bahwa kemajuan dan perkembangan itu akan diraih secara bertahap. Saat itu (dan sampai sekarang) kami belum mempunyai sekretariat dan program rinci dalam pelaksanaan pertemuan bulanan. Saya masih berpikir, ah...nggak apa-apa deh di selasar masjid juga (pertemuan biasa diadakan di selasar masjid Islamic Center Bekasi), biar deh belum ada silabus tetap, yang penting pertemuan bulanan tetap berjalan dan peserta bisa berdiskusi sambil membahas karya. Tetapi ternyata tidak semudah itu.

Menghadiri Munas kemarin, membawa banyak sekali pe-er buat kami. Sepertinya banyak sekali yang tertinggal dan belum dikerjakan. Akhirnya, tanggal 20 Maret 2005 kemarin, beberapa orang pengurus mengevaluasi kinerja kepengurusan (yang ternyata telah berjalan kurang lebih 6 bulan) dan membuat perencanaan untuk 6 bulan mendatang. Dan kami bertekad untuk mendata ulang seluruh anggota yang telah mendaftar, membuat silabus pertemuan, dan menjalankan fungsi kaderisasi dari forum ini yang kemarin rasanya belum berjalan dengan baik.

Ada satu keinginan yang rasanya cukup penting untuk dipenuhi saat ini, sebab rasanya suasana yang kondusif akan membantu anggota untuk dapat berkonsentrasi saat pertemuan berlangsung, dan pertemuan dapat berjalan efektif. Keinginan itu adalah memiliki sekretariat, yang bisa digunakan sekaligus sebagai tempat melaksanakan pertemuan rutin. Sedikit muluk-muluk mungkin, sebab ada juga cabang/wilayah lain yang belum memiliki sekretariat, namun kegiatan tetap berjalan dan mereka tetap produktif. Pada tempat yang biasa kami gunakan, kami harus mengeluarkan 250 ribu rupiah setiap kali meminjam ruangan. Jumlah tersebut yang selalu membuat kami enggan untuk memakai ruang-ruang kelas yang tersedia cukup banyak, dan kami tetap 'setia' duduk di selasar masjid.

Perbaikan akan terjadi bila diupayakan. Rasanya sekarang bukan lagi waktunya bersantai-santai dan berteguh pada kondisi sekarang tanpa mengusahakan kemajuan untuk masa mendatang. Salah satu keputusan yang dicapai pada rapat evaluasi kemarin adalah, kami akan mengajukan proposal kerja sama dengan beberapa pihak untuk memperluas jaringan serta mengusahakan fasilitas bagi kegiatan FLP Bekasi.

Andaikan upaya itu belum berhasil, ...rasanya selasar itu masih cukup nyaman untuk menampung kami...

Mohon doa dari semuanya...

Tuesday, March 01, 2005

[Info Munas FLP-bagian II] Berbagi Cinta

Hadir di Munas I FLP kemarin, rasanya adalah seperti sedang berbagi cinta. Saya dan mbak Rahma, delegasi dari FLP Bekasi, berkali-kali nyeletuk saat di perjalanan, “Wah, kayak mimpi deh mau ke Yogya!” atau “Ih, gimana ya nanti munas-nya?” dan celetukan lain, menutupi rasa gugup dan deg-degan dalam hati. Munas FLP. Pertama kali nih, bertemu dengan sekian banyak “jagoan-jagoan” itu. Begitu terus-menerus batin saya berucap.

Sore hari, sekitar pukul empat, saya dan mbak Rahma tiba di Gedung Manggala Bhakti Wanitatama, tempat diadakannya acara Opening dari Munas I FLP. Ramai. Dan kami berdua nyaris nggak pede membawa tas-tas besar di antara sekian banyak peserta yang hadir. Saking gugupnya, saya sampai memutuskan untuk menelpon mbak Azi untuk “menjemput” kami di pintu depan, padahal sih, tinggal masuk aja toh? Akhirnya beliau dengan jilbab oranye dan wajah ceria keluar menyambut kami. Tak ingin lebih banyak merepotkannya, kami langsung duduk dan menaruh barang-barang bawaan. Sebentar lagi acara akan dimulai kembali, dan kami pun beranjak untuk menunaikan shalat Ashar. Tempat shalat ada di belakang panggung, jadi kami harus berjalan melintasi deretan kursi peserta untuk ke sana. Dari jauh, saya melihat beberapa orang FLP’ers DKI…ada Zizah! Dan ia tersenyum lebar sambil berseru, “Kak Vita!” kemudian menghampiri saya. Saya lihat ada mbak Dala dan juga Echa…tak sadar saya mulai tersenyum-senyum sendiri. Wah, mulai terasa serunya nih…perut saya bergolak. Gugup campur senang.

Tiba saatnya PENA AWARD, penganugerahan bagi mereka yang menjadi pemenang dari berbagai lomba yang diadakan plus bagi karya-karya terbaik para penulis FLP. Kami duduk di barisan kedua dari depan, tepat di tengah. “Mbak, pokoknya kita jangan jauh-jauh dari mbak Dala ya…” kata saya. Duduk bersama Echa, Zizah dan mbak Dala membuat saya rindu dengan ‘kehebohan’ FLP’ers DKI. Dan melihat nama-nama yang menjadi nominasi serta pemenang, memacu jantung saya untuk berdegup lebih cepat, dan rasanya adrenalin saya berlari sprint tak hentinya,...saya mengenal sebagian kecil nama-nama yang tertera di layar. Rasanya kegembiraan itu mencuat kala si pemenang dibacakan, siapapun dia. Kagum, sekaligus merasa malu. Ah, begitu hebat orang-orang itu!

Hari makin sore, acara ditutup, dan seluruh peserta Munas dengan teratur memasuki bus yang telah terparkir berjejer di depan gedung. Perjalanan menuju Kaliurang memakan waktu sekitar satu jam. Perlahan, gelap merayapi langit, dan udara kian dingin. Saya tak sempat tertidur barang sedetik pun. Antara bersemangat dan begitu nervous, sebab draft Munas baru sempat benar-benar terbaca saat di pesawat tadi.

Di Kaliurang, Hotel Kana.
Ini sih bukan jauh lagi! Serasa di Puncak setelah melewati berliku-likunya jalanan. Saya mengamati dua panitia yang lincah itu, mbak Azi dan mbak Dee (Rahmadiyanti). Mbak Azi tertidur lelap sepanjang perjalanan, dan ketika sampai, ia kembali dengan semangatnya yang rasanya nggak pernah habis. Mbak Dee sempat menemani saya dan mbak Rahma, ngobrol tentang perjalanan ke Yogya. Di dalam hotel, beberapa delegasi yang baru hadir kebingungan, selama beberapa lama kami belum kebagian kamar.

Shalat maghrib dan beres-beres, akhirnya saya dan mbak Rahma dapat kamar di lantai atas. Surprise! Di dalam kamar sudah menunggu dua orang, mbak Rofiah dari FLP Hongkong dan mbak Muttaqwiati! Hah! Yang bener nih! Ketemu Muttaqwiati!!! Saya nyengir lebar dan menyapa mereka berdua. Sejak saat itu, kamar terasa hangat dengan keramahan dan rasa yang tiba-tiba saja terjalin erat.

Di luar ruang sidang, kami dan FLP’ers DKI berkumpul untuk konsolidasi wilayah. Mbak Dala, Zizah, Echa, Asa Mulchias, BiJe, Koko Nata, Deny, pak Nayzen (bener nggak ya tulisannya?), saya, dan mbak Rahma. Apa saja yang kami bicarakan? Seputar nama dan topik-topik pembahasan Munas. Saya pun lupa. Satu hal yang kemudian memenuhi pikiran saya, konsolidasi memang penting!

Sidang dimulai, sesi pembukaan, sidang komisi, sidang pleno, pemilihan Majelis Penulis,…dan seterusnya. Saya berkali-kali tertegun. Beginikah sosok-sosok itu? Saya baru kenal dan melihat jelas bagaimana mereka. Seandainya masih ada orang yang berkata di depan hidung saya, bahwa perempuan dalam Islam itu terpinggirkan dan terbelakang, maka saya akan menudingnya dan menyuruhnya hadir di antara kami semua saat itu. Lihat mereka! perempuan-perempuan cerdas itu! Mbak Izzatul Jannah alias Intan Savitri, yang katanya Sarjana Peternakan plus ahli hukum dan sastra, mbak HTR dan Asma Nadia yang tak diragukan lagi semangat, kecerdasan, serta cinta mereka pada forum ini, mbak Rara dari FLP Sumut yang dengan berani berkali-kali interupsi dan mengemukakan pendapat dengan lantang, Nurika dari FLP Yogya yang membuat saya bersemangat untuk membangun FLP Bekasi supaya lebih baik,…semua muslimah itu tak kalah hebatnya dengan M. Irfan Hidayatullah (sang Ketua Umum FLP terpilih), Haikal Hira Habibillah (yang selalu ‘berjasa’ membuat sidang berjalan efektif dengan ide-idenya), Bahtiar HS (sang Pemimpin Sidang),…mereka semua sungguh membuat saya mengembangkan sayap cinta pada FLP ini lebih lebar lagi.

Saya, dan pastinya juga mbak Rahma, tidak akan pernah melupakan pengalaman ini. Begadang hingga jam 3 pagi demi menyelesaikan pembahasan Anggaran Dasar FLP, konsolidasi dengan FLP DKI hingga larut malam, capek sampai hampir tertidur di ruang sidang sebab acara dimulai sekitar pukul 7 pagi, dan sekamar dengan dua orang yang pasti tidak bisa kami lupakan!

Apalagi? Selain cinta yang kian membekas di hati saya. Seperti Dirman dari FLP NTB, yang datang jauh-jauh naik bus selama 3 HARI dan sampai di tempat sekitar pukul 21.30 WIB hari Sabtu (26/02). Seperti mbak Nesia dari FLP Jepang, yang kebetulan sedang di Indonesia, yang terbang dari Jakarta pagi-pagi sekali hari Ahad dan pulang kembali siangnya. Seperti panitia acara dari FLP Yogya yang telah menjamu peserta dengan baiknya (sampai saya heran, sebab fasilitas demikian lengkap dan kamar-kamar yang nyaman itu tak mengisyaratkan bahwa mereka kekurangan dana). Seperti mbak HTR dan mbak Asma yang resah mereka begitu terlihat, sebab bisa dikatakan Munas kemarin adalah salah satu titik penentuan langkah panjang forum tercinta ini ke depan nanti.

Apalagi? Saya jatuh cinta, dan berusaha untuk selalu merawatnya. Saya telah tercebur dan menceburkan diri di dalamnya untuk mendapatkan dan memberikan jumlah tak terhitung dari setiap denyut rasa, pikir, dan hasrat saya untuk Forum Lingkar Pena.

By Vita
Maret 2005

Thursday, February 17, 2005

[ARTIKEL] Lewat dia, saya belajar[1]

Dulu

Saya mengenal dekat, seorang anak perempuan waktu kecil dulu. Usianya sekitar tujuh tahun, dan tidak seperti teman-teman saya umumnya, yang terkenal karena hal-hal lain, sahabat saya ini justru terkenal karena penyakitan. Sungguh ia adalah gudang cukup banyak penyakit; jantung, paru-paru, gegar otak, lalu tumor. Rasanya tidak ada yang beres dalam dirinya, bahkan giginya pun bermasalah, karena tumbuh terlalu banyak dan menyimpang, hingga harus dikawat selama dua tahun, dan dicabut 14 akar.

Anehnya, anak ini tumbuh menjadi pribadi yang supel dan periang. Ia suka menyanyi, dan mulai mencipta lagu di kelas satu SD. Biarpun penyakitan, prestasi belajarnya tinggi, bahkan lebih baik dari pada sebelum kepalanya terbentur.

Sampai sekarang, saya sering menyelami hati anak tsb, heran kenapa dia tidak tumbuh menjadi anak pemurung disebabkan penyakit-penyakitnya yang seabrek tadi. Dari kelas 2 SD sd kelas 3 SMU, sahabat saya ini selalu meraih ranking pertama dan menyabet banyak medali dari sekolah. Orang tuanya tentu sangat bangga. Belakangan ia melanjutkan studi di IPB tanpa tes, alias masuk jalur PMDK waktu itu. Padahal semasa sekolah persemester ia bisa ijin sakit hingga 17 hari, dan tak jarang pingsan.

1992

Belakangan teman saya tsb, mulai rajin menulis. Kegagalan pertama dia dalam kehidupan menurut saya adalah ketika ia terpaksa memenuhi permintaan orang tuanya untuk pindah kuliah, ke jurusan yang lebih ringan, karena kondisi kesehatannya yang makin payah. Dari kabar yang saya dengar, teman tsb mengambil jurusan D2 Bahasa Arab. Ia makin rajin menulis. Teman-teman kuliahnya dulu gembira melihat tulisannya tersebar di media-media. Ia banyak menggoda mereka dengan mencomot nama-nama teman dekat dan satu kos dulu. Nama-nama yang sempat konflik dijadikan tokoh antagonis dalam cerita. Saya meski gembira, tidak bisa menahan diri untuk bertanya, bagaimana ia bisa mulai dekat dengan dunia menulis? Pada saya ia katakan, mungkin karena dunia membaca yang lekat ditumbuhkan ibunya. Setiap menunggu di rumah sakit, ibu sering memilih puasa hanya untuk bisa membelikan beberapa buku dan makan siang bagi teman saya tsb, yang menunggu berjam-jam sebelum dipanggil Memang teman saya tsb hanya berobat di
rumah sakit pemerintah, RSCM yang dulu sering diplesetkan menjadi Rumah Sakit Cepat Mati.

2000 - 2003

Setelah sempat vakum beberapa tahun, dan hanya menulis sedikit cerpen dan cerita bersambung, tahun 2000 untuk pertama kalinya buku fiksi pertamanya diterbitkan oleh sebuah penerbit di Bandung. Seri remaja yang lucu dan gaul, Aisyah Putri, yang menceritakan tentang seorang anak SMU yang alim, bernama Aisyah, yang mempunyai 4 orang abang dengan karakter-karakter yang unik.

Dia bilang itu kerinduannya akan sosok abang yang tak ia miliki satupun. Lewat seri remaja yang sekarang telah terbit hingga serial ke empat, dan mendapat sambutan luas, hingga mengalami cetak ulang berkali-kali itu, ia menghidupkan dunia imajinasi-nya sendiri, dimana ia memiliki kehangatan kasih sayang tidak hanya dari satu, tapi empat abang sekaligus. Dus mencoba membaca konflik-konflik yang umum terjadi pada usia-usia transisi itu.

"Sastra seharusnya menghaluskan budi pekerti, sebagaimana dikatakan orang, tapi sastrawan kita tak banyak melirik dunia remaja. Padahal dunia anak-anak muda itulah yang justru paling rawan dan membutuhkan banyak perhatian, dan pelajaran kehidupan. Di satu sisi banyak sastrawan kita yang hidup di awang-awang dan menara gading, merasa bangga dengan membuat karya-karya yang sulit dicerna."

Begitu katanya suatu hari pada saya atas jalur menulis yang dipilihnya.

Setelah itu, 9 buku fiksi remaja lain, terbit tahun 2000, dua diantaranya berupa novel.

Tahun 2001, ia menulis tiga buku. Salah satu bukunya, Rembulan di Mata Ibu, dinobatkan sebagai buku remaja terbaik nasional, dan ia mendapat predikat pengarang terbaik kedua. Tahun berikutnya ia menulis lebih empat buku yang diterbitkan berbagai penerbit, dan kembali meraih predikat sebagai salah satu pengarang terbaik adikarya ikapi.

Ia diundang menghadiri Pertemuan Sastrawan Nusantara di Brunei, dan workshop kepenulsan Novel, yang diadakan Majelis sastra Asia Tenggara (2001)

Tahun 2003 sampai saat ini ia menulis empat buku, salah satunya diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, dan mengalami cetak ulang, tidak sampai sebulan sejak diterbitkan.

Sekarang

Saya bertanya kenapa ia begitu rajin menulis dan prolifik, padahal aktivitasnya sebagai ibu dari dua orang anak, dan yayasan sosial yang dipimpinnya cukup menyita waktu.

Dengan begitu sungguh-sungguh, ia menjawab:

"Saya adalah penulis, yang menulis, bukan karena yakin saya berbakat di dunia kepenulisan melainkan karena rasa tanggung jawab yang ditumbuhkan kakak saya yang juga seorang pengarang. Dulu di waktu menulis hanya menjadi hobi dan bukan profesi, kakak tsb mengingatkan saya untuk merasa bertanggungjawab, atas begitu sedikitnya

pengarang perempuan di indonesia, dan lebih sedikit lagi yang menulis dengan tujuan mencerahkan, atau meluruskan distorsi informasi yang terjadi."

Hal ini menurutnya telah membuatnya lebih tahan menghadapi kendala- kendala dalam menulis, tidak tergantung pada mood, dan belakangan bisa menulis dalam berbagai situasi. Jelas berbeda jika ia menulis untuk popularitas atau uang belaka. Tanggung jawab itu membuatnya menjadikan menulis sebagai media berjuang (Merah di Jenin---ketika Israel membantai pengungsi Palestina di camp pengungsi Jenin, Meminang Bidadari--- menyoroti fenomena bom syahid di palestina, dan meluruskan siapa yang sebetulnya lebih layak dianggap agressor, Derai Sunyi--- upaya mengangkat kasus pelecehan dan penganiayaan PRT yang sering terjadi, dan tanpa standar hukum yang jelas, Air Mata Biereuen---konflik Aceh yang harusnya lebih dilihat sebagai sebuah tragedi kemanusiaan, ketimbang meributkan siapa yang salah dan siapa yang benar).

Sambil menatap mata saya lurus-lurus, teman tsb kembali melanjutkan,

"Saya adalah penulis yang menulis dengan rasa dan intuisi, dibandingkan

teori-teori sastra yang memang awalnya sama sekali tidak saya miliki."

Ini telah membantu teman saya tsb untuk tidak terbebani, dan terjebak dalam dikotomi-dikotomi sastra yang berlangsung, tentang sastra populer dan serius. Bahwa yang terpenting bagi penulis adalah menghasilkan karya yang baik.

"Saya adalah penulis, yang hingga detik ini masih sering harus mensugesti diri, dan pura-pura percaya bahwa saya bisa menulis."

Saya heran mendengar kalimatnya. Tidak pede bagi sebagian orang, merupakan perasaan yang mengganggu proses berkarya. Itu betul. Tapi di satu sisi, perasaan ini justru membuat teman saya tsb tetap berpijak di bumi dan tidak cepat besar kepala, atas prestasi yang sempat diraihnya, yang memang menurutnya belum apa- apa.

Perasaan tidak pede itu membuat teman saya tsb masih rajin membaca karya-karya yang ramai dibicarakan atau direkomendasikan orang.

Perasaan minder itu juga yang membuatnya tidak berhenti berproses, dan belajar menajamkan observasi yang sebelumnya hanya lewat studi pustaka dan klipping atau internet (Jendela Rara---kerinduan gadis kecil di kolong jembatan untuk memiliki jendela, yang menjaring matahari)

Maka, setiap kali perasaan gamang dan malas menulis, melingkupi hati saya, saya bercermin kepada sahabat saya tsb, dan perkataan yang ia ucapkan dengan penuh semangat,

"Kalau saya bisa menjadi penulis, padahal dulunya penyakitan, miskin, bukan S1, tidak memiliki background pendidikan apappun dalam dunia kepenulisan, bahkan yang sekarang masih berjuang untuk percaya diri.

Kalau saya bisa, anda pasti jauh lebih bisa!"


[1] Disampaikan oleh Asma Nadia dalam seminar nasional sastra, UPI Bandung 13 Oktober 2003

[INFO] Milad Ke-8 Forum Lingkar Pena

Siaran Pers

Assalaamu'alaikum dan salam sejahtera,

Forum Lingkar Pena (FLP) adalah sebuah organisasi kepenulisan yang berdiri sejak tahun 1997. Setelah hampir delapan tahun berdiri—organisasi yang peduli pada kelahiran penulis baru tersebut, telah beranggotakan sekitar 5000 orang yang berasal dari 100 kota di seluruh Indonesia dan mancanegara, menerbitkan sekitar 400 buku, serta bekerja sama dengan lebih dari 20 penerbit di Indonesia.

Selain aktif melakukan kampanye gemar membaca dan menulis dari kota sampai pelosok desa dan hutan, di kalangan pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, karyawan, petani hingga buruh pabrik, dengan segala keterbatasannya, FLP mendirikan “Rumah Cahaya” (Rumah baCA dan HAsilkan karYA) di beberapa tempat di Indonesia. Di Rumah Cahaya para anak dan remaja, khususnya kalangan dhuafa, mendapat bimbingan untuk menulis secara gratis. FLP juga rutin mengadakan berbagai diskusi dan pelatihan penulisan, mengadakan sayembara mengarang dan memberikan penghargaan atas karya terbaik yang dihasilkan. Di beberapa daerah juga sudah dibuka FLP Kids (FLP untuk anak di bawah 12 th). Menariknya teman-teman FLP yang telah menjadi penulis, dengan tulus dan tanpa takut merasa tersaingi, turut ambil bagian dalam membidani kelahiran penulis baru di daerahnya.

FLP sangat unik. Unik karena hampir semua anggotanya adalah relawan yang sering mengisi berbagai acara dengan merogoh kocek sendiri. Mereka bersemangat meski bergerak dengan keterbatasan dana. Kepengurusan dan kegiatan FLP di berbagai daerah (juga luar negeri!) bahkan sering berjalan tanpa sekretariat tetap, melainkan menumpang pada rumah kontrakan seorang kawan. Bila ada musibah terhadap anggota FLP atau musibah nasional seperti tsunami Aceh lalu, para anggota FLP keroyokan “menyumbang dengan cerpen” hingga terbit buku-buku “antologi kasih” yang dibayar di muka oleh para penerbit dan seluruhnya disumbangkan bagi mereka yang kesusahan tersebut.

Kini dalam rangka memperingati hari jadi Forum Lingkar Pena (FLP) ke-8, FLP akan mengadakan rangkaian acara Milad dengan mengambil tema: “Sastra Untuk Semua”, 25-27 Februari mendatang, di Yogyakarta.

Berikut Susunan acara milad FLP:

Jum’at, 25 Februari 2005
Tempat: Balai Shinta Mandala Bakti Wanitatama, Jl. Adisucipto, Yogyakarta.

09.00-17.00
Pameran Buku dan Kegiatan FLP (FLP Expo)

09.00-11.15
Parade Penulis FLP dan Peluncuran Buku Matahari Tak Pernah Sendiri,
bersama: Asma Nadia, Izzatul Jannah, Sakti Wibowo, Sinta Yudisia,
Koesmarwanti, Gola Gong, Fahri Asiza, Afifah Afra, Agustrijanto,
Habiburrahman El-Shirazy, Abdurahman Faiz, Galang Lufityanto, Pipiet
Senja, Ali Muakhir, Boim Lebon, Azimah Rahayu, Zaenal Radar T., Ipal, M.
Irfan Hidayatullah, Jazimah Al Muhyi, Melvi Yendra, Erna, Tary, Benny
Ramdani, Cut Januarita, Rahmadiyanti, Bahtiar HS, Yus R. Ismail, Femmy
Syahrani, Koko Nata Kusuma, Asa Mulchias, Muthi Masfu'ah, Caca,
Adzimattinur Siregar, Muttaqwiati, Aswi, Leyla Imtichanah, Azzura
Dayana, Ekky Al Malaky, Lusiana M. Hevita, Hikaru, Vani Diana P., Ganjar
Widhi Yoga, Nostalgiawan, Hanafi, Nurul F. Huda, dan masih banyak lagi.



13.00-15.00
“FLP dan Dunia Kepenulisan di Indonesia”, bersama: Jamal D. Rahman, Hernowo, dan Helvy Tiana Rosa

15.30-16.30
Anugerah Pena, diberikan bagi anggota FLP untuk kategori:
a. Novel Terpuji
b. Novel Remaja Terpuji
c. Kumpulan Cerpen Terpuji
d. Kumpulan Cerpen Remaja Terpuji
e. Buku Non Fiksi Terpuji
f. Kaver Buku Terpuji
g. Penulis Pendatang Baru Terpuji
h. FLP Wilayah Terpuji

Anugerah Pena diberikan pula bagi karya dan tokoh luar FLP, yaitu untuk kategori:
a. Tokoh Sastra Indonesia Terpuji
b. Buku Fiksi Indonesia Terpuji

Pengumuman Lomba Menulis FLP Tingkat Nasional, yang terdiri dari Lomba Menulis Cerpen, Lomba Menulis Novel, dan Lomba Menulis Artikel

Penggalangan sumbangan buku dari masyarakat dalam rangka “Seribu Buku Untuk Aceh”

Sabtu-Ahad, 26-27 Februari 2005
Tempat: Hotel Kana, Kaliurang, Yogyakarta

Musyawarah Nasional FLP I yang khusus diikuti oleh perwakilan FLP wilayah seluruh Indonesia dan luar negeri

Salam,
Panitia Milad ke-8 FLP
CP: Rahmadiyanti: 0813 1035 6155
Azimah: 0812 904 1504

Tuesday, January 18, 2005

[TIPS] dari Fahri Asiza 2

Teman-teman yang baik,
ada sedikit tambahan lagi yang rasanya perlu saya sampaikan di sini sebagai tambahan dari beberapa catatan cerpen sebelumnya. Beberapa waktu lalu, kita pernah mendiskusikan tentang dialog dari catatan kecil atau bahasan yang saya berikan. Nah, baiknya kita singgung sedikit lagi ya.

Cerpen-cerpen dari penulis yang baru melangkah (sungguh, saya sangat bangga dengan semangat kalian dan yakin tak lama lagi kalian akan menjadi penulis yang hebat), masih banyaknya dialog yang mengambang (tidak jelas maksudnya), dialog yang tidak nyambung antara dialog yang satu dengan dialog yang lain, lalu dialog yang mencoba menguatkan cerita tetapi sebenarnya bisa dilakukan dengan narasi hanya satu atau dua baris.

Ini sangat disayangkan, karena cerita yang akan kita buat terkesan longgar, tidak utuh dan kuat. Dialog-dialog yang tidak ada makna (kadang suka lari dari masalah yang dibicarakan), sebaiknya dibuang dan diperketat lagi.

Caranya? Mudah sekali

1. Kuatkan dulu, point apa yang hendak diutarakan, sehingga dialog tidak "lari" dari point tsb.
2. Dialog singkat saja, tidak usah bertele-tele untuk menyampaikan maksud tertentu. Bila memang point lain yang akan disinggung pada bagian cerita berikutnya, itu baru bisa.
3. Perhatikan pula, apakah perlu mengungkapkan satu point dengan dialog? Padahal bisa dilakukan dengan narasi yang singkat.
4. Dialog pun harus mempertimbangkan siapa yang akan mengucapkannya, ini berkaitan dengan karakter tokoh yang kita ciptakan. Hingga tidak terkesan seragam. Karena dari dialog-dialog itu sebenarnya karakter pun telah terbangun.

Cukup mudah, kan? Insya Allah ini cukup membantu. Dan jangan pernah patah semangat. Karena semua pasti memakai proses. Itu juga bukan berarti karya-karya yang teman-teman buat jelek, tidak, sama sekali tidak. Hanya sedikit perlu dipoles saja. Karena rangkaiannya sudah cukup. Saya yakin, saat ini kalian baru mulai melangkah, tapi tak lama lagi, kalian sudah meninggalkan garis start cukup jauh.

Ayo, terus semarakkan dunia FLP dengan karya-karya yang asyik dan bermutu.

Tetap semangat!
salam,
fa

Thursday, January 13, 2005

[TIPS] dari Fahri Asiza

Teman-teman yang baik,

Sungguh asyik dan bangga rasanya menyimak begitu banyaknya penulis-penulis generasi FLP yang bermunculan. Sungguh, ada perasaan terharu pula di hati saya. Kalian punya semangat "tempur" yang hebat. Ya, karena kalian semua adalah penerus dari FLP.

Sekadar untuk berbagi, ada beberapa catatan yang rasanya perlu saya sampaikan di sini. Catatan ini saya berikan, bukan saya merasa lebih pintar dari kalian semua. Tetapi saya hanya sekadar mencoba memberikan gambaran saja.

1. Buatlah tema-tema yang sederhana saja, tidak usah tema yang besar atau bombastis. Karena dikhawatirkan, kita tidak akan kuat memikulnya. tema yang besar, kadang akan "menjerumuskan" kita pada cerpen itu sendiri. Sebagai rekomendasi saya, bacalah karya Asma Nadia. Sis yang satu ini, selalu memberikan tema-tema yang sederhana, tetapi menggarapnya dengan rangkaian yang utuh
2. Karakter, dari beberapa cerpen yang saya baca, karakter tokoh masih banyak belum memiliki bentuk yang utuh. Sebaiknya, mulailah untuk mempelajari dan mengedepankan karakter tokoh yang hendak buat. Karena tema yang bagus dan indah, bila karakter tokohnya tidak kuat, sangat sayang sekali. Sebagai rekomendasi saya, bacalah karya Gola Gong. Akang yang satu ini, sangat kuat dalam memposisikan atau mempermainkan karakter tokohnya.
3. Logika cerita, kadang logika cerita selalu lepas. Mungkin karena terlalu asyik dengan tema, hingga melupakan bagian yang satu ini. Logika cerita sangat penting, agar pembaca bisa masuk ke dalamnya. Sebagai rekomendasi saya, bacalah karya Teh Pipiet Senja. Teteh saya yang satu ini, selalu pandai mempermainkan cerita dengan logika yang sejalan.

Hal lain yang perlu saya utarakan juga, tentang diksi dan narasi. Rata-rata sudah memiliki kemampuan yang cukup, hanya tinggal sedikit dipoles. Untuk mengasahnya, banyak-banyaklah membaca karya-karya para penulis FLP, baik yang sudah melangkah duluan atau yang baru mulai melangkah. Tidak ada perbedaan dalam hal ini, karena dalam keluarga besar FLP yang bersahaja, kita akan selalu tetap saling berbagi. Karena, saya sendiri juga masih belajar.

Tetap semangat
salam,
fa

[diambil dari milis FLP Pusat]

Monday, January 10, 2005

[RESENSI] Menulis sebagai Pengobatan Alternatif (2)

Pada bagian kedua buku ini penulis membahas tentang metode-metode tertentu yang dapat membantu mempermudah penulis pemula untuk memulai sebuah karya penulisan, karena tiga bab yang terdapat pada bagian kedua ini intinya ingin memberikan tips-tips agar para penulis pemula mampu menuangkan karyanya dalam sebuah bentuk tulisan berdasarkan metode penulisan yang sudah dikenal dan mudah mempraktekkannya.

Dalam bagian ini juga para penulis pemula dapat memilih cara yang efektif dan cara yang paling mudah yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, walaupun semua metode itu pada intinya ialah ingin membangkitkan potensi yang ada dalam diri masing-masing orang dengan menggunakan metode-metode tersebut agar ide yang ada pada penulis pemula dapat dituangkan ke dalam sebuah tulisan, dengan mengolah ide-ide yang telah dimilikinya menjadi sebuah naskah tertentu yang dapat dibaca dan dipahami oleh orang lain.

Dengan susunan kata yang renyah dan dalam tutur kata yang enak dibaca, buku Hernowo ini dapat menjadi obat perangsang bagi orang yang belum pernah membuat tulisan atau para penulis pemula untuk memotivasi dirinya sendiri sehingga dapat mengeluarkan energi yang terpendam di dalam diri setiap orang yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya (ini yang terjadi pada diri penulis sendiri yang tiba-tiba mampu mengeluarkan segala macam ide ke dalam sebuah tulisan).

Secara keseluruhan buku ini sangat menarik untuk dibaca, karena uraiannya sangat mudah dimengerti oleh siapapun. Hal tersebut membuat pembaca buku ini tidak mudah lelah ketika membacanya. disertai kutipan-kutipan yang merangsang energi para penulis pemula untuk memulai hari-hari barunya dengan menulis sesuatu, dengan ide apapun yang ada di pikirannya.

Hanya saja kelemahan buku ini, menurut penulis (yang tergolong penulis pemula), terletak pada sangat minimnya kutipan atau contoh-contoh tulisan ringan baik fiksi maupun non fiksi yang mungkin dapat ditiru penokohan atau latar belakang penulisannya oleh para penulis pemula lainya yang akan memulai usaha menulis. Padahal pada halaman 96 buku ini, Hernowo sangat menekankan sekali memulai kegiatan menulis dengan meniru atau mencontoh tulisan serta karangan orang lain sebagai perangsang awal tumbuhnya minat menulis ini. Karena berdasarkan pengalaman beberapa penulis, dengan adanya tulisan pertama yang dibuat oleh sang penulis pemula, yang diilhami oleh contoh-contoh tulisan yang ada akan makin membuat rangsangan-rangsangan lain baginya demi melahirkan tulisan kedua, ketiga dan selanjutnya.

Semoga saja hadirnya Buku Quantum Writing dapat lebih merangsang masyarakat Indonesia untuk lebih mencintai buku, yang kemudian dari insan-insan yang mencintai buku tersebut dapat menelurkan karya-karya berupa naskah tulisan baru yang berguna bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia di masa yang akan datang untuk mengejar ketinggalannya dari bangsa-bangsa lain.

*Dwinu Panduprakarsa*